Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

TAB Beri Santunan ke Guru SD-nya

25 November 2018, 01: 32: 41 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

TAB saat mengunjungi rumah Hartini, guru sewaktu TAB belajar di SDN 1 Gemolong.

TAB saat mengunjungi rumah Hartini, guru sewaktu TAB belajar di SDN 1 Gemolong. (DOK.PRIBADI)

Share this      

SRAGEN - Hari ini merupakan peringatan Hari Guru. Bagi Tri Agus Bayuseno, momentum peringatan hari guru menjadi ajang silaturahmi dengan guru sewaktu duduk di bangku SD.

Dia datang ke rumah Hartini, salah seorang guru SD yang sekarang tinggal di Jogja, bersama keluarga. Kunjungan pria yang akrab disapa TAB ini berawal saat mendengar nasib Hartini setelah pensiun.

Masih harus bantng tulang. Apalagi saat ini dia juga membutuhkan uang untuk biaya berobat anaknya. Sehingga dia harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Apalagi saya dengar beliau (Hartini) sampai harus merantau ke Jakarta. Kondisi ini membuat saya yang pernah jadi muridnya prihatin. Maka saya ke sini untuk  memberikan perhatian. Maka hari ini, saya mengunjungi guru saya waktu di SDN 1 Gemolong," ujar pria yang kini maju sebagai Caleg nomor urut  1 Dapil I Jawa Tengah dari Hanura ini.

Peringatan  Hari Guru menjadi waktu  yang tepat bagi TAB untuk menunjukan perhatian kepada Hartini yang sudah pensiun tahun 2011 lalu. Guru yang seharusnya tinggal menikmati masa pensiun dengan bercengkrama bersama keluarga ternyata masih harus bekerja keras.

“Banyak ilmu, nasehat  berharga yang saya dapat dari bu Hartini sewaktu duduk dibangku SD. Hingga akhirnya saya bisa sukses seperti sekarang, ini semua karena jasa dari guru-guru saya, termasuk bu Hartini. Bagi saya tidak ada istilah mantan guru, mereka akan tetap menjadi guru di sepanjang hidup saya,” ungkap TAB. 

Adanya momentum peringatan Hari Guru saat ini, dia berharap kesejahteraan guru semakin meningkat. Karena guru memiliki peran yang sangat penting untuk menciptakan generasi bangsa yang tangguh. Faktor kesejahteraan masih menjadi persoalan yang serius.

“Terutama bagi guru yang statusnya masih wiyata bhakti (WB). Banyak dari mereka yang.penghasilanya belum dapat memenuhi kebutuhan. Sehingga guru setelah mengajar ada yang kerja sampingan sebagai tukang ojek, pedagang sayur,” ungkapnya. (oh)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia