Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Rekso Pustoko Selektif Pilih Bantuan

19 Desember 2018, 16: 34: 24 WIB | editor : Perdana

TAK TERNILAI: Petugas Perpustakaan Rekso Pustoko menunjukkan koleksi naskah kuno

TAK TERNILAI: Petugas Perpustakaan Rekso Pustoko menunjukkan koleksi naskah kuno (RADAR SOLO PHOTO)

Share this      

SOLO – Sejumlah donatur menawarkan bantuan dana untuk biaya operasional Perpustakaan Rekso Pustoko. Namun, pengelola perpustakaan setempat tidak begitu saja mengabulkannya. Apalagi ada pamrih di balik bantuan tersebut.

Ini ditegaskan Bagian Bendahara Perpustakaan Rekso Pustoko Amani Pusjiastuti, Selasa ( 18/12). “Masalahnya jika donatur yang memberi bantuan itu punya pamrih, misal koleksi bisa di-online-kan. Itu alasan kami tidak bisa menerima bantuan,” tegasnya. 

Menurut Amani, ada dua donatur yang bantuannya diterima. Yakni dari Bank Indonesia dan juga Universitas Indonesia. Sedangkan bantuan lain datang dari pihak swasta untuk digitalisasi 3 juta lembar koleksi naskah kuno, masih dalam proses negosiasi.

“Penelitian dan pengembangan (Litbang) Kementerian Agma (Kemenag) menawarkan digitalisasi dan katalogisasi naskah keagamaan. Terus ada juga dari Taruma Negara dan proyek Dreamsea UIN Jakarta. Semuanya masih dalam proses negosiasi dengan ketentuan sesuai prinsip kita,” bebernya.

Bagian Kepegawaian Darweni menambahkan, pihaknya tetap memegang prinsip tidak menyebarluaskan koleksi naskah kuno secara online. Tujuannya, menjaga kelangsungan hidup perpustakaan yang telah berusia 151 tahun tersebut. 

“Jika menawarkan donasi uang, kami tentu menerima. Dengan syarat tanpa pamrih, benar-benar mau berdonasi. Syaratnya ya beri saja donasi dan kami para petugas siap untuk mengerjakan  digitalisasi, enkapsulasi dan alih aksara. Dan koleksi tetap aman di Rekso Pustoko. Kami hanya berhati-hati dalam memilih siapa yang mau membantu. Sebagai antisipasi saja. Takunya kecolongan,” paparnya. 

Ditambahkannya, pihak perpustakaan khawatir, jika naskah kuno di-online-kan, pasti banyak yang memanfaatkannya tanpa seizin pihak Rekso Pustoko. Selain itu, jumlah pengunjung ke perpustakaan juga berkurang.

“Ini kan perpustakaan istana (Pura Mangkunegaran, Red). Kami juga memikirkan pemasukan. Mengunjungi Perpustakaan Rekso Pustoko dan perpustakaan lain adalah bentuk kita turut melestarikan kebudayaan,” terangnya.

Salah seorang pengunjung Perpustakaan Rekso Pustoko Nawaar Faizatun Ashri menjelaskan, baru kali ketiga ke gudangnya naskah kuno tersebut. “Petugasnya ramah-ramah. Tadi kita cari penelitian sosiologi tentang Mangkuneggaran. Cuma kita gak menemukan. Publikasi keberadaan Rekso Pustoko-nya kurang. Jadi memang masih dari mulut ke mulut saja,” ungkap mahasiswi jurusan Pendidikan Sosiologi Antropologi UNS. (mg4/wa)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia