Jumat, 19 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Solo
Mengunjungi Perpustakan Penyimpan Naskah Kuno

Perawatan Masih ala Kadarnya, Bertahap Mulai Digitalisasi 

03 Desember 2018, 11: 55: 59 WIB | editor : Perdana

Perawatan Masih ala Kadarnya, Bertahap Mulai Digitalisasi 

PERAWATAN naskah kuno berusia ratusan tahun koleksi Rekso Pustoko memerlukan biaya tak sedikit biaya. Dirinya tak menyangkal bahwa perawatan untuk buku-buku berusia sekitar 200 tahun itu terbilang kurang. Besarnya biaya perawatan masih menjadi alasan utama sebagian besar koleksi belum tersentuh perawatan layaknya naskah dan manuskrip kuno di museum-museum atau perpustakaan besar lainnya.

Salah satu perawatan yang masih belum baik adalah fumigasi. Hingga saat ini, perawatan  untuk membunuh biota yang merusak arsip hanya bisa dilakukan setahun sekali untuk satu ruang. Idealnya fumigasi dilakukan dua kali dalam setahun.

Selain fumigasi, untuk menjaga ketahanan kertas agar tidak dimakan ngengat bisa dilakukan dengan melakukan enkapsulasi dan alih media. Biaya enkapsulasi sendiri cukup besar. Satu lembar enkapsulasi dihargai sebesar Rp 20 ribu. Dalam sebulan ekapsulasi bisa dilakukan pada 1.000 lembar manuskrip sehingga biayanya sekitar 20 juta. Karena bahan yang cukup mahal serta harus ditangani profesional maka prosesnya cukup memakan waktu. 

“Masalahnya pembiayaan masih dilakukan secara mandiri. Belum lagi minimnya tenaga ahli di sini dalam perawatan,” ujar Darweni, petugas alih aksara Rekso Pustoko .

Baca juga: Perpustakan Penyimpan Naskah Kuno Rekso Pustoko Pura Mangkunegaran

Biaya untuk perawatan sendiri mengandalkan bantuan Yayasan Suryosumirat dan bantuan dari pihak luar maupun masyarakat. Pihak keraton belum bisa memberikan dana yang cukup untuk bisa merawat arsip kuno dengan baik. 

“Karena kendala dana itu, proses alih media dengan digitalisasi juga belum selesai. Padahal ini sangat membantu agar isi teks dapat diteliti tanpa membuka naskah yang sudah tua itu,” kata Darweni.

Karena perawatan belum standar, sejauh ini pihaknya hanya bisa melakukan perawatan harian dengan lebih detail. Caranya dengan membubuhkan kapur barus serta rajin membersihkan dari debu. Sedikitnya 4 kg kapur barus dihabiskan untuk satu ruangan itu dan wajib selalu diganti selama beberapa hari terakhir. 

“Di sini udaranya terlalu lembab, sehingga jamur dan kutu mudah merusak buku. Karenanya dalam perawatannya kami menggunakan sirio black biar PH nya netral. Kalau pengawetnya kami hanya menggunakan kapur barus saja. Seharusnya dipasang AC, agar suhunya bisa terjaga. Idealnya suhu tetap terjaga pada 18 derajat celsius selama 24 jam,” kata Darweni.

Sekadar informasi, kawasan Keraton Pura Mangkunegaran menjadi salah satu Benda Cagar Budaya sejak 2013 silam. Sesuai dengan Keputusan Wali Kota Surakarta No. 646/1-2/1/2013 tentang Penetapan Bangunan dan Kawasan Kuno Bersejarah di Surakarta. Karena itu ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terutama dalam menjaga keutuhan manuskrip-manuskrip penting tersebut. 

“Budaya membaca arsip dan buku kuno menjadi penting untuk membuka mata generasi baru, bahwa sejarah dahulu yang membawa kita menjadi seperti saat ini. oleh sebab itu kami ingin pemerintah lebih perhatian lagi terhadap manuskrip kuno yang ada di sini,” ujar Darweni. (mg4/ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia