Minggu, 17 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Survive di Tengah Tingginya Harga Bahan Baku

09 Januari 2019, 15: 52: 58 WIB | editor : Perdana

RAMBAH PASAR EKSPOR: Seorang pekerja sedang menyelesaikan pembuatan kerajinan tembaga di Desa Tumang, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Selasa (8/1).

RAMBAH PASAR EKSPOR: Seorang pekerja sedang menyelesaikan pembuatan kerajinan tembaga di Desa Tumang, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Selasa (8/1). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Harga bahan baku tembaga sudah meroket sejak medio 2017. Kendati demikian, para perajin tembaga di Desa Tumang, Cepogo, Boyolali maih bisa bertahan. Carabta dengan tetap mempertahankan kualitas serta meningkatkan inovasi desain produk.

Aji Prasetyo, Admin sekaligus Marketing Muda Tama Gallery 2 Desa Tumang menyebut kenaikan bahan baku sekitar 25 persen. Saat ini per lembar berkisar Rp 1,5 juta. Supaya bisa bertahan, para perajin ikut menaikkan harga produk di kisaran 10-15 persen. Diimbangi dengan inovasi produk yang dihasilkan.

”Kualitas, ketahanan produk terhadap cuaca sangat kami perhitungkan. Memang banyak pembeli mengeluh harganya tinggi. Tapi kami sesuaikan dengan harga bahan baku dan juga biaya pembuatan. Karena produk yang kami tawarkan benar-benar art handicraft,” kata Aji kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (8/1).

Para perajin tembaga di Tumang menawarkan berbagai macam produk. Tiap tahun, tren pesanan tembaga bervariasi. Terkadang, sejumlah galeri menerima pesanan sesuai keinginan customer. Tidak selalu berupa produk jadi.

”Tren tiap tahun berbeda dan kami mengikuti selera pasar. Di era 90-an, trennya bentuk ukir. Era 2000-an lebih suka model minimalis tanpa ukiran. Sejak 2017 trennya model polosan dan di 2018 balik lagi ke model ukir. Mengikuti selera pelanggan itu penting untuk menjaga pasar,” sebut Aji.

Owner Intermedia Logam, Sriyanto juga mengakui dampak kenaikan harga bahan baku. Berpengalaman selama 2 dekade menggeluti kerajinan tembaga, dia mengaku terbiasa menghadapi masalah tersebut. Kuncinya mempertahankan kualitas, ketepatan waktu pembuatan, dan relasi pemasaran. Menjaga ketepatan waktu pesanan, dia menggandeng perajin rumahan.

”Bahan baku memang mahal, tapi kami punya pasar yang sangat luas. Pembelinya rata-rata menengah ke atas. Jadi saat harga produk kami naikkan, tidak masalah. Apalagi pasar kami mayoritas dari luar negeri,” ujar pria yang juga Ketua Paguyuban Perajin Tembaga Tumang ini. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia