Kamis, 23 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Ngrekso Ban Kempes, Transformasi Tukang Tambal Ban di Kota Solo

11 Desember 2018, 20: 33: 43 WIB | editor : Perdana

LEBIH ELEGAN: Motor Ngrekso Ban Kempes diberikan pemkot bagi tukang tambal ban di Solo.

LEBIH ELEGAN: Motor Ngrekso Ban Kempes diberikan pemkot bagi tukang tambal ban di Solo. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Rezeki tak akan datang jika hanya berpangku tangan. Termasuk tukang tambal ban, mereka harus bergerak menjemput rezeki. Pemkot Surakarta memfasilitasinya dengan Ngrekso Ban Kempes. Seperti apa programnya?

IRAWAN WIBISONO, Solo

WAJAH Agung Priyo Utomo semringah usah berjabat tangan dengan Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo di halaman balai kota, kemarin (10/12). Dia mendapatkan jatah satu set Ngrekso Ban Kempes yang dibagikan pemkot kepada enam tukang tambal ban di Kota Solo. Pria 36 tahun ini merasa beruntung lantaran masih ada puluhan teman seprofesinya di Solo namun belum mendapatkan program pemkot paling gres. 

Ngrekso Ban Kempes adalah cara pemkot untuk peduli terhadap masyarakat dengan profesi tambal ban. Pemkot memberi seperangkat kendaraan roda tiga yang telah dimodifikasi untuk melayani jasa tambal ban keliling. 

Dengan kendaraan tersebut, Agung dan kawan-kawan bisa melayani jasa tambal ban panggilan. Sebelumnya mereka hanya membuka jasa tambal ban di kios maupun gerobak pinggir jalan. Kini, masyarakat yang kebetulan mengalami ban bocor di sekitar Solo dapat menghubungi satu dari enam penerima Ngrekso Ban Kempes melalui pesan singkat. 

Tak hanya itu, tiga di antaranya dapat dipesan melalui aplikasi Solo Destination. Aplikasi milik pemkot itu hanya memasukkan tiga tukang tambal ban yang siap melayani 24 jam.

“Kalau saya hanya melayani sampai jam 12 malam. Tarif normal kami Rp 10 ribu. Kalau panggilan jadi Rp 15 ribu. Sebenarnya bisa di atas jam 12 (malam), asalkan harganya menyesuaikan,” kata Agung. 

Agung dan tukang tambal ban lainnya tak sekadar mendapatkan bantuan pemkot. Mereka diwajibkan menyisikan uang penghasilannya sebesar Rp 750 ribu setiap bulan. Uang tersebut wajib dimasukkan ke Bank Solo. Bukan untuk pemkot,  hasil yang didapat itu benar-benar sebagai tabungan. 

Pemkot akan melakukan pemantauan apakah enam tukang tambal ban ini benar-benar mampu menabung setiap bulan. Pantauan dilakukan selama lima tahun. Setelah itu pemkot akan menyerahkan seperangkat kendaraan Ngrekso Ban Kempes kepada masing-masing tukang tambal ban.

“Nggak masalah. Kami sehari minimal lima sampai delapan orang yang kebetulan nambal ban. Dapet ini (Ngrekso Ban Kempes) mudah-mudahan lebih banyak pelanggan,” katanya.

Bagi Agung, mendapatkan motor roda tiga dan perangkat tambal ban merupakan sebuah anugerah. Profesi tambal ban yang selama ini dianggap biasa, kini diangkat oleh pemkot. Dengan Ngrekso Ban Kempes, dia merasa tukang tambal ban naik kelas. “Sekarang nambal ban jadi elegan. Pake motor kayak begini,” katanya sambil mengusap-usap badan motor di sampingnya.

Agung sendiri telah menekuni jasa tambal ban selama 15 tahun. Sempat merantau ke Batam selama 20 tahun, dia membuka bengkel motor. Usahanya terbilang sukses kala itu. Nmaun karena satu hal, dia harus kembali ke Kota Bengawan dan mengawali karir sebagai tukang tambal ban. Setelah mendapatkan Ngrekso Ban Kempes, dia bakal menambah pelayanan.

“Karena ini ukurannya besar, saya nanti akan jual bensin sama servis mungkin. Mbengkel lagi,” ucapnya.  

Sementara itu Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo meminta penerima Ngrekso Ban Kempes mengubah pola pelayanan terhadap konsumen. Dia ingin tukang tambal ban senantiasa ramah menghadapi pelanggan. Selalu memberi pelayanan prima.

“Dan yang terpenting jangan sampai dijual motornya. Kalau dijual, jelas akan kita laporkan pihak berwajib,” tegasnya.

Wali kota juga menganggap kewajiban untuk menabung setiap bulan sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat. Jika itu dilakukan, Rudy yakin tukang tambal ban dapat meningkat status ekonominya. (*/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia