Selasa, 22 Jan 2019
radarsolo
icon featured
Olahraga

NPC Siap Kembangkan Cabor Baru

13 Desember 2018, 12: 46: 51 WIB | editor : Perdana

NPC Siap Kembangkan Cabor Baru

SOLO –  Indonesia siap terjun di ajang Asian Para Games 2019 di Filipina, setelah itu Paralympic 2020 di Tokyo Jepang juga jadi agenda yang akan dikuti Indonesia.  Di Filipina, Indonesia rencananya akan sekitar 250 atlet yang dipersiapkan untuk membidik target juara umum.

NPC Indonesia juga rencananya akan ikut 15 cabor dari 22 cabor yang akan dipertandingkan. ”Jumlah atletnya belum ada kepastian, termasuk cabor apa saja yang dipertandingkan. Untuk kepastiannya, kita menunggu pelatnas dulu, rencana baru akan digelar bulan kedua tahun depan (Februari, Red),” terang Presiden NPC Indonesia, Senny Marbun.

NPC sendiri mengakui memang tak bisa semua cabor untuk diikuti, kendalanya adalah keterbatasan atlet. Belum lama ini, NPC juga sudah memastikan membentuk beberapa cabor baru. Seperti bochia, anggar, basket wheelchair, hingga blind judo.

”Ada pelatih asal Korea Selatan yang ingin mengembangkan dayung di Indonesia, khususnya mencari atlet untuk tim Para Games Indonesia. Kami belum bisa memastikan akan dibuat tidak cabor ini, soalnya kendala utama adalah mahalnya alat latihan, seperti kano saja satunya bisa Rp 150 juta. Belum lagi mencari atlet dayung disabilitas tentu tak mudah,” ujarnya.

“Tapi kita akan kembangkan cabor lainnya, yang terdaftar digelar di kejuaraan internasional, tapi kita belum punya. Tapi belum dipastikan cabor apa itu,” tuturnya.

Di lain sisi Senny Marbun merasa kecolongan karena kejadian di Asian Para Games 2018 Agustus lalu di Jakarta. Menjalani langkah sebagai tuan rumah, ternyata Indonesia malah harus terdiskualifikasi karena masalah regulasi.

“Blind judo termasuk cabor baru, jadi kita bentuk beberapa bulan sebelum Asian Para Games digelar, jadi persiapannya cukup mendadak. Salah satunya mencari SDM atletnya,” tuturnya.

Yang membuat cabor ini jadi sorotan ialah, saat atlet blind judo Indonesia, Miftahul Jannah yang terjun di kelas 52 kg putri, didiskulifikasi saat hendak menghadapi wakil Mongolia, Gantulga Oyun (8/10/2018). 

Itu dilakukan, setelah Jannah enggan melepas jilbabnya saat bertanding. Padahal sesuai aturan dari Federasi Judo Internasional (IJF) penggunaan jilbab dengan jenis yang dipakai Jannah cukup dilarang. 

”Dari NPC tentu tak tahu awalnya, karena semua sudah ada official percabor yang mengurusnya secara mendalam. Ini semua murni kesalahan pelatih karena teledornya. Harusnya pelatih paham akan adanya regulasi internasional seperti apa,” tegas Senny.

Dirinya menilai seluruh pelatih hingga pemain NPC kedepannya agar bisa memahami lebih detail setiap regulasi yang memang harus dijalani ataupun diantisipasi.

”Kalau wasit mendiskulifikasi karena tidak boleh menggunakan jibab, mungkin ada alasannya. Adanya regulasi tentu ditentukan demi keamanan atlet saat bertanding. Mungkin masih bisa pakai jilbab khusus, namun pelatih sepertinya tidak mempersiapkan sampai ke situ,” terangnya. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia