Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Penambang Tewas Tertimbun Tebing Longsor

15 Desember 2018, 12: 45: 19 WIB | editor : Perdana

Penambang Tewas Tertimbun Tebing Longsor

KLATEN – Penambangan manual di wilayah Klaten kembali memakan korban jiwa. Medio 2016 hingga 2018 ini setidaknya sudah ada tujuh kejadian penambang tewas. Terbaru, menimpa Pardi, 45, warga Dusun Ngemplak, Desa Tlogowatu, Kecamatan Kemalang.

Pria yang sehari-hari sebagai pencari batu kerikil di Kali Krasak, Kemalang ini tewas tertimbun longsor material berupa pasir dan bebatuan di lokasi penambangan manual ini. Jumat (14/12) pagi sekitar pukul 05.00 WIB, Pardi sedang beraktivitas mengumpulkan batu kerikil ke lokasi kejadian. Tiba-tiba tebing Kali Krasak setinggi 10 meter longsor. Tetapi sayang Pardi tidak sempat menyelamatkan diri hingga tertimpa material pasir dan batu.

“Waktu kejadian masih remang-remang sehingga kurang diantisipasi ketika tebing  longsor. Korban langsung meninggal seketika karena tertimbun bebatuan,” jelas Kepala Desa Tegalmulyo, Sutarno, saat dihubungi Jawa Pos Radar Solo melalui sambungan telepon, Jumat (14/12).

Lebih lanjut, Sutarno menceritakan jika bagian tebing yang longsor itu memang kondisinya cukup labil. Ia menduga hal itu disebabkan curah hujan yang tinggi sebelumnya sehingga membuat material Kali Krasak mudah longsor. Terlebih lagi di atasnya hanya berupa lahan pertanian tanpa pepohonan kuat, sehingga tidak cukup kuat untuk menahan material yang longsor saat hujan terjadi.

“Untuk evakuasi korban melibatkan para relawan dan warga di sekitar kejadian. Dibutuhkan waktu satu jam untuk mengeluarkan tubuh korban dari timbunan material. Seluruh tubuhnya mengalami luka dan langsung kami koordinasikan dengan tenaga medis,” jelas Sutarno.

Sutarno mengatakan, korban bukan penambang manual, tapi hanya mencari batu kerikil untuk kebutuhan sendiri. Hanya saja diakui Sutarno kalau di Kali Krasak banyak ditemukan penambang manual secara berkelompok. Setiap kelompoknya terdiri dari empat hingga lima orang mencari pasir dan batu sebagai mata pencaharian.

“Banyak kok yang menambang secara manual di Kali Krasak dengan menggunakan dandang, sekop dan linggis saja. Tidak hanya dari Tegalmulyo, tetapi juga dari luar desa juga ada. Kalau kejadian longsor sampai makan korban baru pertama kali terjadi,” jelasnya.

Sutarno mengungkapkan, sebenarnya pihak desa sudah berulang kali memperingatkan para penambang untuk menjaga keselamatannya masing-masing. Termasuk mengimbau berhenti beraktivitas ketika kondisinya tidak aman. Meski begitu, para penambang manual malah tetap nekat beraktivitas.

Sementara itu, petugas medis Puskesmas Kemalang, Muklis menjelaskan, dari hasil pemeriksaan pelipis bagian kiri Pardi mengalami sobek 6 cm dengan kedalaman 2 cm. Sedangkan pada bagian dada, perut dan paha kanan mengalami memar. Untuk kedua kakinya mengalami bengkak dan sobek.

“Korban meninggal dunia karena tertimbun longsor terlalu lama dengan berbagai material pasir dan bebatuan,” ujarnya. 

Kapolres Klaten AKBP Aries Andhie melalui Kapolsek Kemalang Iptu Edy Prsetyo membenarkan informasi atas kejadian longsoran tersebut. Dirinya pun juga menegaskan hal yang serupa jika korban bukanlah penambang manual.

“Memang kejadiannya persis saat korban sedang mengambil kerikil untuk kepentingan sendiri. Tiba-tiba tebing Kali Krasak longsor hingga membuat korban tertimbun,” jelasnya.

Atas kejadian ini dirinya mengimbau kepada para warga yang sedang beraktivitas menambang secara manual agar tetap menjaga kesalamatan. Mengingat, saat ini sudah memasuki musim penghujan sehingga membuat tebing Kali Krasak mudah longsor. (ren/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia