Minggu, 17 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Iwan Andranacus Dituntut 5 Tahun Hukuman Penjara

08 Januari 2019, 19: 02: 13 WIB | editor : Perdana

Iwan Andranacus Dituntut 5 Tahun Hukuman Penjara

SOLO – Setelah sempat ditunda sebanyak dua kali, sidang tuntutan terhadap terdakwa kasus kecelakaan maut, Iwan Adaranacus digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surakarta Selasa (8/1) siang. Dalam persidangan tersebut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Surakarta menuntut terdakwa dengan 5 tahun penjara.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Solo sidang yang dipimpin dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim,  Krosbin Lumbangaul,  dengan dua hakim anggota,  Sri Widiastuti dan Endang Makmun dimulai sekitar pukul 12.00 kemarin dimulai dengan pembacaan rekapan rangkaian persidangan sebelumnya. Pembacaan tersebut dilakukan secara bergantian oleh Titiek Maryani dan Satriawan Sulaksono, JPU Kasus tersebut. 

Satriawan mengatakan ada unsur kesengajaan terhadap kasus ini, dimana kejadian ini merupakan dampak dari emosi terdakwa setelah bagian bamper belakang Mobil Marcedez-Bens AD 888 QQ ditendang oleh korban Eko Prasetyo sebanyak dua kali. Yaitu didepan rumah terdakwa dan disimpang empat KFC Manahan.

“atas dasar itu, Kemudian korban memerintahkan ketiga temannya untuk mengejar korban. Dan terdakwa juga mengejar pelaku dalam keadaan sadar. Serta dari keterangan para saksi, terdakwa sampai melawan arah ruas jalan KS Tubun,” katanya.

Atas dibawah sadar tesebut, lanjut Satriawan, pihaknya mengatakan ada kesengajaan, terlebih terdakwa mengemudikan kendaraan dalam keadaan emosi. Hal tersebut yang menyebabkan terdakwa lepas kontrol dan menabrak korban hingga meninggal. Atas dasar itulah terdakwa lantas dijerat dengan pasal 338 KUHP tetang pembunuhan dan pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang membuat korban meninggal dunia.

Sementara itu, Titiek menuturkan pihaknya juga mempertimbangkan terkait adanya tali asih sebesar Rp. 1,1 miliar yang telah diterima oleh pihak ahliwaris dari korban, yakni istri Eko. Kemudian muncul surat pernyataan yang ditulis oleh istri korban, dimana pihak keluarga sudah ikhlas dan menyerahkan kasus ini kepada pihak yang berwajib.

“kedua hal tersebut kemudian menjadi pertimbangan kami untuk membuat tuntututan terhadap terdakwa. Sehigga kami menuntut terdakwa dengan dengan hukuman 5 tahun hukuman penjara,” pungkas Titiek.

Setelah mendengarkan tuntutan dari JPU, Krosbin lantas meminta terdakwa untuk berdiskusi dengan tim kuasa hukumnya. Dari hasil rundingan pihak terdakwa akan melakukan Pledoi atau pembelaan. Krosbin lantas menjadwalkan sidang pekan depan, namun dari kuasa hukum siap melakukan pembelaan Kamis (10/1) besok.

“bagus, lebih cepat lebih baik. Dan kami harap tim kuasa hukum bisa menyelesaikan berkas pembelaan sebelum dibacakan lusa (besok,Red). Kalau sudah tidak ada lagi yang dipertanyakan maka sidang hari ini ditutup dan dilanjukan Kamis dengan agenda pledoi,” pungkas Krosbin sembari mengetuk palu.

Saat akan dibawa kembali ke tahanan, secara spontan, Ayah kandung Eko, Suharto memeluk Iwan. Bahkan dia merangkul terdakwa sampai depan tuangan tahanan PN Surakarta. Dimintai tanggapan terkait sidang kemarin, Iwan mengaku ikhlas. “saya ikhlas, saya masih yakin kalau hukum di indonesia masih bisa ditegakkan secara Adil,” ujarnya.

Ditemui usai persidangan, Pengacara terdakwa, Joko Hariadi menuturkan pada prinsipnya pihaknya masih bersikukuh kalau kasus ini bukanlah pembunuhan namun kecelakan murni. Sehingga pasal yang seharusnya digunakan untuk melakukan penuntutan adalah  Pasal 311 ayat 5 UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“padalah pasal 338 tersebut berdasarkan kesaksian 3 orang rekan Iwan, Dionisius Ndale, Leo Mentario dan Nataliz Kraiz Dura,yang satu kendaraan dengan klien kami dimana mereka tidak pernah dihadirkan dalam proses persidangan. Itu yang menjadi alasan mereka. Menurut hukum KUHAP pasal 185, itu tidak dapat dinilai, Karena tidak hadir dalam persidangan,” kata Joko. 

Ditambahkan Joko, sehingga jeratan dari JPU tidak objektif, sebab ketiga saksi tersebut tidak menerangkan secara langsung kepada majelis hakim. “ini kasus pidana, bukan perdata, harus dijelaskan secara langsung dipersidangan, seperti apa sebenarnya kejadian didalam mobil, tidak bisa sekedar membacakan BAP, walau sudah disumpah didepan Penyidik,” katanya.

Hal ini yang nantinya akan dimasukkan dalam salah hal dalam pembelaan guna meringankan atas jeratan terhadap Iwan. “jadi kami masih menggap ini kecelakaan murni, sebab tidak ada saksi yang mengatakan kalau ada unsur pembunuhan. Apalagi kesengajaan. yang jelas kami sangat menyayangkan,” ujarnya. (atn)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia