Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Maharani Setyawan, Desainer asal Klaten Pamerkan Lurik di Kanada

26 Desember 2018, 16: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Maharani Setyawan (tengah) bersama para model baju lurik.

Maharani Setyawan (tengah) bersama para model baju lurik. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

MEMILIKI usaha lurik alat tenun mesin (ATM) di Dusun Pencil, Desa Bendo, Kecamatan Pedan, Maharani Setyawan, 36, termotivasi mengembangkan hingga go international. Melalui panggung fashion show.

Gelaran fashion show, awal Desember lalu memberikan kesan tersendiri bagi Maharani Setyawan. Perempuan yang akrab disapa Rani ini merasa terhormat. Seluruh koleksi desain luriknya ditampilkan di acara itu. Karena baru kali ini dipamerkan dihadapan warga Klaten.

Saat itu Rani mengambil tema “Terpikat Lurik”. Menampilkan berbagai desain baju lurik yang begitu modis. Memperlihatkan pola lurik klasik, dipadu padan dengan tenun ikat.

Ciri khas busana karya Rani, yakni penambahan aksesoris. Seperti tas koper yang dibawa sang model berlenggak-lenggok di atas catwalk. Menonjolkan kesan lurik cocok untuk traveling.

”Saya menyadari betul sebagai perajin di lokasi terpencil di Klaten. Ingin banyak orang datang. Sehingga selama setahun terakhir, kerap mengikuti fashion show di Jogja, Solo, dan Jakarta. Bahkan di 2017 kemarin, saya bawa lurik tampil di Ottawa, Kanada,” jelas Rani kepada Jawa Pos Radar Solo.

Sebagai perajin generasi ketiga usaha lurik Prasojo atau owner PT. Kusumatex, Rani punya memiliki tanggungjawab besar. Mengenalkan lurik ke mata dunia. Meski awalnya hanya menjual bahan kain lurik, tetapi kini sudah merambah dunia fashion. Terkait pemasaran, Rani menjajal ritel dan e-commerce.

Berbagai desain yang dibuat pernah digunakan Putra-Putri Lurik 2018. Nah, inilah kesempatan yangtepat untuk mengenalkan lurik ke masyarakat. Termasuk dalam gelaran fashion show yang diinisiasi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), awal bulan ini.

”Sebenarnya berbagai baju dan aksesoris lurik ini sudah pernah ditampilkan di berbagai kota dan sejumlah negera. Malahan di Klaten sendiri baru pertama kali diperlihatkan sehingga belum banyak yang tahu. Baju-baju lurik itu pernah saya bawa ke Kanada dengan melakukan penjahitan selama semiggu sebelum ditampilkan,” kata perempuan pernah merintis bisnisnya catering ini.

Baru setahun menjadi desainer, undangan tampil di berbagai negera berdatangan. Selama ini, permintaan dari berbagai desainer di Indonesia juga berdatangan. Ada yang dari Surabaya, Jakarta, hingga Bandung.

”Kecintaan dan kepedulian saya terhadap lurik ini karena sebagai warisan luhur nusantara yang harus dilestarikan. Kalau bukan kita siapa lagi?” bebernya.

Rani pernah mendapat pesan dari ayah mertuanya untuk serius mengembangkan usaha lurik yang dikelolanya saat ini. Pengembangan usaha dipercakan kepadanya. Dengan syarat usaha terus berjalan meski menghadapi berbagai tantangan.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia