Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Tiongkok Hengkang, WNA Korea Mendominasi Solo

20 Desember 2018, 14: 20: 59 WIB | editor : Perdana

ilustrasi

ilustrasi

Share this      

SOLO – Jumlah warga negara asing (WNA) yang tinggal di eks Karesidenan Surakarta tahun ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2018  ini tercatat ada 933 WNA yang  mengajukan izin tinggal. Sedangkan 2017,  tercatat sebanyak 2.343 orang.

Kasi Intelijen Penindakan Keimigrasian (Inteldakin) Klas I Tempat  Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Imigrasi Surakarta Sigit Wahjuniarto membeberkan, dari ratusan WNA tersebut, 744 orang mengajukan izin tinggal terbatas (ITAS), 94 orang mengajukan izin tinggal tetap (ITAP), 95 mengajukan izin tinggal kunjungan (ITK)

“Untuk ITAS masih didominasi Sukoharjo, ada sekitar 329 orang, mengingat di sana banyak pabrik garmen sesuai dengan keahlian mereka. Sedangkan untuk kunjungan didominasi Solo, ada 45 orang,” ujar Sigit.

Penurunan jumlah WNA ini, ujar Sigit, karena pada tahun ini banyak WNA asal Tiongkok yang tidak lagi bekerja di eks Karesidenan Surakarta. Saat ini WNA didominasi dari Korea Selatan, India dan Filipina. “Saat ini Korsel yang menjadi investor, India menjadi kualiti kontrol, sedangkan Filipina menjadi tenaga ahli. Mereka kebanyakan berkerja di bidang garmen,” kata Sigit.

Sigit menambahkan, sempat terjadi kendala dalam melakukan pengawasan WNA yang bekerja di eks Karesidenan Surakarta. Sebab, perusahaan biasanya tidak melaporkan hal tersebut.  “Slasan para pengelola mereka (WNA) ke sini hanya satu sampai dua hari untuk cek keuangan atau kontrol kualitas barang. Jadi sebelum sempat ke imigrasi mereka sudah pulang ke negaranya,” ungkapnya.

Karena itu, Imigrasi a mengeluarkan kebijakan kepada pengelola pabrik agar memfotokopi kartu izin tinggal sementara (Kitas) maupun kartu izin tinggal tetap (Kitap), paspor maupun visa mereka. Sehingga ada data pegangan kepada imigrasi. Sekarang sudah mulai tertib,” imbuh Sigit.

Selain itu, lanjut Sigit, pihaknya merapatkan koordinasi dengan tim pengawasan orang asing (Pora), yang terdiri dari unsur Polri, TNI, Kesbangpol serta Disnaker. Untuk mengawasi WNA di wilayah eks Karesidenan Surakarta. “Untuk razia kita lakukan secara situasional, bisa juga sebulan setiap hari, dengan sistem acak,” ungkap Sigit.

Masalah lain yang kini terjadi adalah banyak WNA yang bekerja di eks Karesidenan Surakarta, namun memegang Kitas maupun Kitap keluaran dari Kantor Imigrasi Jogjakarta. Sebab, mereka berdomisili di sana. “Selama ini tidak ada laporan dari Jogja. Kita dapatkan ketika razia. Ketika ada masalah baru kita laporkan ke Jogja untuk diselesaikan sesuai aturan,” tutur Sigit. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia