Senin, 23 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Olahraga

Tak Ada Pelatih Fiktif

29 Desember 2018, 11: 12: 40 WIB | editor : Perdana

KAGET: Koordinator Para Cycling Indonesia, Fadillah Umar menunjukkan berita terkait isu pelatih fiktif.

KAGET: Koordinator Para Cycling Indonesia, Fadillah Umar menunjukkan berita terkait isu pelatih fiktif. (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Pengurus National Paralympic Commitee (NPC) Indonesia akhirnya buka suara dengan banyaknya berita yang menyudutkan mereka, khususnya terkait adanya tuduhan pelatih fiktif penerima bonus di cabang balap sepeda pada ajang Asian Para Games 2018 di Jakarta. 

"Apa yang diberitakan itu tidak benar, di cabang balap sepeda tidak ada pelatih fiktif,” tegas Rima Ferdiyanto dari Bintek NPC Indonesia.

Sementara itu Koordinator Para Cycling Indonesia, Fadillah Umar juga menunjukkan beberapa lembar surat keputusan NPC tentang penunjukan atlet, manajer, pelatih dan asisten pelatih. Yang mana tidak ada nama Agus Sundardi seperti yang beredar di sosial media. 

”Jadi itu hanya konsep awal, bukan SK final. Berita ini juga tidak benar, bahwa memang tidak ada yang nama Agus Sundardi dalam SK penerima bonus. Di data Kemenpora dan NPC juga tidak ada itu nama itu. Kita juga kecewa dengan ungkapan Puspita. Dia seakan mengungkapkan berhak mendapatkan seluruh bonus yang didapatkan, Padahal asistennya banyak. Lah mau diberi apa mereka.

Dirinya juga menegaskan kepala pelatih para cycling NPC adalah Rizan Setyo Nugroho, bukan Puspita Mustika. 

Dalam draf resmi yang dimiliki NPC, tercatat ada tiga pelatih. Yakni Puspita Mustika, Erik Suprianto, dan Rizan Setyo Nugroho. Sedangkan tercatat ada empat asisten pelatih, yakni Diwan Fiar Pradana, Sandi Krisnandi, Nimal Magfiroh, dam Dani Andrian.

Berita ketidakpuasan soal bonus pelatih dan dugaan adanya pelatih fiktif bermula dari Puspita Mustika Adya mengungkapkannya ke publik. 

Rima Ferdiyanto dari Bintek NPC Indonesia juga mengakui sesuai SK tim balap sepeda ditangani oleh tiga pelatih dan empat asisten, tujuh nama inilah yang menerima bonus secara langsung. Di luar nama tersebut, masih ada beberapa asisten yang yang ikut membentuk tim.

Sudah menjadi kesepakatan pelatih, bahwa asisten yang tidak masuk dalam SK tetap akan diberikan bonus. Yang mana angkanya diambilkan dari tujuh nama yang masuk SK. Tapi rupanya Puspita yang masuk belakangan justru tidak puas menerima bonus sebesar Rp 137 juta.  

”Awalnya pak Pus mau dengan kondisinya, karena tak semua tercatat di pusat, karena kuota terbatas. Bonus itu nanti dibagi sesuai jobnya, total yang didapat dari tujuh bonus tim kepelatihan ini mencapai Rp 2,3 M. Rencananya pembagiannya tidak bertujuh itu, ada banyak tim dibelakangnya yang tidak masuk SK, yang perlu diberi juga,” terangnya. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia