Minggu, 24 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Bos Pabrik Cat Dituntut 5 Tahun Penjara

09 Januari 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Terdakwa  Iwan Adranacus  berpelukan dengan ayah korban di PN Solo, Selasa (8/1).

Terdakwa  Iwan Adranacus  berpelukan dengan ayah korban di PN Solo, Selasa (8/1). (A CHRISTIAN/RADAR SOLO)

SOLO - Setelah sempat ditunda dua kali, sidang tuntutan terhadap terdakwa kasus kecelakaan maut, Iwan Adranacus digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surakarta Selasa kemarin (8/1). Dalam persidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Surakarta menuntut terdakwa dengan 5 tahun penjara.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Solo sidang yang dipimpin  oleh Ketua Majelis Hakim Krosbin Lumbangaul,  dengan dua hakim anggota,  Sri Widiastuti dan Endang Makmun dimulai sekitar pukul 12.00. JPU Titiek Maryani dan Satriawan Sulaksono membacakan tuntutan secara bergantian.

Satriawan mengatakan, ada unsur kesengajaan terhadap kasus ini, di mana kejadian ini merupakan dampak dari emosi terdakwa setelah bagian bamper belakang Mobil Marcedez-Bens AD 888 QQ ditendang oleh korban Eko Prasetyo sebanyak dua kali. Yaitu di depan rumah terdakwa dan di simpang empat KFC Manahan.

“Atas dasar itu, kemudian korban memerintahkan ketiga temannya untuk mengejar korban. Dan terdakwa juga mengejar pelaku dalam keadaan sadar. Serta dari keterangan para saksi, terdakwa sampai melawan arah ruas jalan KS Tubun,” katanya.

Pihaknya mengatakan ada kesengajaan, terlebih terdakwa mengemudikan kendaraan dalam keadaan emosi. Hal tersebut yang menyebabkan bos pabrik cat ini lepas kontrol dan menabrak korban hingga meninggal. Atas dasar itulah terdakwa lantas dijerat dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang membuat korban meninggal dunia.

Sementara itu, Titiek menuturkan, pihaknya juga mempertimbangkan terkait adanya tali asih sebesar Rp 1,1 miliar yang telah diterima oleh pihak ahli waris dari korban, yakni istri Eko. Kemudian muncul surat pernyataan yang ditulis oleh istri korban, di mana pihak keluarga sudah ikhlas dan menyerahkan kasus ini kepada pihak yang berwajib.

“Kedua hal tersebut kemudian menjadi pertimbangan kami untuk membuat tuntutan terhadap terdakwa. Sehingga kami menuntut terdakwa dengan hukuman 5 tahun hukuman penjara dikurangi masa tahanan yang telah dijalani terdakwa,” jelas Titiek.

Setelah mendengarkan tuntutan dari JPU, Krosbin lantas meminta terdakwa untuk berdiskusi dengan tim kuasa hukumnya. Dari hasil rundingan pihak terdakwa akan melakukan pledoi atau pembelaan. Krosbin lantas menjadwalkan sidang pekan depan, namun dari kuasa hukum siap melakukan pembelaan Kamis (10/1) besok.

Saat akan dibawa kembali ke tahanan, secara spontan, ayah kandung Eko, Suharto memeluk Iwan. Bahkan dia merangkul terdakwa sampai depan ruangan tahanan PN Surakarta. Dimintai tanggapan terkait sidang kemarin, Iwan mengaku ikhlas.

“Saya ikhlas, saya masih yakin kalau hukum di Indonesia masih bisa ditegakkan secara adil,” ujarnya.

Ditemui usai persidangan, pengacara terdakwa, Joko Hariadi menuturkan, pada prinsipnya pihaknya masih bersikukuh kalau kasus ini bukanlah pembunuhan namun kecelakaan murni. Sehingga pasal yang seharusnya digunakan untuk menuntut adalah  pasal 311 ayat 5 UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“Padahal pasal 338 tersebut berdasarkan kesaksian tiga orang rekan Iwan, Dionisius Ndale, Leo Mentario dan Nataliz Kraiz Dura, yang satu kendaraan dengan klien kami di mana mereka tidak pernah dihadirkan dalam proses persidangan. Itu yang menjadi alasan mereka. Menurut hukum KUHAP pasal 185, itu tidak dapat dinilai, karena tidak hadir dalam persidangan,” kata Joko.

Dengan demikian kata Joko, jeratan dari JPU tidak objektif. Sebab, ketiga saksi tersebut tidak menerangkan secara langsung kepada majelis hakim.

“Ini kasus pidana, bukan perdata, harus dijelaskan secara langsung di persidangan, seperti apa sebenarnya kejadian di dalam mobil. Tidak bisa sekadar membacakan BAP, walau sudah disumpah di depan penyidik,” katanya. (atn/bun)

(rs/atn/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia