Minggu, 24 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Features

Nostalgia dengan Prajurit Pilih Tanding Keraton

Pasukan Putri Berkamuflase jadi Penari

03 Januari 2019, 18: 43: 19 WIB | editor : Perdana

Nostalgia dengan Prajurit Pilih Tanding Keraton

DI masa kejayaannya, Keraton Kasunanan Surakarta memiliki prajurit-prajurit tangguh pilih tanding. Masing-masing kesatuan sudah mengadopsi sistem kemiliteran modern. Itu pula yang membuat keraton kebanggaan wong Solo disegani.

Hingga kini prajurit-prajurit tersebut tetap eksis. Meskipun banyak yang sudah sepuh, sisa-sisa keperkasaannya masih terlihat. ”Divisi keprajuritan mengadopsi sistem kemiliteran ala Napoleon Bonaparte dengan nama yang berbeda. Di keraton pembagian divisi militer dengan istilah Bergodo,” ujar Gusti Pangeran Haryo (GPH) Dipo Kusumo belum lama ini.

Adik Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi ini menuturkan, pembagian masing-masing kesatuan prajurit digarap dengan serius sesuai tugasnya. Antara lain, pengamanan ring satu keraton ada Bergodo Tamtomo, Prajurit Carang, Prajurit Patang Puluh. 

Bergodo Tamtomo ini berisikan prajurit pilihan yang bertanggung jawab atas keselamatan raja. Ke mana pun raja berada, mereka selalu mendampingi. Kemampuannya di atas rata-rata prajurit lainnya. Jika diibaratkan saat ini, Bergodo Tamtomo itu bisa dikatakan Paspampres-nya raja.

”Mereka merupakan prajurit elit untuk pengaman ring satu keraton,” jelas Dipo.

Nama-nama kesatuan prajurit tersebut diabadikan sebagai nama kampung di Kelurahan Baluwarti yang berada di dalam kompleks Keraton Kasunanan Surakarta. Yakni  ada Kampung Tamtaman, Carangan, dan Patang Puluhan. 

Kesatuan Berlapis-lapis

Pada ring dua pengamanan sang raja, ada kesatuan prajurit Sorogeni, Wiji Pinilih, dan Joyonarantoko. Penamaan kesatuan tersebut juga menjadi nama kampung, yakni Sorogeni menjadi Kampung Sorogenen, Wiji Pinilih jadi Kampung Wiji Pinilihan, dan Prajurit Joyonarantoko jadi Kampung Joyontakan.

”Di lapis lainnya ada Prajurit Joyosuro (bagian artileri) yang namanya diabadikan untuk Kampung Joyosuran, Prajurit Baki (Pekatek Baki) prajurit berkuda yang kini diabadikan jadi Kampung Baki, Sukoharjo,” imbuh Dipo. 

Selain prajurit ring satu dan dua, keraton juga memiliki Prajurit Kepatihan yang diisi Prajurit Prawiro Anom, Prajurit Jayeng Astro, dan Prajurit Dworopati/Doropati.

Penari jadi Pasukan dan Dipersenjatai

Guna memaksimalkan keamanan raja, ada pasukan elit lainnya disebut Panyutro. Prajurit-prajurit ini beranggotakan para perempuan yang kemudian berkamuflase sebagai penari. Prajurit tersebut ahli bela diri dan menggunakan beragam senjata tradisional. Seperti panah, keris, dan cundrik (keris kecil). 

”Khusus mengawal raja jika melakukan kunjungan ke daerah. Seperti upacara Tegak Loji maupun kirab,” kata Dipo.

Seiring perkembangan zaman, prajurit Panyutro juga diisi para pria. Singgih Tri Harsono, 50, adalah salah seorang prajurit pria yang pernah mengisi barisan Panyutro. Dia bergeser menjadi prajurit Panyutro setelah 10 tahun bertugas sebagai prajurit Prawiro Anom dengan kostum hijaunya.  Sebagai prajurit Panyutro, dia terlihat gagah dengan gendewo (busur panah) dan lengkap dengan cundrik sebagai andalan saat berperang.

”Zaman dulu, kalau raja keluar ke wilayah maupun saat upacara adat, prajurit Panyutro berada di sekeliling kereta raja. Tetapi jika Sinuhun tidak keluar, berada di barisan paling belakang sebelum gamelan,” jelas Singgih.

Selain satuan-satuan prajurit tersebut, masih ada pula para abdi dalem yang dibekali kemampuan khusus. Seperti abdi dalem Gandek yang selalu mendampingi raja dan dibekali ilmu beladiri. Abdi dalem Telik Sandi atau mata-mata. Kemudian abdi dalem yang khusus ditempatkan di sekitar sungai bernama juru belah dan juru silem. Tugasnya di Pesanggrahan Langen Harjo dan Pesanggrahan Parangjoro

Kejayaan di masa PB VI

GPH Dipo Kusumo menerangkan, kejayaan prajurit terjadi pada masa PB II. Dan, terus meningkat di zaman PB VI. ”Sistem bela diri asli keraton masih eksis sampai sekarang dengan nama Merpati Putih. Untuk membentengi diri ada juga ilmu tenaga dalam bernama Aji Guno Joyo Kawijayan," katanya.

Masuk zaman PB XI, kualitas prajurit keraton melorot karena Indonesia menghadapi penjajahan Jepang. ”Anggaran kemiliteran dipangkas banyak. Semua dimaksimalkan hanya untuk tentara zaman kemerdekaan sekitar 1942,” jelas dia. 

Sistem keprajuritan makin susut pada masa PB XII saat Sinuhun menyatakan dukungannya pada NKRI yang ditegaskan dengan Maklumat 1 September 1945. Atas dasar tersebut, keraton melebur pasukan pemerintah merebut kemerdekaan. 

Kendati demikian, prajurit keraton tetap diperhitungkan. Salah satunya yakni panglima keraton Kanjeng Gusti Purbonegoro menjadi sekretaris Presiden Ir. Soekarno. "Beliau ikut andil dalam pembentukan dwaja atau simbol-simbol militer dan pembagian divisi kemiliteran di Indonesia bersama Jenderal Urip Sumoharjo dan sebagainya," ucap Dipo. 

Ada pula Jenderal TNI Djatikoesoemo yang dipercaya menjabat kepala staf Angkatan Darat untuk kali pertama dan menjadi Duta Besar di Perancis. “Yang paling kelihatan itu Slamet Riyadi. Beliau anak abdi dalem keraton,” papar Dipo.

Bangga Mengabdi, Tak Kejar Materi

Kini prajurit-prajurit keraton tetap eksis, namun tak lagi dipersiapkan untuk menghadapi peperangan.  Prajurit keraton lebih mengisi fungsi budaya, kesejarahan, dan pariwisata. Dan bukan rahasia lagi bahwa sebagai prajurit atau abdi dalem keraton, penghasilan mereka sangatlah minim, bahkan kurang dan sering tertunda pembayarannya.

Tapi, bagi Singgih Tri Harsono, prajurit atau abdi dalem keraton memang orang-orang yang tulus. Ia dan pendahulu-pendahulunya menyadari bahwa menjadi prajurit atau abdi dalem berarti tidak untuk berharap materi berlimpah.

”Kakek saya  dulunya kan prajurit dan merangkap abdi dalem yang membantu bersih-bersih. Terus nurun ke ayah saya, dan akhirnya saya juga mendapat kesempatan menjadi prajurit keraton,” beber warga Kampung Wirengan, RT 02 RW 06 Kelurahan Baluwarti itu.

Berapa gaji yang diterima? Singgih tak mempedulikannya. ”Jangan bicara soal materi. Prajurit tak memikirkan soal materi. Bahkan tak dibayar pun tetap hadir. Paribasan didawuhi menopo (diperintah,Red) tetap siap. Anak saya kalau lihat saya pakai pakaian prajurit pasti senang,” papar Singgih.

Prajurit lainnya, Kanjeng Raden Tumenggung Sutrisno Budoyonagoro, 52, sebagai personel Bergodo Musik menuturkan, selama 17 tahun mengabdi di keraton sedikit banyak memengaruhi kesehariannya dalam mendidik murid salah satu SMK di Sukoharjo. ”Budaya keraton saya tularkan kepada murid saya,” jelasnya. 

Sedangkan Mas Ngabei Andreas Tanto Jayengdipuro yang bertugas sebagai pembawa panji Radya Laksana, lambang kebesaran Keraton Kasunanan menegaskan, menjadi abdi dalem memiliki berkah besar. "Jika ditimbang, gaji dari keraton tak seberapa. Tapi, jika diterima dengan ikhlas, semuanya bisa jadi berkah. Saya merasa bangga menjadi prajurit pembawa vandel ini," tutur dia.

Komandan peleton dari keseluruhan abdi dalem prajurit KRAT Rajono Projodipuro, 58, memaparkan, abdi dalem adalah orang yang benar-benar ikhlas mengabdi tanpa pamrih. Dari sembilan kesatuan yang dia tangani mulai Bergodo Musik, Bergodo Tamtomo, Prawiro Anom, Jayengastro, Doropati, Jogosuro, Panyutro, Bergodo Baki, dan Sorogeni, rata-rata diisi oleh orang-orang yang sudah sangat lama berhubungan dengan keraton. 

Bahkan beberapa di antaranya ada yang lebih 30 tahun mengabdi. "Kalau saya baru mulai dari tahun 1979. Dulu eyang saya juga abdi dalem keraton, saya melanjutkan. Saat saya kuliah, saya mencoba jadi abdi dalem Pangrawit kemudian bergeser ke prajurit. Segala hal menyenangkan, tinggal keikhlasan masing-masing. Tanpa paksaan, semuanya itu jadi ringan," pungkas pensiunan guru tersebut. (ves/wa/ria)

Sepuluh Kesatuan Prajurit dan Tugasnya

Bergodo Musik            : bertugas memberikan aba-aba saat perang

Bergodo Tamtomo       : prajurit pilihan yang bertanggung jawab atas keselamatan raja

Jayeng Astro         : menyiapkan persenjataan prajurit lainnya saat maju berperang

Prawiro Anom (artileri)  : Pasukan berkuda yang selalu diandalkan dalam penyergapan dan pertempuran jarak jauh

Jayasura                 : bertugas di kekuasaan keraton, dengan berjalan kaki lengkap dengan pedang bertugas patrol

Doropati                 : menyiapkan kebutuhan logistik prajurit lainnya 

Bergodo Baki                 : bertugas di sisi dalam kerajaan dengan senjata andalan tombak dan klewang (pedang)

Sorogeni                 : prajurit-prajurit pilihan andalan keraton dengan fisik lebih tinggi dan kuat dibanding prajurit lain

Joyo Antoko                 : pasukan berani mati karena totalitasnya melindungi kerajaan dengan persenjataan paling moderen, yaitu bedil.

Panyutro                    : beranggotakan perempuan serta pria. Sebenarnya penari keraton, tapi mahir bela diri dan punya senjata andalan cundrik atau keris berukuran mini.

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia