Selasa, 19 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Penghuni Kemproh, Wali Kota Geram

05 Desember 2018, 13: 13: 17 WIB | editor : Perdana

BAKAL DITERTIBKAN: Penghuni rusunawa yang tidak mematuhi aturan akan ditindak tegas.

BAKAL DITERTIBKAN: Penghuni rusunawa yang tidak mematuhi aturan akan ditindak tegas. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO - Pemkot Surakarta mengeluhkan kebiasaan buruk penghuni rumah susun sewa sederhana sewa (rusunawa). Mereka dinilai kemproh dan tidak menjaga pola hidup sehat. Untuk mengurangi hal tersebut, wali kota berencana membuat desain baru rusunawa.

Kepala Bidang (Kabid) Perumahan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperum KPP) Surakarta Saryanto menjelaskan, rusunawa akan dibangun di daerah Jagalan, Jebres pada 2020 mendatang. Detail engineering design (DED) sudah dibuat pada tahun ini menggunakan anggaran APBD Perubahan. Pihaknya telah konsultasi kepada wali kota terkait desain yang akan digunakan.

“Kita sudah konsultasikan tadi (kemarin), hasilnya ada beberapa perubahan DED. Pak wali meminta kamar mandi tidak ada di dalam. Jadi kita rubah, kamar mandi ditaruh di setiap lantai,” katanya, Selasa (4/12).

Perubahan desain itu, lanjut Saryanto, dilakukan setelah melihat pola hidup penghuni rusunawa yang kurang sehat. Sebagian besar penghuni rusunawa tidak menjaga kebersihan kamar mandi sehingga kondisi di sekitarnya terlihat lembab. Itu berpengaruh terhadap kondisi kesehatan penghuni rusunawa.

“Mereka itu susah merawat, kemproh. Selain kamar mandi, jemuran juga akan dibuat komunal di setiap lantai,” tandasnya.

Hal yang sama dirasakan Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo. Menurutnya, penghuni rusunawa memiliki sikap yang berbeda-beda. Namun begitu, mestinya mereka memiliki pola hidup standar dalam hidup bersama di rusunawa. Selain pola hidup sehat, Rudy juga menyorot perilaku warga rusunawa yang tidak tahu diri.

“Ngerti urip nang rusunawa kok ya masang AC, itu ngece namanya. Kok ra iso ngepakne awake dewe (kok tidak bisa menempatkan diri),” katanya.

Rudy menambahkan, masa tinggal warga di rusunawa juga akan ditertibkan. Berdasarkan aturan, mereka diberi hak tinggal paling lama lima tahun. Setelah itu mereka diminta untuk pindah di hunian pribadi.

“Pengin kita itu mereka tidak miskin terus. Sewa sudah murah, seharusnya bisa menabung setiap bulan. Harapannya setelah lima tahun bisa punya rumah sendiri. Rusunawa digunakan warga yang lain. Penginya begitu,” jelasnya.

Terkait rencana pembangunan rusunawa baru, wali kota akan menggunakan lahan seluas 1.500 meter di Jagalan untuk dibangun lima lantai. Lantai 1 untuk parkir dan ruang terbuka, lantai 2 sampai 5 untuk hunian. Pemkot menyiapkan 51 unit dengan fasilitas listrik dan air bersih. Setiap unit terdiri dari satu kamar tidur, satu ruang keluarga dan satu dapur.

“Kami namakan rumah renteng. Kalau rusunawa itu yang membuat pemerintah pusat, kalau yang membuat kita namanya rumah renteng. Luas bangunan sekitar 30 meter persegi,” katanya. (irw/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia