Kamis, 13 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Features

Kevin Fabiano Abdikan Diri Menjadi Pelatih Para Atlet Disabilitas 

30 November 2018, 16: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Kevin Fabiano Abdikan Diri Menjadi Pelatih Para Atlet Disabilitas 

Menjadi seorang pelatih atlet difabel tak sekadar membimbing. Lebih dari itu, dia harus bisa berperan sebagai sahabat, keluarga, bahkan teman dekat bagi mereka agar tidak ada jarak dalam melayani sang atlet. Selama 24 jam penuh setiap hari, pelatih harus siap sedia memenuhi kebutuhan si atlet istimewa ini. Seperti apa suka dukanya? 

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo

KEVIN Fabiano selama tiga tahun terakhir hampir menghabiskan seluruh waktunya untuk melatih para atlet National Paralympic Committee (NPC). 

“Kalau ditanya soal pengalaman berkesan. Semua atlet yang saya latih selalu memberikan pelajaran berharga bagi hidup saya. Tapi ada beberapa kisah yang tidak terlupakan saat melatih atlet bimbingan saya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Solo mengawali cerita.

Kevin lantas menyebut satu nama atlet sprinter asal Grobogan, Rizal Bagus. Atlet disabilitas tersebut meraih medali perak di ajang Asian Para Games 2018. Rizal adalah salah satu atlet bimbingan Kevin. Melalui Rizal, Kevin melihat secara nyata dan percaya adanya mukjizat Tuhan.

“Rizal itu dulu sempat jadi atlet. Tapi kemudian dia out untuk membantu orang tuanya. Dia kembali ke Grobogan, bekerja mengisi ulang minyak kayu putih dan air galon. Sejak ditinggal ayahnya, hidupnya serba susah. Bahkan ibunya sempat alami gangguan jiwa,” kata Kevin.

Melihat potensi yang dimiliki Rizal, Ketua NPC Indonesia Seny Marbun  memanggilnya kembali menjadi seorang atlet. Kevin pun ditunjuk sebagai pelatihnya. Rizal sempat menolak, lantaran merasa harus menjaga ibunya dan membantu perekonomian keluarganya. Namun, dengan segala iming-iming yang ditawarkan jika dirinya berhasil menjadi juara, Rizal pun mantap comeback menjadi atlet. Tak tanggung-tanggung, medali perak pun berhasil disabetnya.

“Begitu Rizal jadi juara. Ibunya langsung sembuh total setelah melihat Rizal naik podium di televisi. Padahal ibunya tidak pernah konsumsi obat. Cuma lihat Rizal jadi juara. Kok bisa? Engga ngerti. Itu mukjizat. Saya masih merinding kalau ingat kejadian itu,” lanjut Kevin.

Kisah lainnya dirasakan Kevin saat melatih Susan Ungu, seorang atlet tuna netra. Saat berlaga di ajang Asean Para Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia, Susan sempat ngambek tidak mau berlatih. Bahkan Susan melakukan aksi mogok makan selama berada di sana. Alhasil, Kevin lah yang kerepotan mengambil hati Susan agar mau makan dan berlatih.

“Waktu di sana, tower saya dan Susan beda. Entah kenapa kok dibedakan antara pelatih dan pemain. Tiap waktu makan tiba, saya harus bolak-balik ke tower Susan. Antar makanan ke kamarnya. Udah kayak pacarnya saya. Padahal saya sendiri belum makan,” kelakarnya.

Menurut Kevin, memang diperlukan pendekatan personal seperti itu untuk menangani atlet difabel. Bahkan bukan hal yang mengherankan jika pelatih disebut sebagai kekasih para atlet. Nyatanya, Kevin memang menjadi orang terdekat yang harus stand by 24 jam melayani atletnya.

“Susan ngambek nggak mau main sampai hari-H pertandingan. Tinggal beberapa jam lagi main, Susan masih tidak mau main. Takut katanya. Sudah saya bujuk rayu, tetap ngotot nggak mau main. Saya akhirnya diam-diam telepon suaminya untuk membujuk Susan. Setelah itu dia mendadak minta pemanasan. Tapi karena tidak ada waktu lagi, Susan hanya saya olesi gel penghilang rasa nyeri,” kenang Kevin.

Meski tidak sempat berlatih, bahkan pemanasan. Susan mampu membawa pulang medali perak. Terharu bukan main yang dirasakan Kevin. Perjuangannya tidak sia-sia. Sampai sekarang, Kevin masih tidak menyangka bisa ambil bagian dalam kemajuan atlet difabel di Tanah Air. Talenta ini tampaknya menurun dari sang ayah, Tri Budi Santoso. Seorang okupasional terapis di bidang anak dan konsultan anak berkebutuhan khusus.

“Saya itu sebenarnya gila bola. Hobi banget main bola sampai sering cidera. Tapi kemudian ayah memasukkan saya ke klub atletik di Stadion Manahan. Tapi sayang, prestasi saya sebagai sprinter tidak bisa tuntas. Cuma sampai di level Jawa Tengah karena kecelakaan motor yang mengharuskan saya berhenti berlari,” kata pria kelahiran 15 September 1993 ini.

Ternyata, karir Kevin tidak berhenti sampai di situ. Ia diminta oleh pembimbingnya, Slamet Widodo yang juga dosen Program Studi Kepelatihan Olahraga Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Ketua NPC Indonesia Seny Marbun untuk bergabung ikut melatih Tim Atletik NPC.

Pada 2015 dia diminta membantu melatih tim atletik untuk berlaga di event Asean Para Games di Singapura. Selang setahun kemudian diminta NPC Jawa Barat untuk melatih dan berakhir keluar sebagai juara umum Peparnas 2016. 

Pada 2017 dia masih dipercaya dari tim pelatih untuk melatih atlet NPC yang berjuang di event Asean Para Games 2017 di Kuala Lumpur dan tim Indonesia akhirnya keluar sebagai juara umum.

Ada beberapa poin yang Kevin lakukan untuk melatih mereka menjadi atlet yang tidak hanya berprestasi nasional, tetapi juga mampu meraih medali di laga internasional seperti Asian Para Games yang baru saja selesai beberapa waktu lalu. Intinya, melatih dengan hati ikhlas dan gembira. “Harus dengan pendekatan personal yang intensif. Atlet tidak hanya sebagai teman, tapi sudah dianggap seperti keluarga. Dan harus siap mendampingi atlet selama 24 jam,” jelasnya. (aya/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia