Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali
Merapi Bergejolak

Warga Aktivitas Biasa, BPBD Siapkan Posko 24 Jam

27 November 2018, 16: 11: 38 WIB | editor : Perdana

TAK TERPENGARUH: Warga di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali, yang masuk kawasan Merapi tetap beraktivitas seperti biasa meski erupsi sedang mengancam.

TAK TERPENGARUH: Warga di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali, yang masuk kawasan Merapi tetap beraktivitas seperti biasa meski erupsi sedang mengancam. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Erupsi magmatik berupa guguran material dari kawah Gunung Merapi pada Jumat malam (23/11), tidak membuat warga di kawasan rawan bencana (KRB) III panik. Hingga kemarin, mereka masih tetap beraktivitas seperti biasa. Meski demikian, mereka tetap siaga bila sewaktu-waktu terjadi letusan lebih besar.

Pantauan koran ini di Dusun Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, kemarin warga tetap bercocok tanam. Daerah ini merupakan daerah paling atas kawasan lereng Merapi di KRB III. Jarak dengan puncak Merapi hanya 3,5 kilometer. 

Warga di sana tetap mengurus tanaman sayuran sebagai pekerjaan setiap harinya. Sebagian lagi mencari rumput untuk pakan ternaknya maupun mencari kayu bakar. Suginu misalnya. Dia masih tenang dan beraktivitas meladang, meski beberapa hari sebelumnya terdengar suara gemuruh Merapi. “Tanda-tanda Merapi akan meletus bukan seperti itu. Suara gemuruh itu sudah biasa terjadi,” katanya.

Liati, warga Dusun Takeran, Desa Tlogolele mengatakan hal senada. Dia yang tinggal di bawah Dusun Stabelan tidak merasa panik. “Warga masih biasa-biasa saja, tetap beraktivitas biasa. Kalau (Merapi) mau meletus ada tanda-tandanya. Salah satunya seperti cahaya kilat,” jelas Lia.

Kepala Desa Tlogolele Widodo juga membenarkan bahwa warganya saat ini masih tenang-tenang saja. Mereka tetap beraktivitas normal seperti biasa. “Masih seperti biasa mas,” katanya.

Sementara itu, Petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi di Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Tri Mujiyanto mengatakan, hari ini belum terpantau adanya aktivitas guguran di puncak Merapi. Menurut dia, sejak Minggu malam hingga kemarin siang, kawasan kawah Merapi tertutup kabut.

“Guguran (lava pijar) pada Jumat malam lalu, masih di dalam kawah, sehingga belum mengarah ke bagian hulu alur sungai di tenggara. Saat ini aktivitas Merapi tetap dalam level dua waspada. Data kegempaan belum ada peningkatan,” terang Tri Mujiyanto.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat yang bermukim di dekat kawasan puncak Merapi untuk tetap waspada dan selalu mengikuti arahan-arahan dari pemerintah daerah setempat.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Bambang Sinungharjo mengatakan bahwa dengan melihat letusan Gunung Merapi pada 2010 silam, pertumbuhan kubah lava ini masih tergolong sangat kecil. Tetapi, pihaknya tetap bersiap jika terdapat kemungkinan lain.

“Jadi kalau kita bandingkan, saat ini masih jauh tidak begitu mengkhawatirkan. Kita tetap mengantisipasi bahwa sesuai instruksi bahwa radius 3,5 kilometer dari KRB tidak boleh dihuni oleh masyarakat,” ungkapnya

Beberapa desa yang masuk KRB III, antara lain Desa Jrakah, Klakah, dan Tlogolele. BPBD telah menyediakan posko Merapi yang siap selama 24 jam setiap hari.

Kesiapan hadapi erupsi juga dilakukan BPBD Klaten. Mereka terus mematangkan berbagai persiapan jika status Merapi naik menjadi siaga. Termasuk akan menggelar latihan gabungan simulasi bencana Merapi dengan melibatkan berbagai pihak. Harapannya ketika terjadi letusan Merapi, warga sudah mengetahui harus bagaimana menyelamatkan diri.

“Untuk levelnya masih waspada tetapi memang sudah ada guguran lava. Warga tidak perlu khawatir dan tetap mengikuti himbauan dari BPPTKG dan BPBD. Sampai saat ini kita belum ada aktivitas yang signifikan. Tetap menunggu arahan dari BPPTKG ketika statusnya naik,” jelas Sekretaris BPBD Klaten, Dodhy Hermanu (wid/ren/bun)

(rs/wid/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia