Minggu, 24 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Olahraga

Atlet Pelatnas Pemanasan di Kejurnas

15 Desember 2018, 12: 55: 59 WIB | editor : Perdana

MEMBANGGAKAN: Timnas Para-Badminton Indonesia saat terjun di ajang Australia Open Para Badminton 2018, November lalu.

MEMBANGGAKAN: Timnas Para-Badminton Indonesia saat terjun di ajang Australia Open Para Badminton 2018, November lalu.

SOLO – Tim Nasional Para-Badminton Indonesia terbilang cukup sukses di Asian Para Games 2018 yang digelar di Jakarta, Agustus lalu. Atlet bulu tangkis Indonesia Suryo Nugroho jadi salah satu yang cukup sumringah, karena bisa menabung satu emas, dan dua perak di ajang ini.

”Pencapaian ini melebihi 2014 di Asian Para Games Incheon Korea Selatan dengan raihan dua perunggu,” tuturnya.

Mimpi dia saat ini adalah bisa lolos ke Paralimpiade 2020 di Tokyo Jepang. Untuk bisa meraih tiket emas ke ajang dunia tersebut, dirinya tentu harus memiliki peringkat bagus di mata dunia. Salah satu caranya adalah mendapatkan peringkat dunia, dan rutin mengikuti berbagai kejuaraan internasional.

Akhir November lalu, dirinya ikut menyumbangkan emas untuk Indonesia di ajang Australia Open Para Badminton 2018. Yang mana di ajang ini, Indonesia berhasil meraih enam emas, dua perak dan tiga perunggu. 

Enam emas Indonesia diraih oleh Suryo Nugroho, Fredy Setiawan, Leani Ratri Oktila, Dwiyoko, Ukun Rukaendi, dan Khalimatus Sadiyah.  Kejuaraan ini juga sebagai ajang Kualifikasi Paralimpiade Tokyo 2020.

”Rencananya mulai Maret nanti banyak kejuaraan internasional yang akan digelar, dan hampir tiap bulan ada agenda. Saya mungkin akan ikut tapi yang poinnya cukup besar saja, poin ini juga yang membuat saya bisa bisa ke Paralympiade,” terangnya.

Di klasifikasi single standing upper (SU) 5, Suryo ternyata dari data yang di dapat kora ini berperingkat 3 dunia dengan tabungan 2700 poin. Tertinggal tipis dari Bartlomiej Mroz dari Polandia dengan tabungan 2750 poin, dan tertinggal jauh dari peringkat 1 dunia di kelas SU-5, yang dipegang oleh Liek Hou Cheah dari Malaysia dengan tabungan 4250 poin. Di peringkat keempat sendiri ada wakil Indonesia Dheva Anrimusthi dengan tabungan 2375 poin.

”Tidak ikut satu kejuaraan internasional saja peringkat dunianya bisa merosot. Kalau mau ke Paralympiade mungkin posisi amannya harus berada di peringkat ketiga, dan saat ini peluang saya menuju Tokto 2020 cukup terbuka, termasuk dengan Dheva juga pastinya. Semoga ada dua wakil Indonesia di kelas ini nantinya,” terangnya.

Jika bicara peringkat 1 dunia, ternyata nama Leani Ratri Oktila tak bisa dikesampingkan. Tak main-main dirinya melabeli dirinya peringkat 1 dunia di tiga kelas berbeda. Mulai dari kelas women SL 4, lalu ganda campuran SL 3 to SU5 bersama Hary Susanto dan double SL 3 to SU 5 women bersama Khalimatus Sadiyah.

Sementara itu di kelas SL 3 and SL4 man, pasangan Ukun Rukaendi dan Hary Susanto juga berperingkat 1 dunia.

”Kejurnas di Solo ini juga jadi ajang pemanasan saya dan teman-teman sebelum terjun di prakualifikasi Paralympiade. Ajang ini juga sebagai ajang pencari bakat juga, karena setelah inijuga ada beberapa pkejuaraan internasional lainnya (Asean Para Games 2019 di Filipina),” terang mahasiswa Pascasarjana Bahasa Inggris Universitas Veteran Bantara Sukoharjo tersebut. 

Kejurnas di Solo tengah digelar, dan menggelar lima cabang olahraga. Yakni bulu tangkis, tenis lapangan, goalball, panahan, dan voli duduk. (nik

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia