Rabu, 20 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Tingkat Kunjungan Museum Karst Lesu

09 Januari 2019, 14: 37: 40 WIB | editor : Perdana

PERLU REVITALISASI: Museum Karst yang menjadi salah satu andalan Pemkab Wonogiri mendongkrak PAD.

PERLU REVITALISASI: Museum Karst yang menjadi salah satu andalan Pemkab Wonogiri mendongkrak PAD. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

WONOGIRI – Ditutupnya kunjungan wisatawan Museum Karst di Pracimantoro berdampak langsung terhadap pendapatan sektor pariwisata objek setempat. 

Karena itu, pada tahun ini, Museum Karst akan dikembangkan melalui dana alokasi khusus. Pemandu Museum Karst Dian Puspita mengatakan, selama 2018, kunjungan ke museum tersebut hanya sebanyak  50.000 orang. Padahal biasanya bisa tembus 80.000 orang.

Kondisi tersebut disebabkan ada bagian bangunan museum yang ambles sehingga terpaksa dilakukan penutupan museum.

Ditambahkan Dian, untuk masuk ke Museum Karst tidak dipungut biaya. Hanya saja, ketika mengakses kawasan sekitar Museum Karts dikenakan biaya Rp 5.000 per orang untuk hari biasa, dan Rp 6.000 saat akhir pekan.

Sekretaris Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Fredy Sasono mengakui, tingkat kunjungan ke kawasan Museum Karst menurun. "Kita ditarget (sumbang, Red) PAD (pendapatan asli daerah, Red) sekitar Rp 200 juta dari kawasan Museum Karst. Tapi, hanya tercapai Rp 196 jutaan. Kurang Rp 4 jutaan. Kemudian Gua Putri Kencono target Rp 20 juta, hanya mendapat Rp 17 juta," urai Fredy kemarin (8/1).

Sedangkan target total pendapatan dari sektor pariwisata, lanjut Fredy mencapai Rp 5,5 miliar. Beruntung, objek wisata Waduk Gajah Mungkur bisa memenuhi keseluruhan target. “Jadi over target Rp 40 jutaan," terangnya.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Sentot Sudjarwoko mengatakan, Museum Karst akan digelontor Rp 2,4 miliar dari dana alokasi khusus. Anggaran tersebut digunakan untuk mengembangkan kawasan museum dengan akan dilengkapi arena bermain. (kwl/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia