Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali
Pembunuhan Gadis Berhijab

Keluarga Tuntut Hukuman Mati Pelaku

05 Desember 2018, 12: 51: 32 WIB | editor : Perdana

TUNTUT KEADILAN: Keluarga Eka Rahma Aprilianti mendatangi Polres Boyolali kemarin pagi.

TUNTUT KEADILAN: Keluarga Eka Rahma Aprilianti mendatangi Polres Boyolali kemarin pagi. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI— Duka mendalam sangat dirasakan keluarga korban pembunuhan berencana terhadap Eka Rahma Aprilianti, 24. Keluarga dari Dusun Ngadigunung, Desa/Kecamatan Windusari, Kebupaten Magelang mendukung upaya kepolisian menjerat tersangka dengan hukum mati.

Permintaan itu disampaikan saat beberapa orang dari keluarga korban mengambil barang-barang milik korban di Mapolres Boyolali, kemarin siang (4/12). Keluarga kasir toko besi itu menilai perbuatan tersangka itu sangat keji. “Utang nyawa dibayar dengan nyawa,” kata Agus Trimo, 42, sepupu Ifah.

Perbuatan tersangka menghilangkan nyawa saudaranya membuat orang tua mengalami kehilangan dan kesedihan mendalam. Apalagi di mata keluarga, Ifah dikenal sebagai pribadi yang baik.

Almarhumah  yang merupakan lulusan Universitas Sains Alquran (Unsiq) Wonosobo itu semasa hidupnya merupakan sosok penyayang dan supel. Eka juga orang jujur sehingga tidak pernah berprasangka orang akan berbuat jahat terhadapnya. Makanya, lanjut Agus, ketika Eka diajak pergi oleh pelaku untuk membicarakan masalah utang-piutang, diyakin Eka tidak curiga.

“Eka orang baik. Makanya ketika dia meninggal dengan cara dibunuh, kami tidak bisa menerima begitu saja,” imbuh Agus.

Ahmad Abdul Khadik, 22 sepupu lain, meminta tersangka yang merupakan warga Dukuh Waru, Kelurahan Kemiri, Mojosongo itu dihukum mati. “Harus dihukum mati,” ungkapnya.

Yang membuat geram, lanjut Khadik, tersangka sempat menepuk-nepuk pundaknya dan berusaha menenangkan saat dikamar jenazah RSUD Pandan Arang Boyolali, Minggu (2/12). “Ini yang bikin saya tambah geram,” ujarnya,

Pihaknya berjanji akan mengawal proses hukum kasus pembunuhan anggota keluarganya itu hingga tuntas dan memenuhi rasa keadilan. Sementara itu, Agus dan Khadik datang ke Mapolres Boyolali bersama lima orang lainnya untuk mengambil barang-barang milik Eka yang sudah tidak diperlukan lagi dalam penyelidikan polisi.

Mereka juga sempat melihat sosok tersangka di sel tanahan mapolres. Saat itu mereka meluapkan kekesalan dan kemarahan dengan berteriak dan memaki tersangka. “Kami belum puas tapi kami merasa sedikit lega sudah bisa melihat tersangka di dalam (sel),” ujar salah satu anggota keluarga Eka.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Boyolali AKP Willy Budiyanto mengatakan, pihaknya terus melakukan pemeriksaan terhadap tersangka. “Kami terus periksa tersangka dan saksi-saksi agar ini semua cepat selesai,” kata Willy mewakili Kapolres AKBP Aries Andhi

Menurut Willy, tersangka Fajar Sigit Santoso alias Kenyung, 19, warga Kampung Waru, Kelurahan Kemiri, Kecamatan Mojosongo terancam hukuman mati. Pembunuh kasir toko besi ini dikenakan pasal berlapis.

Polisi menjerat tersangka dengan pasal primer yakni 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Tak hanya itu saja, Polisi juga menyangkakan pasal-pasal berat lainnya terhadap Kenyung. Di antaranya tentang pembunuhan biasa pasal 338 KUHP.

Kenyung yang juga membawa barang-barang milik korban juga dikenakan pasal 365 KUHP. Pasal 285 KUHP tentang pemerkosaan korban kian menambah daftar panjang pasal yang diterapkan aparat kepolisian.

“Perbuatan tersangka sangat sadis. Untuk itu, polisi menerapkan pembunuhan berencana sebagai pasal utama untuk menjerat tersangka,” ujar Willy. 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Eka Rahma Aprilianti, 24, warga Magelang, ditemukan tak bernyawa Minggu (2/12) di sebuah kebun di Dusun Banjarsari, Kelurahan Kemiri, Kecamatan Mojosongo, Boyolali. Tak lama kemudian, polisi berhasil membekuk pelaku Fajar Sigit Santoso, 19. (wid/bun

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia