Selasa, 17 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Ketatnya Pendidikan Calon Romo, Seleksi Panjang hingga 15 Tahun

25 Desember 2018, 16: 22: 07 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Seorang Romo saat misa Natal di Gereja St. Petrus Purwosari Solo.

Seorang Romo saat misa Natal di Gereja St. Petrus Purwosari Solo. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

MENJADI seorang romo tidak cukup hanya mengandalkan keinginan. Butuh melewati seleksi panjang dan beragam selama 11-15 tahun. Cukup banyak yang gagal di tengah jalan.

Pendidikan calon romo diawali setelah lulus SMP. Yaitu masuk seminari menengah atau setingkat SMA. Lama tahapan ini mencapai empat tahun. Bila dinyatakan lulus, bisa melanjutkan tingkatan berikutnya. Tahun rohani selama satu tahun.

Selanjutnya adalah seminari tinggi dengan lama pendidikan enam tahun. Romo Kevikepan Surakarta Antonius Budi Wihandono menjelaskan, pada seminari menengah ada empat tingkat. Dimulai kelas 0.

Seleksi ketat, penyerataan, dan masa adaptasi calon romo dimulai pada tahap ini. Bersambung tahun rohani menjalani masa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, sekaligus menyiapkan diri sebelum masuk seminari tinggi. Yaitu semakin memantapkan diri sebagai seorang imam dimulai.

“Selama pendidikan, mereka (calon romo, Red) akan digodok sedemikian rupa dengan mengikuti beragam ketentuan. Yang dapat bertahan hingga akhir paling banyak 25 persen. Sisanya kembali ke masyarakat,” terang Budi.

Terkait faktor kegagalan, Budi menyebut sangat beragam. Calon romo bisa keluar sendiri berdasarkan keinginan hati, atau memang dinilai tidak layak oleh staf seminari sehingga dapat dikeluarkan.

“Jadi misal ada calon imam yang ketahuan nyontek saat ujian, walau cuma sekali, mereka pasti langsung dikeluarkan. Atau ketahuan mencuri. Begitu pula ketika nilainya dinyatakan kurang, pasti juga langsung dikeluarkan,” terangnya.

Panggilan iman yang dimaksud Budi adalah perilaku yang calon romo tunjukkan selama menempuh pendidikan di seminari. Misalnya, mereka bermalas-malasan, baik ketika belajar maupun di asrama, itu bisa menjadi pertimbangan dikeluarkan dari seminari. Termasuk tidak ada peningkatan pada akademik, atau malah menurun.

“Mereka nantinya menjadi contoh bagi masyarakat, menjadi panutan. Staf seminari tidak bisa berandai-andai ke depan (calon romo, Red) akan berubah. Kalau hal kecil (sifat buruk,Red) seperti itu dibiarkan, dan menjadi romo, pasti akan jadi romo yang buruk,” urainya.

Harus Suci juga Cerdas

Menurut Budi, seminari memiliki tiga konsep dasar. Yakni Santitas, Siensia, Sanitas, (3S). Santitas adalah kesucian yang berhubungan dengan hidup religius dan hidup rohani. Siensia merupakan intelektual atau ilmu pengetahuan. Dan Sanitas merupakan kesehatan jasmani baik jiwa maupun raga. Ketiga aspek tersebut merupakan syarat mutlak menjadi seorang romo.

“Dan harus bersinambungan. Tidak cukup kesucian saja. Suci tok yen ora cerdas (jika tidak cerdas, Red), itu nanti seperti yang menyebabkan banyak menimbulkan radikalisme, merasa suci neng ra cerdas, atau pinter ning tidak suci. Itu nanti (kalau jadi romo, Red) inginnya minteri. Lalu, kalau tidak sehat, juga tidak ada gunanya. Masak memimpin umat sakit-sakitan,” urai Budi.

Tiga aspek dasar tersebut akan dipadukan dengan kurikulum pemerintah. Yang membedakan seminari dan sekolah reguler adalah masa pendidikan lebih panjang, muatan lokal semakin banyak.

Budi mencontohkan, jika di SMA reguler terdapat 16 mata pelajara, di seminari bisa mencapai 18- 21 pelajaran. Dalam sehari, mereka hanya belajar di kelas selama 2,5 jam. Sedangkan mata pelajaran yang diajarkan dapat mencapai 5 jenis.

“Kalau tidak cerdas, tidak akan bisa. Tapi, tidak sekadar mengejar nilai sempurna. Tetap mengedepankan aspek 3S,” terangnya.

Gagal, Bisa Mengulang

Bagaimana jika calon romo gagal? Budi mengatakan, mereka bisa mengulang tahapan. Yakni meneruskan ke SMA reguler, kemudian masuk pendidikan Kelas Persiapan Atas (KPA) selama setahun. Setelah itu, dapat langsung menempuh pendidikan di seminari tinggi.

“Mayoritas yang gagal jarang mengulang kembali. Kebanyakan kembali ke masyarakat dan bekerja seperti orang awam. Namun, mereka masih bisa menerapkan nilai-nilai yang sudah diajarkan di seminari,” katanya.

Bahkan, gagal menempuh pendidikan calon romo bukan berarti tersingkir dan diasingkan. Mereka tetap disambut dengan hangat. Termasuk ketika bertamu ke seminari.

Itu dirasakan Yonathan Krisna Halman Tri Santoso. Pada 2014, pria kelahiran Sragen, 24 April 1996 ini mengikuti pendidikan di Seminari Damian Bandung. “Meski saya hina, tapi saya merasa justru Tuhan menggunakan yang hina untuk menjadi pengikutnya secara serius,” katanya.

Di Seminari Damian Bandung, Krisna sapaan akrabnya hanya bertahan selama dua tahun. Dia mendapatkan tambahan ilmu kepribadian, ilmu gereja, sosial, etos kerja, hidup doa, meditasi, dan sebagainya. Suka duka dirasakannya. Di antaranya terbatasnya komunikasi dengan keluarga.

“Walau begitu, di sana (seminari, Red) juga mendapat keluarga baru. Meski saya sudah keluar, saya tetap diterima di sana dan disapa dengan hangat,” terangnya.

Krisna dinyatakan gagal melanjutkan pendidikan seminari pada 28 Mei 2016 karena gagal mengucapkan kaul pertamanya sebagai syarat pendidikan selanjutnya. Dia pun sempat kecewa.

 “Tapi saya tidak boleh terpaku pada hal itu. Karena saya yakin Tuhan menggunakan saya untuk melayani-Nya dengan cara lain,” ucapnya. Krisna lalu melanjutkan pendidikan ke Universitas Sebelas Maret (UNS). Ilmu dari seminari tetap dibawanya. (atn/ves/wa/ria)

SYARAT JADI ROMO

Pendidikan

·Menempuh masa studi selama 11-15 tahun di seminari

Tahapan

Seminari menengah (setingkat SMA)

·Jenjang pendidikan selama empat tahun

·Terbagi menjadi empat tingkat. Mulai dari kelas 0

·Pada kelas ini diberlakukan seleksi ketat, serta penyerataan dan masa adaptasi

·Jika lolos seleksi, naik kelas satu hingga tiga

Tahun Rohani

·Jenjang pendidikan selama setahun

·Menjalani masa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus menyiapkan diri sebelum masuk seminari tinggi

Seminari Tinggi

·Jenjang pendidikan selama enam tahun

·Masa memantapkan diri sebagai seorang imam dimulai

Tata Tertib

·Dilarang menyontek

·Mencuri

·Dilarang bermalas-malasan

Sanksi

·Dikeluarkan dari seminari

Hasil Seleksi

·Hanya tersisa sekitar 25 persen dari seluruh calon romo. Sisanya kembali ke masyarakat

(rs/atn/ves/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia