Minggu, 16 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Kondisi Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara Sudah Overload

10 Januari 2019, 12: 52: 32 WIB | editor : Perdana

SITAAN NEGARA: Kepala Rupbasan Surakarta Sudjarsono menunjukkan barang yang dititipkan kemarin.

SITAAN NEGARA: Kepala Rupbasan Surakarta Sudjarsono menunjukkan barang yang dititipkan kemarin. (A CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Kondisi Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Kelas I Surakarta sudah overload. Tempat yang digunakan untuk menampung barang bukti kasus-kasus tindak pidana yang ditangani penegak hukum di wilayah eks Karesidenan Surakarta ini sudah mendesak diperluas. Namun, permintaan tersebut hingga sekarang belum terealisasi.

Kepala Rupbasan Kelas I Surakarta Sudjarsono menuturkan, Rupbasan dibangun di tanah seluas 400 meter persegi. Tanah tersebut 200 meter persegi digunakan sebagai kantor administrasi, sehingga hanya menyisakan separo tanah untuk gudang penyimpanan.

Hal ini sangat berbanding jauh dengan standar yang ditentukan di mana luas tanahnya seharusnya 10 ribu meter persegi. Berdasar aturan dari Kementerian Hukum dan HAM, untuk gudang ada tiga jenis. Pertama gudang terbuka untuk menyimpan kendaraan, gudang barang berharga untuk menyimpan BB berupa emas, dan alat elektronik serta lain-lain.

“Serta gudang barang berbahaya untuk menyimpan bahan kimia, narkotika dan senpi. Tapi di sini BB semua menumpuk di satu gudang, ibaratnya untuk menyimpan 30 motor saja sudah penuh,” imbuh Sudardjono.

Pria ini mengatakan sudah sempat mengajukan permohonan tempat di Kementerian Hukum dan HAM,  namun belum terealisasi. “Saya juga pernah silaturahmi ketemu Pak Wali (Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudiyatmo) tanya apakah ada tanah yang bisa digunakan untuk lokasi Rupbasan yang baru, kalau masih kami akan mengajukan permohonan,” katanya.

Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Akhirnya sementara ini diatur sedemikian rupa agar barang sitaan yang dititipkan di tempat itu bisa tertampung. Pihaknya juga mengimbau kepada instansi untuk terus melaporkan hal terkait perkembangan kasus yang barang buktinya dititipkan ke pihaknya. 

“Dengan begitu kami tahu BB dititipkan di sini sampai kapan, sehingga sirkulasinya jelas. Karena  sepanjang tahun lalu belum ada barang yang keluar,” katanya.

Pria ini mengurai, total ada 767 barang bukti yang dititipkan di lokasi tersebut dari 767 kasus, 753 masih pada tahap penyelidikan, sedangkan sisanya sudah pada tingkat banding. Barang bukti tersebut berasal dari wilayah hukum Surakarta, Sukoharjo, dan Pengadilan Tinggi Semarang.

Dari barang bukti yang dititipkan di lokasi tersebut, lanjut Sudjarsono, yang paling menonjol merupakan Pengadilan Tinggi Semarang berupa 6 unit alat pembuatan obat. “Yaitu kasus pabrik PCC yang digeledah Polda Jateng. Kemudian saat ini sudah sampai pada tingkat banding, kita menunggu kasus ini inkrah, apakah mesinnya akan dimusnahkan atau bagaimana,” katanya.

Selain itu dana perawatan untuk barang bukti yang dititipkan pun tidak ada. Sehingga untuk pemeliharaan hanya dilakukan seadanya. Misal kendaraan hanya dipanasi rutin mesinnya setiap hari agar tidak sampai rusak. 

Pihaknya juga mengembangkan sistem komunikasi. Di mana akan diterapkan sistem online guna mengakses apa saja aset yang dititipkan di Rupbasan. “Jadi akan lebih mudah untuk ke depannya. Apabila untuk keperluan persidangan hakim tinggal memasukkan nomor registrasi, dan data akan terkait aset dan kasus apa akan muncul,” ujar dia.

Dengan sistem online juga akan mudah bagi instansi penegak hukum ketika akan menitipkan barang bukti. Sehingga datanya dulu masuk baru disusul barangnya. Karena selama ini barang datang baru didata. “Untuk itu akan saya perbaiki dulu dari internal kami. Apakah petugasnya siap atau belum dengan sistem itu,” ujarnya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia