Minggu, 24 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Ini Resep Gadis Sragen Menangi Penghargaan Mbak Jateng 2018

23 November 2018, 07: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Arfemisantya Yoana Ramadhani, Mbak Jateng 2018

Arfemisantya Yoana Ramadhani, Mbak Jateng 2018 (DOK.PRIBADI)

BARU sepekan Arfemisantya Yoana Ramadhani menyandang predikat Mbak Jateng 2018. Perjuangan gadis asal Kabupaten Sragen ini tidaklah mudah. Banyak hal yang harus dia korbankan.

Senyum manis dan tatapan hangat menghiasi wajah Arfemisantya Yoana Ramadhani. Femy, begitu dia disapa. Selempang emas bertuliskan Mbak Jawa Tengah 2018 kini menjadi miliknya. Gelar yang baru didapatkannya pada Kamis (15/11) lalu dalam ajang Grand Final Pemilihan Mas Mbak Jawa Tengah 2018 di Pekalongan. Dia menyingkirkan 34 perwakilan dari seluruh kabupaten dan kota di Jateng.

“Sampai sekarang rasanya masih tidak percaya, seperti mimpi. Karena saya di sana paling kecil,” ujar Duta Wisata Sukowati 2018 ini.

Ya, menjadi Mbak Jateng memang seperti mimpi. Bagaimana tidak, Femy adalah peserta dengan usia paling muda, yakni 17 tahun. Tak hanya itu, lawan yang dihadapinya bukanlah orang-orang biasa. Dalam daftar riwayat pribadi peserta, ada finalis Mbak Jateng yang memiliki pengalaman lomba paduan suara tingkat internasional, ada pula penari yang berprestasi di tingkat nasional serta beberapa finalis yang memiliki latar belakang pendidikan dari perguruan tinggi terkemuka.

“Lha saya ini siapa? Pasti minder. Tetapi bisa saya atasi dengan menambah kepercayaan diri. Kata kuncinya adalah be your self, enjoy the moment and pray to God. Saya nggak mikir itu seperti kompetisi, tetapi lebih menampilkan apa yang kita miliki,” kata gadis kelahiran Sragen 22 Desember 2000.

Untuk mengontrol rasa mindernya, dia banyak belajar dari hobi memanah yang selama ini digeluti. Peraih Juara 2 Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) 2016 cabang Panahan ini mengaku memiliki daya konsentrasi yang kuat. Selain itu kekuatan mentalnya juga terasah dari hobi yang sudah dijalani hampir tiga tahun itu.

“Panahan itu bukan hanya mengandalkan fisik semata tetapi juga mental. Bagaimana konsentrasi, fokus, dan menguasai medan. Barulah fisik nomor dua, yakni kekuatan menahan busur dan membaca arah angin. Dari panahan itu saya juga belajar percaya diri,” papar peraih tiga medali dalam Pekan Olahraga Kabupaten Sragen 2016 ini.

Kepercayaan diri itu benar-benar menjadi modal. Seluruh potensi yang dimiliki dimaksimalkan. Petuah dan bekal yang diberikan oleh pendamping selama masa persiapan selalu diperhatikan. Latihan pada masa persiapan dianggapnya sebagai momen yang paling berat.

Mahasiswa semester pertama Program Studi Demografi dan Pencatatan Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) ini harus membagi waktu. Pagi hingga sore kuliah, malam dia pembinaan. Setiap hari selama empat bulan. Tak hanya capek, Femy juga sempat mengalami cedera kaki saat berlatih menari untuk maju apresiasi seni.

“Kaki saya bengkak karena jatuh saat latihan menari. Itu H-7 maju ke Jateng. Sehari (setelah jatuh) tidak bisa jalan, sampai pas grand final masih sakit tapi tetap saya tahan. Apalagi pakai (sepatu) heels,” katanya.

Pengorbanan itu akhirnya berbuah manis. Dia bisa menunjukkan pada seluruh orang bahwa gadis kecil asal Bumi Sukowati mampu berbicara di tingkat propinsi. Lebih bangga lagi karena Femy adalah Duta Wisata Sukowati pertama yang mampu membawa gelas Mbak Jateng. Sebelumnya, Kabupaten Sragen hanya mampu bertengger di tiga besar di ajang Mas Mbak Jateng.

“Ke depan saya ingin mempromosikan Jawa Tengah agar dunia mengetahui bahwa Jawa Tengah memiliki banyak tempat wisata yang menarik. Selain itu juga akan merubah stigma bahwa Jateng dekat dengan terorisme,” katanya.

Setahun ke depan anak pertama dari dua bersaudara ini akan mempersiapkan diri untuk maju ke pemilihan Duta Wisata Indonesia. Rencananya ajang tersebut akan diadakan November 2019. Dia juga membidik kontes kecantikan Puteri Indonesia. (irw/bun)

(rs/irw/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia