Selasa, 10 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Pemeritah Berupaya Dongkrak Potensi Khas Manisrenggo

28 Desember 2018, 18: 45: 59 WIB | editor : Perdana

KUNJUNGAN: Bupati Klaten Sri Mulyani melihat produk asli dari Kecamatan Manirenggo bersama Camat. 

KUNJUNGAN: Bupati Klaten Sri Mulyani melihat produk asli dari Kecamatan Manirenggo bersama Camat.  (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Pemerintah Kecamatan Manisrenggo tengah berusaha memunculkan produk khas dari sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Harapannya dapat mengangkat perekonomian warga Manisrenggo sendiri dengan berbagai produk yang bisa berdaya saing.

Camat Manisrenggo Wagiya Gambir mengatakan pihaknya terus berusaha memaksimalkan potensi yang ada di wilayahnya. Termasuk pada tahun ini melaksanakan berbagai pelatihan untuk warganya sehingga berwirausaha secara mandiri.

”Sebenarnya kami memiliki banyak potensi kok di UMKM sendiri mulai dari kerajinan, jenang putrid, bakpia hingga emping. Kami dukung pula di pos anggaran meskipun belum bisa maksimal, kami berdayakan warga,” jelas Wagiya kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (27/12).

Belum lama ini diadakan pelatihan pembuatan dawet khas Bayat. Mendatangkan perajin untuk mengajari warga Manisrenggo. Harapannya bisa memicu keanekanragaman produk UMKM di Kecamatan Manisrenggo. Termasuk menjadi bekal bagi warganya sehingga kedepannya bisa membuka usaha di rumahnya masing-masing.

”Kenapa pilihan kami pada dawet karena ini merupakan minuman khas asal Bayat yang perlu kami kembangkan juga. Terlebih lagi peluang penjualannya di Manisrenggo cukup terbuka lebar sehingga perlu dimanfaatkan,” terang Wagiya.

Di antara 16 desa di Manisrenggo, telah berkembang berbagai produk UMKM. Seperti Desa Kepurun yang memproduksi bakpia berbagai rasa. Pengemasannya sudah layak jual Cocok dipasarkan menjadi oleh-oleh khas.

Desa Barukan berkembang anekan keripik. Mulai keripik tempe, keripik pisang, keripik entik, hingga keripik ketela. ”Kami juga punya potensi di produk durian yang sebenarnya sudah lama dikenal. Hanya saja mulai merudup paska erupsi Gunung Merapi pada 2006 lalu. Soalnya ini berkaitan dengan cita rasa durian itu sendiri,” urai camat.

Wagiya menyebutkan ada empat desa yang memiliki potensi dengan buah durian yakni Desa Kepurun, Sapen, Leses dan Ngemplakseneng. Puncak panen buah Durian sendiri terjadi pada November lalu dengan harga yang bervariasi.  Mulai dari Rp 15 ribu untuk ukuran kecil dan besar dari Rp 25 ribu hingga Rp 70 ribu.

“Tapi memang sudah ada perubahan pada durian yang awalnya manis dan wangi. Kini sudah hambar rasanya dan benyek. Saya tidak tahu penyebab pastinya tetapi berubah setelah erupsi Merapi 2006 itu,” jelasnya.

Wagiya mengaku, juga ingin mengembangkan potesni buah durian khas Manirenggo itu. Tetapi diperlukan pengelolaan dari awal sehingga mengembalikan cita rasa duriannya. Harapannya kedepannya bisa dijadikan produk olahanan makanan pula.

Di sisi lain, Pemerintah Desa Kepurun, Kecamatan Manisrenggo sedang melakukan pendataan potensi yang bakal dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata. Salah satunya mengembangkan sebuah sendang bakal menjadi sumber air untuk pembuatan kolam renang. Harapannya dengan adanya kunjungan wisatawan menjadikan sarana promosi berbagai produk khas Kepurun dan Manisrenggo sendiri. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia