Senin, 19 Aug 2019
radarsolo
icon featured
Solo
Mengunjungi Perpustakan Penyimpan Naskah Kuno

Perpustakan Penyimpan Naskah Kuno Rekso Pustoko Pura Mangkunegaran

03 Desember 2018, 11: 17: 31 WIB | editor : Perdana

Perpustakan Penyimpan Naskah Kuno Rekso Pustoko Pura Mangkunegaran

Tidak hanya perpustakaan yang mengoleksi buku atau naskah kuno. Salah satunya adalah Rekso Pustoko, perpustakaan milik Pura Mangkunegaran Solo. Sayang, tingginya biaya perawatan dan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) membuat dokumen bersejarah di perpustakaan yang berusia 151 tahun itu kurang terawat dengan baik. Seperti apa kondisinya?

LANTUNAN gending Jawa terdengar lirih dari Pendapa Agung Pura Mangkunegaran. Sayup-sayup gending gamelan pusaka itu mengantarkan koran ini menuju ke sebuah perpustakaan lawas di kompleks bangunan bersejarah tersebut. 

Di bangunan paling ujug di bagian timur pura, tampak sebuah papan bertuliskan ‘perpustakaan’ yang ditimpali dengan penulisan menggunakan aksara Jawa. Kesan lawas pun terlihat dari berbagai arsitektur bangunan bahkan senyum ramah dari sejumlah petugas perpustakaan yang fasih menggunakan bahasa jawa dalam percakapan sehari-hari di sana. 

Tangga kayu warna cokelat tua mengantar langkah koran ini menuju wajah perpustakaan yang terletak di lantai dua bangunan setempat. Di sinilah belasan ribu koleksi lawas Mangkunegaran disimpan rapi dan siap untuk memuaskan dahaga keilmuan para pengunjung. 

“Rekso yang berarti penjagaan dan pemeliharaan. Sedangkan Pustoko diartikan tulisan, surat-surat dan buku,” ujar Amani Pudjiastuti, petugas pelaksana tugas harian Perpustakaan Mangkunegaran Rekso Pustoko yang ramah menyapa kehadiran koran ini.

Aroma masa lalu pun tercium tajam dari ribuan koleksi yang ditata rapi dari sejumlah rak penyimpanan di sana. Pengunjung bebas memilih buku, naskah, arsip mana saja yang diinginkan untuk dibaca di tempat. Namun ada sejumlah koleksi yang disimpan dalam rak khusus dari kaca. Inilah koleksi-koleksi Mangkunagaran yang konon sudah berusia ratusan tahun lamanya. 

“Rata-rata koleksi di sini buatan 1.800-an. Makanya banyak peneliti atau kalangan akademis yang mampir kemari untuk menengok koleksi kuno di sini,” kata Amani.

Sembari berbincang, koran ini pun menengok sejumlah rak penyimpanan lainnya. Konon, dalam berbagai koleksi lawas tersebut dapat ditemukan beragam makna filisofi para pujangga masa lampau yang tertuang dalam karyanya masing-masing. Alasan itulah yang membuat koran ini makin antusias untuk membuka mata lebar-lebar akan perbendaharaan koleksi yang ada di Rekso Pustoko. 

Namun sangat disayangkan, manuskrip, arsip dan foto-foto kuno di tempat itu justru terkesan kurang perawatan. Semakin memasuki lorong penyimpanan buku dan arsip pengunjung akan dengan mudah menemukan buku-buku yang sampulnya mulai terlepas seperti jajaran buku Rijksblad Mangkunegaran tahun 1918-1939 di ruang penyimpanan arsip. Ketika buku bersampul biru yang memudar ditumpuk debu itu dibuka memunculkan serbuk halus dari buku yang berlubang bekas dimakan kutu buku. 

“Sejak 1867 ruangan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi. Baru di tahun 1877 dialihkan menjadi perpustakaan keluarga keraton. Kemudian dibuka untuk umum sebagai Perpustakaan Rekso Pustoko pada 1976,” papar Amani.

Pada masa itu KGPAA Mangkunegoro IV yang merupakan seorang pujangga merasa perlu untuk membagi pengetahuan kepada masyarakat. Awalnya Rekso Pustoko berada di lantai satu kompleks Pura Mangkunegaran. Namun banjir yang melanda Solo pada 1966 ini menyebabkan banyak koleksi rusak terkena air bercampur lumpur. Hal itu menyebabkan banyak koleksi perpustakaan tak dapat diselamatkan. Oleh karena itu pihak Mangkunaegaran kemudian mengalihkan perpustakaan di lokasinya saat ini. 

“Rekso Pustoko dibagi menjadi tiga ruang untuk memudahkan pengunjung dalam mencari buku. Ruang Utara merupakan area perpustakaan yang paling ramai dengan koleksi naskah kuno dan buku. Di ruang tengah berupa dokumentasi foto, baik foto pribadi maupun foto aktivitas Keraton. Kemudian di ruang selatan khusus digunakan untuk penyimpanan arsip,” terang Amani.

Sejauh ini, pengunjung Rekso Pustoko memang diisi oleh kalangan akademisi dan mahasiswa yang memiliki urusan dalam hal penelitian. Oleh karena itu, Pura Mangkunegaran berinisiatif untuk mengkatalogkan belasan ribu koleksinya agar lebih mudah dalam pencarian. 

“Ketika musim ujian dan skripsi, lorong-lorong di Rekso Pustoko bisa penuh dengan mahasiswa. Sehari bisa sampai 65 orang. Tapi sekarang kami batasi hanya 20 orang yang boleh naik ke perpustakaan, sisanya bergantian. Alasannya karena bangunannya sudah tua dan materialnya semua dari kayu,” kata Amani.

Tidak hanya arsip-arsip lawas dan buku kuno, di sini ada ratusan prasasti masa yang masih tersimpan dengan apik di tempatnya masing-masing. Baik yang ditulis dengan tulisan Jawa kuno, Bali, maupun naskah-naskah dengan aksara Arab gundul khas Melayu. Ada juga koleksi-koleksi dari pemerintah asing seperti pada masa Belanda, Jepang, maupun Inggris yang dikenal dekat dengan Mangkunegaran. Bahkan karangan Pangeran Samber Nyawa alias Pangeran Mangkunagara I juga bisa kita temui di sini. 

“Arsip maupun buku-buku yang tersimpan di sini merupakan koleksi pribadi. Buku-buku dan arsipnya merupakan buku peninggalan Mangkunegara ke-I sampai Mangkunagara ke-VII. Bahkan di ruang utara ada juga buku karangan Mangkunagara I, tetapi memang hanya di pajang saja, takut rusak nantinya,” papar Amani.

Salah satunya adalah buku sejarah Wiwit Nabi Adam Dumugi Ratu-Ratu Tanah Jawi. Buku ini merupakan salah satu manuskrip tertua karangan Pangeran Samber Nyawa yang ditulis pada 1695 Saka atau 1769 Masehi. Oleh sebab itu manuskrip yang satu ini hanya bisa dinikmati melalui kaca etalase.

“Jumlah dokumentasi foto kuno yang terdata mencapai 8.706 foto. Untuk ruang arsip setidaknya terdapat 10.000 arsip dengan 2.000 diantaranya berisi sejarah Mangkunegaran. Untuk koleksi naskah baru mencapai 761 judul yang terdata. Sementara untuk buku kuno masih belum terdata. Jumlahnya sekitar 1000 buku kuno termasuk Rijksblad, Staatblad dan lainnya. Dulu juga ada salinan notulensi sidang BPUPKI yang disimpan Muh.Yamin di sini, namun kemudian diambil oleh arsip nasional pada 1980,” sambung Darweni, petugas alih aksara Rekso Pustoko.

Alasan itulah yang membuat pengelola perpustakaan menerapkan sistem khusus. Maka cukup dapat dimaklumi jika koleksi-koleksi itu hanya bisa dibaca di tempat karena kesan kuno dan ringkih melekat pada ribuan koleksi lawas tersebut.

 Darweni menjelaskan, peminjaman hanya untuk dibaca di tempat dengan teknis dilayani petugas, mengingat buku dan manuskrip yang berusia 200 tahun itu terlihat cukup rapuh dan mulai rusak dimakan di makan usia. 

“Banyak buku kuno, manuskrip, foto kuno dan arsip yang telah rusak. Setidaknya sekitar 50 persen koleksi dalam kondisi rusak. Kondisinya saat ini seperti kertas yang telah rapuh, jilidan buku yang lepas, serta kertas-kertas yang berlubang dimakan kutu. Ditambah lagi kondisi ruangan dan suhu udara yang kurang cocok untuk arsip dan manuskrip kuno,” jelas dia. (mg4/ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia