Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Proyek PLTSa Terancam Gagal, Terganjal Perjanjian Jual Beli

05 Januari 2019, 20: 45: 59 WIB | editor : Perdana

Proyek PLTSa Terancam Gagal, Terganjal Perjanjian Jual Beli

SOLO - Keinginan Pemkot Surakarta memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo terancam gagal. Belum adanya perjanjian jual beli listrik (PJBL) antara Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan PT Solo Citra Metro Plasma Power (SCMPP) menjadi penyebabnya.

Hal itu terungkap dalam rapat koordinasi antara pemkot dengan PT SCMPP di ruang rapat wali kota , kemarin (23/11). Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Wali Kota Achmad Purnomo, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sri Wardhani Poerbowidjojo dan Direktur PT SCMPP Elan Suherlan. Elan menyebut masa persiapan yang dilakukan selama dua tahun ini harus kembali mengalami penundaan.

“Dulu kan rencananya 2019 bisa beroperasi, tapi hampir dua tahun baru ada kejelasan. Tahun depan (2019) pembangunan bisa jalan. Tentunya kalau sudah mendapatkan pinjaman dari bank. Proses pembangunan sekitar 18 bulan,” ucapnya seusai rapat.

Elan memperkirakan PLTSa Putri Cempo akan beroperasi pada 2020. Dengan demikian cita-cita pemkot untuk memiliki pengelolaan sampah yang baik harus diurungkan. Sejak awal perencanaan, PLTSa Putri Cempo memang mendapatkan banyak kendala. 

Sejak 2017, pemkot telah melengkapi berbagai syarat administrasi seperti izin pemanfaatan ruang (IPR), studi kelayakan (FS) dan analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal). “Ini semua proses ya, time schedule agak berubah sedikit. Kita akan tetap bekerja maksimal,” imbuhnya.

Sementara itu Kepala DLH Sri Wardhani Poerbowidjojo menyebut mundurnya proyek PLTSa Putri Cempo berdampak pada volume sampah yang kian besar. Sedikitnya 290 ton sampah baru datang ke Putri Cempo. Pemkot sendiri masih menunggu kejelasan dari program ini. 

Wardhani menyebut pemkot tidak dapat masuk terlalu dalam lantaran bola panas sekarang dipegang oleh PLN sebagai calon pembeli tenaga listrik. “Mudah-mudahan nanti PPA (Price Purchase Agreement) bisa lancar. Karena investor sudah menyiapkan mesin. Mesin sudah siap semua. PPA ini kan jaminan. Kalau perjanjian jual beli listrik itu keluar, jelas hasilnya dibeli PLN. Bank juga mau mengeluarkan uang untuk biaya produksi kalau investor memegang PPA,” katanya. (irw/bun)   

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia