Rabu, 26 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Features

Ini Dia Sosok Sulin Kismanto, Sang Ahli Hias Lampion

05 Januari 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Sulin Kismanto, perajin lampion aneka karakter.

Sulin Kismanto, perajin lampion aneka karakter. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SUDAH puluhan tahun Sulin Kismanto menekuni keahlian menghias lampion. Kepiawaiannya dia ini pelajari secara otodidak. Kini hampir di setiap acara jelang tahun baru Imlek, dia selalu dipercaya menghias lampion di Kota Solo.

Sertiap menjelang tahun baru Imlek, masyarakat Kota Solo pasti menjumpai jajaran lampion yang dipasang di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman (Jensud)  Surakarta. Lampion dengan lambang 12 shio tersebut selalu terpajang menghiasi kota.  Ikon yang ditampilkan pun berbeda-beda dari tahun ke tahun sesuai dengan shio di tahun tersebut.

Orang yang menghias rangkaian lampion ini adalah Sulin Kismanto. Pria 45 tahun ini selama ini selalu dipercaya untuk menghias rangka lampion ketika menjelang tahun baru Imlek. Termasuk menghias lampion shio yang ada di sepanjang Jensud ini.

Awalnya dirinya hanya diminta salah satu pihak untuk membuat hiasan dan rangkaian listrik. Permintaan ini tidak secara langsung dari pemkot, melainkan dari pihak ketiga.

“Saya hanya diminta untuk membuat lampion ini. Tapi bukan dari kerangka, hanya hiasan kain dan instalasi listriknya saja," Ucapnya. 

Shio lampion yang dibuat oleh Sulin ini dipelajarinya secara otodidak. Dirinya diminta membuat lampion ini hanya berdasar gambar saja.  Sedangkan untuk kreasi dirinya tidak banyak melakukan perubahan desain.

“Ya, saya buat sesuai ordernya,” ujarnya. 

Untuk memasang instalasi listrik dan hiasan lampion ini, Sulin mengaku mendapat upah Rp 250 ribu untuk setiap lampion. Selain 12 shio,  biasanya ada kreasi lain yang dibuat.

“Misalnya tahun ini bertepatan dengan Shio Babi, maka saya buat ikon-ikon babi. Atau desain yang menjadi ikon saat Imlek seperti Chai Shen atau Dewa Uang, “ jelasnya.

Tak hanya ikon dalam Imlek,  lampion yang dibuat Sulin juga mulai mendaopsi tokoh-tokoh pewayangan.  Misalnya dirinya pernah membuat tokoh Punakawan.  Hanya saja untuk Punakawan ini, diakui merasa cukup kesulitan. Sebab banyak pernak-pernik yang harus ditambahkan. 

Selain itu untuk lambang shio saat ini dirinya merasa paling sulit mengerjakan di bagian wajah. Sebab banyak bagian dengan berbagai warna yang harus ditempelkan pada kerangka.

“Kalau Punakawan hampir semuanya sulit. Tapi kalau shio mayoritas yang sulit di bagian wajah,” tandasnya. (vit/bun)

(rs/vit/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia