Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Pedagang Terima Kios, Sebagian Masih Sewa di Luar

06 Desember 2018, 18: 11: 45 WIB | editor : Perdana

ALTERNATIF: Sebagian pedagang pilih menyewa kios di dekat Pasar Legi agar bisa segera berdagang.

ALTERNATIF: Sebagian pedagang pilih menyewa kios di dekat Pasar Legi agar bisa segera berdagang. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO - Jelang peresmian kios darurat Jumat besok (7/12), sejumlah pedagang Pasar Legi mulai menata ulang lapak dagangan yang baru selesai dibagikan pemerintah setempat. Meski belum selesai seluruhnya, pendistribusian lapak baru bakal dikebut hari ini.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo, petugas dari Dinas Perdagangan Kota Surakarta bersama paguyuban pedagang kembali melanjutkan pembagian lahan darurat yang telah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya. Kali ini pembagian fokus pada pendistribusian lapak pada sejumlah pedagang los yang ada di hanggar (halaman utama Pasar Legi). 

“Distribusi lahan selesai hari ini. Dan 322 pedagang sudah mengambil nomor lokasi berdagang yang baru di dalam hanggar. Otomatis sudah boleh mempersiapkan lahan masing-masing,” kata ketua Ikatan Pedagang Pasar Legi (Ikapagi) Tugiman, kemarin.

Meski pekerjaan di dalam hanggar masih belum selesai seluruhnya, dirinya berharap pedagang bisa segera memanfaatkan lahan yang telah dibagi. Selain itu, dirinya meminta pedagang bersabar karena pekerjaan tambahan seperti pembuatan tanggul dan saluran air untuk antisipasi banjir dan genangan dalam pasar masih dikerjakan. 

“Pekerjaannya kan belum selesai seluruhnya. Listrik dan lampu sudah ada. Begitu juga talang air di setiap bagian hanggar sudah tersambung. Paling tinggal sebentar menyelesaikan tanggul saluran airnya,” kata Tugiman.

Dilanjutkan dia, pendistribusian bakal dilanjutkan dengan pembagian sejumlah nomor bagi pedagang los yang belum dapat jatah. Berdasarkan data Dinas Perdagangan Kota Surakarta, Pasar Legi menampung 2.669 pedagang. Dari jumlah tersebut 2.481 di antaranya terdampak kebakaran. Rinciannya 244 kios, 1.687 los, dan 550 oprokan. 

“Kalau melihat angka itu jelas belum cukup karena di Jalan Sabang baru didirikan 130 kios dan 70 los. Di Jalan Lumban Tobing disiapkan ratusan los tambahan dan di Jalan Monumen 45 disiapkan ratusan lahan untuk pedagang oprokan. Kalau dilihat angkanya belum cukup,” jelas dia. 

Kendati demikian, dari 130 kios yang disediakan di Jalan Sabang cukup untuk menampung pedagang kios. Mengingat semua pemegang SHP hanya di jatah satu kios, maka hanya memerlukan 90 kios di lokasi tersebut. Sisanya bisa dialihkan untuk pedagang los yang belum kebagian lahan di dalam hangar. 

“Nanti kan jatahnya setiap pedagang dapat satu. Baik untuk pedagang kios maupun los dan oprokan. Jadi kebutuhannya tak lebih dari 2 ribu lahan pasar darurat. Kami menyambut baik niat pemkot merespon cepat persoalan ini,” ujar Tugiman. 

Di sisi lain, sejumlah pedagang yang telah mendapat jatah lapak mulai mendisplai lokasi baru. Lurah Pasar Legi Marsono menambahkan bahwa sore ini pihaknya kembali mendistribusikan sejumlah los dan lahan oprokan yang belum sempat dibagikan. Kali ini ada 130 los siap pakai di Jalan Lumban Tobing dan 200 lahan oprokam di Jalan Monumen 45. Sesuai arahan kepala dinas, usai dibagikan pedagang diminta segera menata lokasi agar bisa berjualan.

“Jumat besok diresmikan oleh wali kota. Acara dimulai pukul 07.30 WIB di Jalan Sabang. Nanti perwakilan dari masing-masing pedagang kios, los, dan oprokan akan ikut dalam penyerahan,” ujar Marsono. 

Di sisi lain, pedagang Pasar Legi sudah tidak sabar untuk menggelar dagangan. Sebagian mereka menyewa kios milik perorangan di sekitar pasar. Salah satu lokasi yang kini ramai di sewa pedagang adalah Muara Market. Bangunan melingkar yang biasanya digunakan beraktivitas  anak muda kreatif itu kini berubah fungsi. Belasan kios di sisi luar seluruhnya digunakan pedagang Pasar Legi. Kios berukuran 2,5 x 3 meter mereka manfaatkan untuk menggelar dagangan. “Saya sewa sendiri karena kios darurat dari pemkot belum jadi,” ujar Noor Hidayat, salah seorang pedagang bumbu dapur yang sudah dua pekan menempati Muara Market, Rabu (5/12).  

Biaya sewa kios, lanjut Noor, berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta setiap bulan, bergantung jenis dan ukuran kios. Dia dan sejumlah pedagang memutuskan menggunakan kios yang ditawarkan pemilik Muara Market itu agar Pasar Legi lekas hidup.

“Kami sudah ngobrol–ngobrol dengan pedagang lain, pilih sewa biar uang cepat berputar,” imbuhnya.

Tak hanya sisi luar, kios bagian dalam Muara Market juga disewakan untuk pedagang Pasar Legi. Bahkan pemilik Muara menambah kios tambahan di bagian tengah bangunan. Setidaknya 50 hingga 100 pedagang dapat menempati Muara.

Sementara itu Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo tidak mempermasalahkan sikap pedagang yang menyewa lokasi lain. Pasalnya pasar sementara yang dibangun pemkot hingga kini belum dapat digunakan. Pria yang akrab disapa Rudy itu bahkan berterima kasih pada pemilik kios yang menyediakan lahan sementara untuk pasar darurat.

“Soal nanti mendapatkan jatah kios di pasar sementara atau tidak, tetap kami kasih. Mungkin pedagang akan menggunakan pasar sementara untuk jualan, kemudian kios yang disewa digunakan untuk gudang. Atau bagaimana itu biar pedagang yang mengatur,” katanya. (ves/irw/bun

(rs/ves/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia