Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Caleg Percaya Ritual karena Miskin Program

08 Januari 2019, 20: 16: 59 WIB | editor : Perdana

Ilustrasi ritual

Ilustrasi ritual

Share this      

SOLO – Fenomena calon anggota legislatif (caleg) yang melakukan ritual-ritual tertentu diduga mereka belum baik secara mental maupun program. Akhirnya mereka mengenyampingkan pikiran rasional mereka dan memilih untuk menempuh cara-cara tidak lazim. 

Pakar Psikologi Universitas Sebelas Maret Anayanti Rahmawati menuturkan, karena ketidaksiapan program yang akan ditawarkan ke masyarakat, mereka lebih memilih jalan pintas dengan lebih percaya mitos. “Dengan harapan mereka bisa menang dan sebagainya. Padahal hal tersebut bukan jaminan, bahkan tidak ada korelasinya,” tuturnya.

Ana menjelaskan, fenomena ini menang kerap berkembang, terutama di daerah-daerah yang masih menjunjung tinggi adat istiadat. Mereka lebih percaya dengan saran orang yang dituakan, ketimbang membuat program ketika nantinya terpilih menjadi wakil rakyat. 

“Seperti dulu, ada kepercayaan kalau mau ujian materi pelajarannya dibakar, lantas abunya dimasukkan air kemudian diminum. Jadi ini sama, mereka percaya dengan berendam di telaga atau tidur di makam, bisa membuat mereka menang pemilu. Padahal yang membuat menang adalah suara dari rakyat,” ungkapnya.

Ana menambahkan, kejiwaan para caleg yang melakukan ritual-ritual tersebut harus dipertanyakan, karena bisa berbahaya kalau mereka bisa terpilih. Mereka nanti akan menduduki kursi dan mewakili aspirasi masyarakat. “Bagaimana nanti mereka bisa berpikir rasional saat sudah menjabat, bisa-bisa malah tidak ada solusi,” ujar Ana.

Disinggung terkait caleg yang kemudian stress pasca tidak menang, Ana menuturkan hal tersebut bisa terjadi. Biasanya dialami oleh mereka-mereka yang mengeluarkan modal besar. “Ini ya sama, karena tidak memiliki program, mereka rela mengeluarkan uang lebih, agar menarik minat masyarkat untuk memilih dia,” katanya.

Padahal dalam pemilu seperti sekarang ini, kemenangan tidak ditentukan oleh uang semata. Masyarakat kini semakin pintar, siapa wakil rakyat yang benar-benar bisa menyejahterakan rakyat atau hanya mementingkan kelompok tertentu. Sehingga mengeluarkan modal berupa uang bukan jaminan mereka bisa menang dalam pemilihan,” papar Ana.

Untuk itu, imbuh Ana, para caleg harus memiliki persiapan mental yang kuat, karena kemungkinan dalam pesta demokrasi hanya dua, terpilih dan tidak. “Keluarga caleg yang harus siap mentalnya, karena risiko mendaftarkan diri menjadi caleg memang besar. Sehingga dukungan dari orang terdekat, dalam hal ini keluarga sangat besar kontribusinya,” ujarnya.

Kemudian yang perlu disadari adalah tujuan mereka mencalonkan diri. Jika tujuannya tidak soal materi semata, maka terpilih atau tidak, bukan menjadi masalah. Paling penting bagaimana nanti aspirasi caleg tetap tersalurkan meski belum terpilih.

Sementara itu, Kepala Humas Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Arif Zainudin Surakarta Totok Hardiyanto menuturkan, ritual yang dilakukan para caleg lebih kepada unsur kepercayaan semata. “Karena kita tidak percaya itu, jadi mereka kita anggap gangguan jiwa. Padahal itu urusan kepercayaan semata,” ungkapnya.

Namun untuk menentukan apakah mereka mengalami gangguan jiwa atau tidak harus menjalani pemeriksaan dulu secara medis. Namun sayangnya, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kejiwaan mereka masih kurang. Di mata masyarakat, penyakit gangguan kejiwaan termasuk aib. “Padahal itu penting. Selama ini masyarakat hanya memeriksa fisik, namun untuk memeriksa psikis mereka masih arang,” ujar Totok.

Sementara itu, apakah ada caleg yang sempat mengalami gangguan jiwa setelah gagal terpilih, Totok tidak bisa menjelaskan hal tersebut. Hal ini kembali ke masing-masing pasien. Karena ini urusannya terkait etika. “Terkecuali dari pihak yang bersangkutan memang tidak keberatan,” ujarnya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia