Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Muludan dan Cinta Rasul

04 Desember 2018, 21: 13: 48 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

H. Priyono, Wakil Dekan Fakultas Geografi UMS dan Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Klaten Selatan.

H. Priyono, Wakil Dekan Fakultas Geografi UMS dan Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Klaten Selatan. (DOK.PRIBADI)

RABIUL Awal memiliki arti penting bagi umat Islam. Sebab, pada bulan ini Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Ada beragam cara di masing-masing daerah untuk merayakan hari lahir sang suri tauladan ini.

Di Solo dan Jogja misalnya. Ada Grebeg Maulud. Di Kudus ada Kirab Ampyang. Sementara di Mojokerto masyarakat menggelar tradisi Karesan. Ada pula tradisi Bungo Lado di Padang Pariaman. Lain lagi di Banjarmasin, masyarakat menggelar tradisi Baayun Maulid.

Berbagai tradisi masyarakat dalam merayakan maulid ini merupakan perwujudan euforia masyarakat dalam menyambut lahirnya Rasulullah Muhammad SAW. Tradisi mauled atau dijawa disebut Muludan tidak lebih dari sekadar ekspresi kegembiraan seorang hamba atas nikmat Allah atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW sendiri memperingati hari kelahirannya dengan melaksanakan puasa pada hari itu. Ini terlihat dari jawaban beliau ketika beliau ditanya mengapa beliau melaksanakan puasa pada hari Senin. Beliau menjawab,

Pada hari itu aku dilahirkan dan hari aku dibangkitkan (atau hari itu diturunkan Alquran) kepadaku.” (HR. Muslim).

Sedangkan bagi kaum muslimin, perayaan Maulid Nabi sesungguhnya memiliki multi manfaat. Muludan dapat mengingatkan kaum muslimin tentang kebenaran hakikat sejarah dan risalah Rasulullah SAW. Maka ketika umat merayakan Maulid Nabi, sejatinya mereka tengah merayakan lahirnya risalah Islam.

Dengan demikian, Muludan merupakan momentum tepat untuk mengingatkan umat untuk meneladani Rasulullah SAW. Firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah , (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”

Muludan merupakan sarana bagi kaum muslimin untuk melaksanakan firman Allah di atas, yaitu menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan. Sudah seharusnya kita meniru segala apa yang sudah diajarkan beliau dalam segala aspek kehidupan. Menjalankan sunahnya dan mengikuti setiap ajarannya merupakan bukti cinta kita kepada Rasulullah.

Lebih dari itu, Muludan juga dapat menjadi momentum untuk mengenalkan dan menanamkan kepada anak-anak generasi mendatang untuk mengidolakan dan mencintai Rasulullah dengan meneladani akhlaknya, kegigihan dalam berdakwah, bermuamalah dan ibadahnya.

Mari kita selalu melantunkan salawat kepada beliau agar kelak kita mendapatkan safaatnya di Yaumul Qiyamah. (*)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia