Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Ayah Korban Ikhlas, Minta Iwan Dibebaskan

11 Januari 2019, 13: 02: 56 WIB | editor : Perdana

Ayah Korban Ikhlas, Minta Iwan Dibebaskan

SOLO -  Iwan Adranacus mendapat pembelaan dari keluar korban dalam sidang pledoi kasus kecelakaan maut di Pengadilan Negeri (PN) kemarin (10/1). Suharto, ayah korban Eko Prasetyo meminta majelis hakim untuk membebaskan terdakwa dari segala tuntutan. Pasalnya, pihak keluarga sudah ikhlas atas kejadian tersebut. 

Hal tersebut diutarakan Suharto kepada Ketua Majelis Hakim Krosbin Lumbangaul agar terdakwa diberikan keringanan hukuman atau bahkan bebas bersyarat. Dirinya mengaku ikhlas menerima peristiwa yang menewaskan anaknya tersebut sebagai kecelakaan. 

“Saya ikhlas menerima peristiwa ini dan ini semua sudah takdir. Maka kami memohon kepada kepada yang terhormat Majelis Hakim untuk membebaskan terdakwa,” tuturnya.

Suharto juga menegaskan bahwa dirinya tidak menerima sedikitpun uang dari terdakwa terkait kasus tersebut. “Yang menerima adalah menantu dan cucu saya. Itu memang hak mereka sebagai ahli waris dari anak saya,” pungkas Suharto.

Sementara itu, Iwan juga mengaku menyesal atas kejadian ini. Dia juga tidak memiliki niat untuk mencelakai Eko apalagi sampai membuatnya meninggal dunia. “Tidak ada unsur kesengajaan. Semua ini murni musibah, namun saya juga menghormati proses hukum dan saya yakin hakim mampu berlaku adil,” ungkap Iwan.

Sementara itu, Kuasa Hukum Iwan, Joko Haryadi membantah semua tuntutan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum (JPU) pada sidang Selasa (8/1) lalu. Sebab, kasus ini murni kejadian kecelakaan dan tidak ada unsur kesengajaan sama sekali. 

“Kalau benar memang ada niat dari klien kami, seharusnya saat bermanuver dan kendaraan korban berhadapan dengan motor terdakwa langsung ditabrak,” katanya.

“Kenapa harus menunggu waktu di mana kedua kendaraan sama-sama menuju arah utara. Jadi ini murni kejadian kecelakaan, di mana kendaraan klien kami menyenggol kendaraan dari korban. Baik dari saksi di lokasi, maupun saksi ahli yang telah dihadirkan tidak ada yang bisa membuktikan kalau kejadian ini pembunuhan,” imbuhnya.

Joko menilai sehingga pasal yang dijadikan dasar sebagai tuntutan tidak pas. Sebab yang mengetahui sebab percekcokan adalah tiga rekan terdakwa yang ada di dalam kendaraan di mana ketiganya sama sekali tidak dihadirkan dalam proses persidangan.

Ditambahkan Joko, dari keterangan saksi ahli hukum pidana yang dihadirkan pihak kuasa hukum telah jelas mengatakan bahwa perkembangan hukum modern saat ini telah beralih dari yang bersifat retributif menuju restoratif. Yakni proses penyelesaian hukum pidana yang menekankan kepada ganti rugi. Semakin besar ganti rugi yang berhasil dikenakan, maka tuntutannya semakin sedikit. Begitu pun sebaliknya. 

“Sudah banyak kasusnya. Seperti kasus anak dari Hatta Rajasa dan Ahmad Dhani, dan yang terbaru kasus pengemudi Lamborgini di Surabaya. Sehingga saya harap ini bisa menjadi pertimbangan majelis hakim,” tuturnya,”

Setelah itu, Krosbim memberikan kesempatan apakah ada tanggapan dari JPU atas kasus ini. JPU Titiek Maryani Menuturkan pihaknya meminta waktu. Ketua majelis hakim mengabulkan permohonan JPU sehingga sidang tanggapan dari JPU dijadwalkan pada Senin (14/1) mendatang. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia