Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Darurat Sampah dan Akhlak Lingkungan

12 Desember 2018, 19: 47: 01 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

H. Priyono, Wakil Dekan Fakultas Geografi UMS dan Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Klaten Selatan.

H. Priyono, Wakil Dekan Fakultas Geografi UMS dan Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Klaten Selatan. (DOK.PRIBADI)

Share this      

SAMPAH plastik kini sudah menjadi masalah serius di Indonesia. Bahkan, kita menjadi juara dua dunia setelah Tiongkok sebagai negara penghasil sampah plastik terbesar yang dibuang ke laut.

Sifat sampah plastik tidak mudah terurai, proses pengolahannya menimbulkan toksit, dan bersifat karsinogenik. Karena itulah maka sampah plastik menjadi masalah utama dalam pencemaran lingkungan baik pencemaran tanah maupun laut.

Permasalahan sampah plastik tidak terlepas dari pengelolaan sampah dan perilaku masyarakat itu sendiri. Karena itu, masalah sampah sejatinya merupakan masalah perilaku (akhlak) sehingga untuk mengatasinya diperlukan perubahan perilaku masyarakat terkait sampah.

Di instansi-instansi, baik pemerintah maupun swasta misalnya. Ketika pagi hari usai dibersihkan cleaning service, lantai dan lingkungan tampak bersih dan rapi. Tapi menjelang siang dan sore hari sampah sudah berserakan kembali. Kata kuncinya: perubahan perilaku, keteladanan pimpinan dan komitmen pemangku kebijakan  dan control yang ketat.

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung bisa menjadi salah satu contoh dalam menjaga kebersihan. Perlu waktu empat tahun untuk mengubah perilaku masyarakat kampus. Dan perubahannya dimulai secara bertahap serta melalui kontrol ketat. Motivasi agama saja tidak cukup jika tidak disertai motivasi yang lain dan implementasi nyata.

Dalam konteks pencemaran lingkungan, manifestasi akhlak terhadap alam menjadi penting untuk ditingkatkan. Apalagi kita tahu bahwa menyempurnakan akhlak manusia merupakan misi utama Rasulullah SAW. Hal ini bermakna bahwa akhlak menjadi inti dan tujuan Islam agar menjadi rahmatan lil alamin.

Karena itu, praktik akhlak mulia sebagai misi kenabian tidak terbatas pada pergaulan dengan sesama manusia, tetapi juga akhlak terhadap seisi alam termasuk lingkungan di sekitar manusia, seperti binatang, tumbuh- tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa.

Akhlak terhadap lingkungan bersumber dari tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, dan bimbingan agar setiap makhluk di bumi mencapai tujuan penciptaannya.

Maka dalam memanfaatkan alam, manusia dituntut untuk bersikap adil dan kasih sayang terhadap lingkungan. Dengan demikian, manusia diperintahkan bukan untuk mencari kesenangan dan kemakmuran dirinya semata, tetapi juga mengusahakan kelestarian alam.

Terjadinya bencana alam di berbagai belahan bumi jelas menuntut kesadaran kita tentang pentingnya meninggikan akhlak kepada lingkungan dengan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS al-'Araf: 56 yang artinya:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Jika dihitung, ayat semacam di ini diulang sebanyak 40 kali dalam Alquran. Hal ini menunjukkan bahwa berbuat kerusakan di muka bumi merupakan permasalahan serius yang harus ditinggalkan oleh manusia. Sebab, apabila lingkungan kita perlakukan dengan seenaknya, dampaknya tidak hanya menimpa manusia, tetapi seluruh ekosistem di bumi akan terganggu.

Hewan, tumbuh-tumbuhan, tanah, batu, sungai, gunung, dan benda-benda tak bernyawa lainnya juga rusak. Kasus ikan paus yang mati karena memakan sampah plastik merupakan salah satu bukti bahwa apa yang dilakukan manusia telah membunuh makhluk lain.

Seorang muslim dituntut untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri saja, tetapi juga kemaslahatan seluruh alam. Bukankah islam adalah agama yang rahmatan lil alamin sesuai pesan Alquran. Maka mari kita perbaiki akhlak kita terhadap lingkungan agar kehidupan manusia semakin selaras dengan alam sehingga tugas manusia  sebagai khalifah di bumi terlaksana dengan baik. (*)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia