Kamis, 20 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Klaten

KWT Desa Wunut Kembangkan Olahan Produk Ikan Tawar

20 November 2018, 18: 54: 57 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Pelatihan KWT di Desa Wunut, Kecamatan Tulung terkait pengolahan produk ikan air tawar.

Pelatihan KWT di Desa Wunut, Kecamatan Tulung terkait pengolahan produk ikan air tawar. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Desa Wunut, Kecamatan Tulung dikenal dengan potensi budidaya ikan tawar yang melimpah. Terlebih lagi selama ini menjadi salah satu desa tujuan wisata pemancingan di Klaten. Produksi ikan di Desa Wunut sendiri rata-rata mencapai 60 ton per bulan yang terdiri dari lele dan nila.

Produksi ikan yang cukup tinggi tetapi tidak diimbangi dengan pengolahan guna menambah nilai ekonomis. Padahal diperlukan integrasi potensi ikan air tawar dengan sumber daya manusia (SDM) sangat diperlukan untuk menunjang minawisata di Desa Wunut. Maka itu diperlukan peningkatan ketrampilan dalam pengolahan dan pemasaran produk hasil ikan air tawar tersebut.

Potensi ini lantas ditangkap tim pengabdian kepada masyarakat dari Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Melakukan pelatihan pengolahan produk ikan tawar kepada kelompok wanita tani (KWT). Terdiri dari KWT Dahlia dan Melati yang masing-masing kelompok beranggotaka 25 orang dengan membuat bakso lele.

"Tentunya kami sangat mendukung dengan pelatihan pengolahan produk ikan air tawar ini. Apalagi sejalan dengan program Desa Wunut dalam upaya menjadikan daerah kami sebagai desa wisata air," jelas Kepala Desa Wunut, Iwan Sulistiyo Setiawan kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (20/11).

Pada pelatihan itu, tim pengabdian dari UNS juga memberikan pelatihan mengenai cara produksi pangan olahan yang baik hingga teknik pengemasan vakum. Diharapkan anggota KWT di Desa Wunut dapat melakukan produksi bakso lele secara mandiri. Termasuk memasarkannya ke konsumen sehingga bisa menjadi oleh-oleh khas Desa Wunut.

"Pada 2017 melalui BUMDes Wunut telah membangun tempat wisata Umbul Pelem melalui dana desa yang beroperasi sejak Mei 2018. Maka itu guna menunjang kepariwisataan, para anggota KWT yang sudah mendapatkan pelatihan bisa menjual produknya di Umbel Pelem berupa bakso dan nugget ikan," bebernya.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia