Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Kejar Target Rp 56 T, Gubernur Tour Investasi

27 November 2018, 16: 04: 53 WIB | editor : Perdana

TEROBOSAN: Gubernur Ganjar Pranowo paparkan peluang investasi di Forum Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2018 Jakarta

TEROBOSAN: Gubernur Ganjar Pranowo paparkan peluang investasi di Forum Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2018 Jakarta

Share this      

JAKARTA - Target investasi Jawa Tengah pada 2019 sebesar Rp56 triliun atau meningkat Rp 9 triliun dari target 2018 sebesar Rp 47 triliun. Untuk menggenjot peningkatan itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo telah menyiapkan jurus. Salah satunya tur investasi. 

Realisasi investasi di Jawa Tengah sampai triwulan ketiga 2018 ini tercatat mencapai Rp 41,94 triliun atau 89 persen dari target Rp 47,15 triliun. Realisasi ini naik 26 persen dari periode sama tahun lalu yang hanya Rp 33,02 triliun. Investasi senilai itu, didominasi oleh proyek sektor infrastruktur dan energi.

“Jumlah proyek yang kami tawarkan dan sudah clean and clear ada 63 proyek. Terdiri 36 sektor pariwisata, 8 pertanian, 4 manufaktur, 7 infrastruktur, 1 energi, 7 properti dan 58 aset milik Pemprov Jateng dari BUMN dan BUMD,” kata Ganjar pada acara Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2018 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (26/11).

Selain pengusaha, forum tersebut juga diikuti Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong. Turut mendampingi Gubernur Jateng, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Prasetyo Aribowo.

Ganjar menjelaskan, seluruh proyek investasi tersebut berdasar studi Koridor Ekonomi, Perdagangan, Investasi dan Pariwisata Jateng (Keris Jateng) yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia sampai di tingkat kabupaten/kota se-Jateng. 

Dengan modal kajian tersebut, Ganjar menaikkan besaran target investasi Jateng tahun 2019 sebesar Rp56 triliun. Salah satu strategi yang akan ditempuh untuk mencapai itu adalah tur investasi. 

“Tour investasi ini bisa berkeliling-keliling. Di Kendal ada kawasan industri baru, sekarang orang mulai melirik. Kemarin kita tawarkan ke banyak negara,” katanya. 

Sebagai bahan pertimbangan untuk pengusaha, Pemprov Jateng bakal menyusun buku profil peluang investasi Jawa Tengah. Pada buku tersebut, kata Ganjar bakal disajikan tiga kluster investasi yakni kluster siap ditawarkan, prospektif dan potensial. Ganjar yakin hal itu sangat menarik minat calon investor terlebih didukung dengan kondusivitas dunia usaha di Jawa Tengah. 

“Kemarin ketika penetapan UMK, ada satu dua yang komplain, tapi komplainnya tidak terlalu, artinya kita bisa komunikasi baik-baik. Kita sampaikan dengan baik bahwa kenaikan itu tidak tiba-tiba. Dan tidak perlu dengan keributan yang memang tidak kita inginkan. Saya sampaikan dengan cara itu, kenikmatan dan kesejahteraan bisa kita rasakan kalau kinerja kita baik, kita bisa jadi satu tim yang solid,” katanya. 

Dalam lima tahun terakhir, kondisi investasi di Jawa Tengah cukup memukau kalangan pengusaha dan pemerintah pusat. Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong mengatakan kisaran lima tahun lalu peringkat investasi Jawa Tengah di level nasional hanya menempati peringkat 11 dan sekarang telah naik ke peringkat 4.

“Jawa Tengah yang dulunya selalu tumbuh di bawah ekonomi nasional sekarang pertumbuhannya di atas nasional, 5,25 persen. Karena sektor manufaktur, agribisnis, pariwisata dan ekspor sangat meningkat. Inflasi di Jateng juga rendah, kalau dulu tinggi sekarang jika inflasi nasional 3,2 persen nasional, Jateng hanya 2,79 persen. Ini sangat menarik untuk investasi masuk. Itu bukti ekonomi Jateng itu sangat maju,” katanya. 

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pentingnya sinergitas semua lini untuk memajukan perekonomian. Upaya yang dia lakukan bersama Pemprov Jateng kepemimpinan Ganjar Pranowo selama ini telah terbukti efektif sebagai tameng tidak menentunya kondisi perekonomian global. 

“Kita harus berupaya ekstra untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dari dalam negeri. Sektor pariwisata, investasi utamanya. Kita harus beralih dari ekspor komoditas primer ke manufaktur, dari impor berlatih ke peningkatan produksi dalam negeri,” katanya. (lhr/bay)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia