Minggu, 24 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Features

Inovasi Purwanto Ubah Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Minyak

Kualitasnya Mirip Premium dan Solar

06 Januari 2019, 10: 10: 59 WIB | editor : Perdana

SEDERHANA: Purwanto saat mengolah sampah plastik menjadi BBM alternatif di gudang rumahnya.

SEDERHANA: Purwanto saat mengolah sampah plastik menjadi BBM alternatif di gudang rumahnya. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) sudah biasa. Yang lebih menarik ada di Dukuh Lebak RT 03 RW 13, Desa Wirun Kecamatan Mojolaban. Salah satu warganya bisa membuat BBM sendiri. 

A. CHRISTIAN, Sukoharjo.

SUHU panas sudah menjadi teman bagi Purwanto ketika sedang memproduksi BBM dari limbah plastik. Dia memanfaatkan bekas gudang rumahnya sebagai “kilang minyak”.

Tabung besi dengan diameter sekitar 40 sentimeter dan tinggi satu meter tersebut mengepul. Asap dari pembakaran sampah plastik di dalam tabung reactor tersebut disalurkan ke dalam pipa besi dengan diameter lebih kecil.

 Sekitar setengah jam, cairan hasil pengupaan masuk ke dalam botol penampung. Itulah, teknik sederhana penyulingan yang dilakukan Purwanto untuk menghasilkan BBM. “Kalau menunggu sampai penuh (botol isi 1 liter, Red) bisa sampai empat jam,” tutur Pria kelahiran Sukoharjo, 14 Mei 1982 ini.

Sebelum dipanaskan, Purwanto membersihkan dan menjemur sampah plastik yang didapatnya dari para tetangga. Setelah sampah plastik benar-benar kering, berlanjut dicacah lalu dimasukkan tungku reaktor. Di bagian bawah tungku dinyalakan bara api dari kayu bakar.

“(Tungku reaktor, Red) muat sampahnya paling cuma dua kilogram. Dari dua kilo bisa jadi dua sampai 2,5 liter BBM. Alatnya ini saya rancang sendiri dibantu saudara saya yang tukang las. Waktu itu modalnya sekitar Rp 1 juta,” katanya.

Setelah bara menyala, limbah plastik dalam tungku yang terpanggang menimbulkan asap dan masuk ke dalam pipa. Di situlah terjadi proses pendinginan dengan bantuan air dan uap asap menghasilkan cairan. “Ini seperti proses penyulingan alkohol,” terang Purwanto.

Proses berikutnya adalah menyaring cairan hasil penguapan. BBM alternatif buatan Purwanto ini telah dicek oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta yang kebetulan sedang kuliah kerja nyata (KKN) di desanya. 

Dari hasil uji lab, BBM dari sampah plastik itu bisa menghasilkan dua jenis bahan bakar. Yakni yang mirip premium dan solar. Ide membuat BBM alternatif tersebut karena perajin genting di desa setempat kesulitan membeli minyak tanah karena harganya selangit. Selain untuk menyalakan tungku pembakaran, BBM tersebut digunakan agar tanah liat tidak lengket di mesin pencetak.

Akhirnya, para perajin mengganti minyak tanah dengan solar. “Untuk mendapatkan solar pun rumit. Harus bawa surat pengantar dari kelurahan dan kecamatan,” ujarnya.

Lalu pada Maret 2018, Purwanto melihat ada acara televisi tentang orang yang membuat BBM dari sampah. Dia pun menirunya dengan mencari informasi tambahan di internet.

Pada tahap percobaan, Purwanto menggunakan tungku reaktor dari bekas kaleng biskuit. Tapi, tidak bertahan lama akibat mudah terbakar. “Baru saya pakai tabung ini (berbahan besi, Red). Waktu percobaan hampir membakar rumah. Sebab, saya tunggu berjam-jam, kok asapnya tidak keluar. Kemudian tutup tungkunya saya buka dan keluar uap panas menyambar barang di sekitarnya hingga terbakar,” kenang dia.

Setelah dicari penyebabnya, ternyata pipa penyulingan terlalu panjang, sehingga proses pendinginan tidak sempurna. Kini, BBM buatan Purwanto tidak hanya digunakan untuk proses pembuatan genting, tapi juga bahan bakar kendaraan.

“Tetanga saya juga pada pakai. Ada yang murni ada yang dicampur dengan bensin. Memang, konsekuensinya setiap bulan karburator harus dibersihkan. Karena BBM jenis ini karbonnya cukup tinggi,” terangnya. 

Hasil penyulingan yang menyerupai premium, Purwanto membanderol Rp 6.000 per liter. Sedangkan yang mirip solar, Rp 5.000 per liter. BBM alternatif itu, lanjutnya, pernah dibawa anggota DPRD Kabupaten Sukoharjo untuk ditunjukkan ke Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto. 

“Alhamdullilah, katanya saya mau dikasih alat yang tungkunya lebih besar sekitar bulan Juli ini. Jadi produksinya bisa lebih banyak,” ucap dia.

Purwanto berharap, BBM alternatif tersebut sebagai upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Yakni, mengurangi penggunaan plastik dan tidak membuang sampah sembarangan.

“Pikiran saya awal itu sekadar mengurangi sampah di kampung saya dan membuat bahan bakar pengganti,” kata dia. (*/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia