Kamis, 13 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Klaten
Angka Penderita Terus Meningkat

ODHA Masih Terdiskriminasi

07 Desember 2018, 10: 00: 59 WIB | editor : Perdana

PEDULI: Sosialisasi Hari AIDS sedunia di Gedung Paripurna DPRD Klaten.

PEDULI: Sosialisasi Hari AIDS sedunia di Gedung Paripurna DPRD Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Temuan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Klaten setiap tahunnya menunjukan grafik peningkatan. Dari 2007 hingga Oktober 2018, terdapat 737 kasus dengan 58 orang meninggal dunia. Namun sorotan utama ada pada diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

CW, 32, buktinya. ODHA asal Kecamatan Delanggu ini terusir dari lingkungan. Warga sekitar bahkan keluarga sendiri tidak memperbolehkannya tinggal di rumah. Terpaksa dia memilih menetap di Jogja.

”Saya baru tahu kena HIV/AIDS setahun ini. Diawali diare selama tiga bulan, hingga akhirnya dari hasil pemeriksaan saya positif. Saya sempat depresi karena sudah tidak tahu harus bagaimana lagi,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo di sela sosialisasi memperingati Hari AIDS Sedunia di Gedung Paripurna DPRD Klaten, Selasa (4/12).

CW terkena HIV/AIDS karena pergaulan yang begitu bebas saat kuliah di Jogja. Sejak positif, dia pilih tidak melanjutkan kuliahnya. ”Warga juga tidak menerima keberadaan saya, sehingga jarang balik ke rumah. Kalau balik, paling 1-2 hari saja. Warga setiap ketemu saya pilih menghindar,” bebernya.

Kasus diskriminasi ini sudah sampai telinga Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). Dins terkait pun berusaha menghilangkan stigma negatif tersebut. Melalui sosialisasi secara intensif di sekitar tempat tinggal CW. Hanya saja upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil.

Pelaksana program KPA Klaten, Fauzi Rifai menambahkan, program yang akan digulirkan pada 2019 untuk menekan diskriminasi ODHA. Pihaknya akan segera melakukan sosialisasi secara masif kepada warga untuk memberikan pemahaman.

Diakuinya, temuan kasus HIV/AIDS memang mengalami peningkatan. Tetapi pada 2020 ditargetkan menurun. Begitu juga pada diskrimasi yang diterima ODHA, diharapkan tidak terjadi lagi. ”Ini sebenarnya masalah bersama. Perlunya kerja sama dalam mengatasi permasalahan diskriminasi. Harapannya dalam penanggulangan kasus HIV/AID di Klaten dapat berjalan lancar,” ujarnya.

Sekda Klaten, Jaka Sawaldi menyoroti diskriminasi yang diterima ODHA. Ia menilai hal itu terjadi karena ketidakpahaman warga terkait cara penularan dari virus HIV tersebut. ”Kan sudah jelas virus ini menular lewat jarum suntik yang tidak steril maupun berhubungan badan. Bukannya dengan bersalaman, langsung menjadi tertular,” bebernya.

Ia memandang, ketika warga mengetahui terkait penularannya, bisa memotivasi diri untuk berperilaku hidup sehat. Di sisi lain, dapat memberikan motivasi hidup kepada ODHA sehingga tidak merasa dikucilkan lagi.

”Kami cegah virusnya, sehingga temuan kasus HIV/AIDS di Klaten jangan sampai meningkat. Tekan bentuk pengucilan dan diskriminasi melalui forum sosialisasi. Sehingga dapat memberikan manfaat lebih ke depannya,” tandas Jaka. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia