Jumat, 22 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Features

Derita Balita Penderita Kulit Bersisik dan Mata Susah Terpejam

08 Januari 2019, 07: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Clauditya Okta bermain didampingi orang tuanya.

Clauditya Okta bermain didampingi orang tuanya. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

KONDISI miris dialami balita asal Wonogiri, Clauditya Okta Saputra. Sejak lahir hingga saat ini usia 2,5 tahun tidak bisa memejamkan mata. Dokter mendeteksi bocah ini menderita Ichthyosis Lamellar (kulit bersisik).

Pagi tu gerimis sudah turun di rumah pasangan Riyadi, 45, dengan Wiratmi, 46, warga Sambirejo RT 01 RW 04, Desa Bumiharjo, Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri. Rumah bergaya limasan itu tampak tertutup rapat. Penghuninya tidak ada tempat. Namun, seorang tetangganya yang mengetahui kedatangan koran ini langsung menyapa kemudian bergegas memanggilkan penghuni rumah. 

Saat itu penghuni rumah yang juga pasangan suami istri Riyadi dan Wiratmi itu memang sedang berada di pendidikan anak usia dini (PAUD) yang tidak jauh dari rumahnya. Tak lama kemudian, Riyadi dan Wiratmi pun datang lalu membukakan pintu lalu mempersilakan koran ini masuk rumahnya. 

“Maaf, kami tadi ke PAUD. Kalau pagi biasa mengantar tole (anak) ini ke PAUD, biar ikut main di sana,” kata Wiratmi sembari menunjuk seorang bocah laki-laki yang digendongnya. 

Bocah itu tidak seperti anak pada umumnya. Hampir seluruh kulit di tubuhnya seperti mengalami luka bakar yang mengelupas, seperti bersisik. Ya, Clauditya Okta Saputra sejak lahir 19 Oktober 2016 lalu memang menderita kulit bersisik. 

“Sudah menjalani pengobatan rutin di Solo (RSUD dr Moewardi Solo) dan Wonogiri (RSUD dr Soediran Mangun Sumarso),” kata Wiratmi, ibu dari Clauditya. 

Tangan, kaki, badan, dan kepala bocah ini kulit arinya mengelupas. Bahkan kulit-kulit di sekitar matanya juga tertarik, timbul kerutan seperti luka yang akan sembuh sehingga mata bocah ini tidak bisa berkedip. Bahkan jika tidur matanya tidak terpejam. 

“Ya melek terus, sejak lahir. Dari rumah sakit sudah dikasih salep. Bahkan kadang dokter kulitnya tidak bayar, disuruh bawa saja salepnya,” tambah sang ayah Riyadi. 

Riyadi sendiri hanya seorang tukang bangunan, jika tidak sedang ada borongan proyek dirinya di rumah bertani dan merawat ternaknya. Sedangkan Wiratmi ibu rumah tangga, yang setia merawat rumah tangganya, apalagi si kecil Clauditya Okta Saputra. 

“Kasihan kalau cuaca sedang panas, kulitnya kering dan merasa kesakitan. Biasanya kalau sudah merasa panas dia minta mandi,” kisah Riyadi. 

Sebulan sekali, keluarga kecil ini harus menebus pelembab, krim dan lainnya untuk perawatan Clauditya. Jarak dan transportasi bisa ditempuh, namun biaya tidak selalu ada.  

Untuk biaya obat sebenarnya ditanggung BPJS Kesehatan. Hanya saja, kalau krim dan pelembab dari rumah sakit sudah habis sebelum jadwal periksa, maka terpaksa beli sendiri.

“Biaya tiap bulan semakin berat untuk  perawatan beli krim dan pelembab. Terkadang belum sebulan sudah habis, karena krimnya sedikit, tidak cukup mengoles ke seluruh tubuh,” katanya. 

Sebagai orang tua, Riyadi dan Wiratmi berusaha keras untuk merawat anak laki-lakinya itu. Mereka hanya bisa pasrah dengan kondisi anaknya sembari berharap anaknya sembuh dari penyakit langka tersebut. (kwl/bun)

(rs/kwl/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia