Minggu, 17 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features
Suplemen Pembentuk Otot, Yes or No?

Awas, Mimpimu untuk Pamer ‘Roti Sobek’ Malah Bisa Kandas

10 Januari 2019, 21: 51: 35 WIB | editor : Perdana

Awas, Mimpimu untuk Pamer ‘Roti Sobek’ Malah Bisa Kandas

SIAPA yang tak terpesona saat pebulu tangkis peraih medali emas dalam Asian Games 2018 Jonathan Christie alias Jojo membuka kausnya dan memamerkan perutnya yang sixpack? Cewek-cewek pun pada ngiler begitu melihat perutnya yang seksi bak ‘roti sobek.’ Demam Jojo buka kaus pun akhirnya membuat cowok-cowok mendambakan memiliki perut ‘roti sobek.’  

Ada yang kemudian melakukan latihan dan penuh disiplin untuk mendapatkan tubuh dan perut seksi. Namun, ada pula yang berpikir jika cara-cara konservatif seperti itu sudah tak lagi maksimal. Mereka kemudian mulai mencari cara yang lebih ekstrem. Mereka merasa lebih percaya diri jika juga mengonsumsi berbagai suplemen untuk memaksimalkan massa otot. Risiko pun seringkali diabaikan.  

Salah seorang pecinta gym, Aksatria Dipta, 27, mengaku sempat tertarik mengonsumsi suplemen dengan cara injeksi. Dirinya mulai mencari tahu apa saja dan berapa besar biaya untuk menjalani proses injeksi tersebut. 

”Sempat tertarik, saya mulai tanya sana-sini. Kisaran harga yang paling murah buat serum penambah hormon itu Rp 3 juta untuk 20 kali injeksi. Bahkan ada juga yang kisaran harganya antara Rp 800 ribu sampai Rp 1,5 juta untuk sekali suntik,” kata Aksatria.

Otot Terbentuk Lebih Cepat

Setelah tahu harganya, Aksatria mulai bertanya-tanya di mana tempat yang bersedia untuk menyuntikkan itu. Dari informasi yang ia dapat, banyak kalangan pecinta gym yang melakukan proses injeksi secara mandiri alias suntik sendiri. Sementara lainnya dibantu oleh beberapa dokter langganan masing-masing. Efeknya, pembentukan otot yang memerlukan waktu paling cepat 6 bulan latihan bisa terlihat hanya dalam 4 bulan saja.

“Sempat mau beli, tapi katanya kawan-kawan percuma kalau tidak rutin latihan. Nah, karena saya tak bisa rutin latihan, akhirnya saya batalkan niatan saya itu,” beber dia.

Meski batal melakukan hal tersebut, justru kini dirinya merasa beruntung. Sebab, salah serang kenalannya menceritakan sebuah musibah lantaran pemakaian injeksi yang salah. Kejadian tersebut dialami oleh salah seorang bina raga senior yang harus diamputasi kakinya akibat  infeksi dari serum tersebut. 

”Secara pribadi saya tidak kenal, hanya sebatas tahu saja. Orang itu memang sudah sering pakai suplemen injeksi. Dan kebetulan sudah biasa suntik sendiri di pantat atau di lengan. Mungkin karena salah suntik, akhirnya timbul infeksi di bekas lokasi suntik itu,” jelas Aksatria.

Sebelum diamputasi, sambung Aksatria, kenalannya tersebut sempat mengalami pembusukan yang cukup lebar. Setelah melalui beberapa pemeriksaan, ternyata memang benar hal ini terjadi karena salah prosedur penyuntikan. 

Karena infeksi sudah menjalar ke seluruh bagian kaki, akhirnya harus menjalani prosedur amputasi untuk kaki bagian kanan. “Kalau katanya itu biasanya suntik sendiri sambil tengok di depan kaca. Mungkin salah posisi waktu menyuntik atau malah karena alat suntiknya tidak steril. Jadi ya takut juga. Akhirnya saya pilih tidak pakai hal macam itu,” tutup dia.

Pastikan Suplemen Aman

Personal Trainer Guns Gym Solo Yudatama mengatakan, mengonsumsi suplemen bagi atlet memang tidak dilarang. Tapi, harus dipastikan bahwa suplemen itu aman untuk dikonsumsi. Artinya, produk suplemen tersebut tercatat oleh dinas kesehatan (dinkes) serta memiliki nomor label yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 

”Ini (suplemen, Red) beli di toko atau lewat online sudah banyak. Ada beragam jenis dan mereknya yang memiliki fungsi yang berbeda-beda antara satu suplemen dengan suplemen lainnya,” kata dia.

Yang perlu diperhatikan adalah cara pemakaian dan peruntukan suplemen itu. Misalnya, suplemen untuk menghancurkan lemak atau suplemen untuk meningkatkan massa otot yang juga membantu mempercepat masa pemulihan saat menjalani proses latihan pembentukan otot. Kendati demikian, ada beberapa suplemen yang memiliki kadar dan fungsi lebih tinggi dari suplemen lainnya. Salah satunya adalah serum yang dipakai dengan cara disuntikkan. 

”Ini memang aman dan biasa dipakai. Biasanya disuntikkan sebelum kontes agar lemak kulit bisa kering. Jadi setelah disuntik dipakai latihan sedikit sebelum ikut kontes, fungsinya biar seluruh otot tubuh terlihat maksimal,” jelas Yuda.

Sayangnya, tak semua paham akan hal itu. Ada yang terburu-buru menggunakan tanpa melihat efek jangka panjang yang ditimbulkan. Contoh kasus, sambung Yuda, serum ini hanya dipakai saat akan lomba, tapi kadang juga dipakai secara rutin oleh seseorang. Ini yang salah kaprah tanpa mengetahui kelebihan dan kekurangan yang bisa berdampak pada tubuh. 

”Kenalan saya sudah kena livernnya karena terlalu sering pakai ini. Ini yang bahaya. Makanya buat pemula wajib konsultasi dengan trainer atau kalau perlu bertanya langsung ke medis,” tutur Yuda.

Inilah yang ditakutkan dirinya jika mendengar banyak pecinta gym mengonsumsi berbagai obat tanpa tahu peruntukannya. Bahkan, karena termakan omongan orang, banyak yang membeli dan mulai menyuntikkan sejumlah serum ke tubuhnya sendiri.

”Yang harus kita ingat, suplemen itu hanya pendamping. Yang utama tetap asupan makanan dan pola latihan yang kita jalani. Jika salah satu dari dua hal ini ada yang kurang, pastinya efek suplemen itu akan berakibat buruk pada tubuh,” jelas Yuda.

Sementara itu, salah seorang atlet body contest asal Solo Gusti Frans Petra Yudatama mengatakan, perlu 6 tahun bagi dirinya untuk mencapai porsi tubuh maksimal sejak memulai latihan pertamanya di salah satu tempat kebugaran pada 2010. Kala itu, dirinya masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Berat badannya yang hanya 38 kilogram dengan tinggi 168 centimeter membuat dirinya bisa dikategorikan “cungkring” kala itu. Karena itu, dirinya mengawali latihan dulu hanya sebatas untuk menambah berat badannya. 

“Benar. Dulu saya kurus kering. Sampai waktu itu sempat tidak percaya diri,” jelas dia saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di tengah sesi latihan.

Setahun menjalani latihan rutin, berat badannya mulai bertambah. Meski hanya naik 3-4 kilogram, pria yang akrab disapa Yuda ini bersuyukur, sebab dirinya merupakan salah satu orang yang sangat sulit untuk menambah berat badan. 

“Setelah saya cari tahu itu ternyata gen saya itu memang sudah gemuk. Caranya ya hanya satu kalau mau tambah gemuk, lewat latihan beban seperti ini,” jelas dia.

Lama kelamaan, dirinya makin nyaman menekuni hobi barunya kala itu. Berbagai pola latihan dilakukan hingga akhirnya ia memutuskan ingin menyeriusi hobinya dalam pembentukan massa otot tersebut. Dalam seminggu, dirinya rutin latihan selama enam kali dengan durasi 1,5 jam maksimal setiap harinya. 

 “Membentuk otot itu tidak mudah. Tidak bisa instan. Butuh proses panjang. Makanya kalau kita latihan dan belum terlihat hasilnya ya harus sabar dan makin rutin latihan,” kata Yuda.

Dijelaskan dia, program latihannya pun selalu berbeda tiap harinya. Misalnya saat ingin membentuk otot dada. Dalam satu hari tersebut hanya fokus untuk melatih otot dada, bukan yang lain. Begitu seterusnya.

 “Intinya itu kalau latihan harus fokus bagian mana dulu yang mau dibentuk. Dan yang paling penting jeda tiap sesinya jangan terlalu lama. Maksimal semenit saja untuk mengistirahatkan otot saat latihan,” beber dia.

Imbangi Pola Makan Seimbang

Kendati program latihan harus rutin dan terjadwal, sesi ini hanya menyumbang 30 persen dari kesuksesan dalam pembentukan massa otot. Sebab, keberhasilan tersebut didominasi dari asupan gizi yang dikonsumsi. 

“Intinya kalau mau membentuk otot itu, 70 persen di pola makan dan 30 persennya baru pola latihan. Orang gemuk itu karena terlalu banyak karbohidrat. Ini harus dikurangi, termasuk konsumsi lemak, garam, dan gula. Misalnya sebagai pengganti nasi putih bisa makan kentang atau nasi merah. Sayurnya biasa pakai brokoli dan wortel,” jelas dia.

Tentunya menjalani hal itu cukup berat. Sebab, siklus tubuh yang biasa dijalani sehari-hari harus dipaksa untuk berubah agar dapat menerima suatu pola yang baru. Makanya jika seseorang dalam program penggemukan, pengurusan, atau pembentukan otot, tentunya akan lebih sering lapar atau lemas. Untuk menyiasati itu bisa mengonsumsi bahan-bahan yang disarankan boleh dikonsumsi ahli gizi. 

“Sehat itu memang mahal. Sehari saja untuk makan teratur sesuai porsi itu bisa Rp 100 ribu. Makanya yang perlu diutamakan adalah kesehatan. Jangan sampai niatnya ingin punya badan bagus malah jadi sakit dan tersiksa dengan pola yang diterapkan,” kata Yuda.

Beda Suplemen dan Doping

 “Jangan keliru antara suplemen dan doping. Ini sangat berbeda. Doping bukanlah suplemen,” ujar Personal Trainer & Consultant Jerry Lolowang.

Jerry memberi contoh, seperti synthol, steroid dan lain-lain jelas memiliki efek setelah pemakaian yang akan mengganggu kesehatan dan vitalitas. Ini adalah jenis doping yang berbahaya. “Kalau soal suplemen, tentu saja penggunaannya harus sesusi takaran dan saran dokter,” jelas dia.

Perlu dipahami bahwa aktivitas latihan di gym adalah salah satu kunci hidup sehat berkualitas yang tentunya dilakukan dengan cara sehat. Untuk mencapai bentuk tubuh idaman, baik dari gemuk ke langsing atau terlalu kurus hingga lebih berisi, latihan beban memang sangatlah penting. Kendati demikian, ada beberapa hal lain yang mesti diperhatikan, seperti pola makan, pola istirahat dan pengelolaan stress dengan benar. 

Pada tahap awal, seseorang wajib mengenali kondisi diri sendiri. Kedua, memulai pola latihan secara bertahap dan terencana. “Lakukan pengecekan antropometri untuk mengukur dan mengetahui komposisi tubuh (presentase lemak, otot, tinggi tubuh, berat badan dan lain-lain). Konsultasi ke dokter jika merasa diperlukan,” terang Jerry.

Tentu saja tidak setiap orang memiliki kemampuan untuk menganalisis program latihan atau asupan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Maka sangat disarankan, khususnya bagi seorang pemula untuk menggandeng seorang ahli, baik dokter maupun personal trainer. Sebab, untuk mencapai tujuan, olahraga juga harus diimbangi dengan pola makan yang tepat, pola tidur yang baik dan pengelolaan stress. 

Seperti banyak ahli lainnya, ia menyatakan asupan gizi adalah cara terpenting dalam pembentukan tubuh. Dalam urusan makan, kini telah banyak berkembang metode-metode diet yang beredar, khususnya untuk menurunkan lemak dan berat badan. Beberapa di antaranya seperti  diet mayo, calorie cycling, ketogenic diet, food combining, paleo diet, atkins diet, intermittent fasting hingga diet golongan darah. Namun yang terpenting adalah keseimbangan nilai gizi. 

“Diet ekstrem bisa saja membuat kita kekurangan nutrisi tertentu hingga mengganggu produktivitas dan mood dalam bekerja atau sekolah, ini tidak baik. Yang disarankan adalah makan bersih yakni mengurangi asupan makanan yang memiliki kadar berlebih dari tubuh kita. Sebab semua yang berlebih pada akhirnya hanya akan menjadi lemak,” terang Jerry.

Perlukah Suplemen?

Kendati demikian, ia pun mulai memetakan sejumlah pertanyaan yang sering muncul saat seseorang hendak melakukan pembentukan tubuh adalah pertanyaan yang paling sering muncul adalah apakah saya membutuhkan suplemen fitness? 

Menurut dia, hal ini tidak dibutuhkan bila asupan gizi seseorang sudah tercukupi. Masalahnya, seberapa besarkah peran makanan yang kita konsumsi bisa memenuhi nilai gizi yang dibutuhkan. Di saat seperti inilah  peran suplemen dibutuhkan dalam momen tertentu. Sebab, suplemen memiliki sifat untuk membantu proses metabolisme saat pola makan kita tidak seimbang.

 “Bagi yang berolahraga untuk menurunkan berat badan, suplemen yang diperhatikan adalah nutrisi mikro (vitamin dan mineral). Jangan sampai terlalu ketat berdiet dan berolahraga. Karena ini bisa kekurangan nutrisi dan akhirnya jatuh sakit,” ujarnya.

 Sementara bagi yang ingin tampak lebih berisi, jumlah nutrisi makro dan mikro harus sama-sama perlu ditingkatkan. Terutama pada saat tubuh secara rutin berolahraga. “Jangan sampai otot malah mengecil atau tubuh menjadi terlalu lelah karena dalam rutinitas olahraga asupan gizinya kurang,” ujar dia. (ves/bun/ria)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia