Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Sigit Amirudin, Penggagas Restorasi Gang Eksotis Laweyan

12 Januari 2019, 16: 34: 08 WIB | editor : Perdana

DAYA TARIK: Dalan Cilik kini berubah lebih cantik setelah ada gerakan bersama warga. 

DAYA TARIK: Dalan Cilik kini berubah lebih cantik setelah ada gerakan bersama warga.  (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

Laweyan selama ini identik sebagai pusat industri batik hingga dikenal ke berbagai negara. Uniknya, di sana wisatawan tak hanya dapat memuaskan hasrat belanja mereka, namun juga bisa berfoto ria dengan latar seni di gang menuju kampung batik tersebut. Namun, tahukah kalau dulunya gang tikus tersebut sangat kumuh. Lantas bagaimana sekarang bisa menjadi tempat eksotis?

SILVESTER KURNIWAN, Solo

BERKUNJUNG ke Kampung Batik Laweyan merupakan pengalaman yang cukup berkesan bagi sejumlah wisatawan. Di satu sisi, mereka dapat belajar soal seluk beluk batik Solo yang cukup khas dengan warna sogan dan berbagai motif yang tak akan mudah ditemui di daerah lainnya.  

Di sisi lain, wisatawan juga bisa memanfaatkan indahnya penataan koridor kampung wisata yang dirancang sedemikian rupa agar tampak indah guna mendukung kegiatan wisata di wilayah tersebut. 

“Kampung Batik Laweyan ini sebetulnya terdiri dari sebuah perkampungan padat. Bangunannya sangat mepet dan hanya menyisakan sedikit ruang yang hanya bisa dilalui pejalan kaki. Nah, kalau jalan tikus ini kami sebut Dalan Cilik. Kalau orang tanya di mana Dalan Cilik pasti langsung diantar kemari,” ujar penggagas restorasi Dalan Cilik, Sigit Amirudin, 49 saat ditemui Jawa Pos Radar Solo.

Dari matanya, pria yang cukup aktif dalam kegiatan lingkungan ini tampak cukup bangga dengan kondisi Dalan Cilik sekarang. Pasalnya, jalan sepanjang 20 an meter dengan lebar 2 meter itu kini tampak lebih bersih dari beberapa tahun lalu. Bahkan, kesan yang muncul saat ini akan Dalan Cilik adalah salah satu opsi kunjungan lain bagi para wisatawan setelah puas berbelanja di Kampung Batik Laweyan. 

“Jalan ini dulu hampir tidak pernah dilewati orang, kecuali warga sini. Tapi sekarang, wisatawan selalu mampir kalau datang ke galeri batik yang ada di sini,” beber Sigit.

Dulu, sambung Sigit, Dalan Cilik tersebut terkesan tidak bersih dan tak sedap dipandang mata. Selain itu, letak tembok-tembok besar berusia ratusan tahun yang sudah mulai mengelupas dan rusak menambah kesan mistis di sepanjang jalan setapak itu hingga akhirnya lorong dengan belasan tikungan itu jarang dilalui para wisatawan. Bahkan, masyarakat sekitar pun enggan melintas jika bukan mereka yang rumahnya ada di antara lorong-lorong gelap tersebut.

“Kalau mau melihat wajah asli Kampung Laweyan itu ya seperti ini. Huniannya berada di antara jalan-jalan kecil yang tidak terlihat. Dulu jalan ini kesannya wingit, maklum saja karena hanya 2 jam lorong ini terkena sinar matahari,” terang Sigit.

Alasan itulah yang mendorongnya untuk berinovasi. Pertengahan 2018 lalu, ia mengajak warga setempat yang berada di sekitar lorong untuk kerja bakti di depan hunian masing-masing. Setelah cukup bersih, ide untuk menghias jalan sempit itu pun puncul. Meski banyak kendala ditemui, akhirnya cita-cita bersama pun terwujud dan menjadi seperti sekarang. 

“Idenya dulu kerja bakti dan menghias kampung. Sayangnya di lorong ini hanya sedikit bapak-bapaknya, makanya bisa dibilang keberhasilan ini karena tangan kreatif ibu-ibu yang ada di sini,” jelas dia.

Kain percapun dikumpulkan. Dengan waktu yang cukup longgar, para ibu setempat mulai membuat hiasan gantung dari busa karet dan perca batik. Hiasan itu pun akhirnya digantung di sepanjang lorong sempit itu untuk memberikan kesan indah saat sinar mentari mulai menembus ratusan hiasan gantung tersebut. Efek membayang dari hiasan gantung itu akhirnya dimaksimalkan dengan berbagai tanaman holtikultura yang ditempel di tembok-tembok hunian warga. 

Tak berhenti di sana, Sigit kemudian mulai mengumpulkan sejumlah foto-foto masa lalu yang menggambarkan kehidupan sosial masyarakat Kampung Laweyan pada periode 1800-1900. Foto-foto tersebut akhirnya dipajang di sepanjang koridor lorong membuat Dalan Cilik yang dulu kumuh menjadi galeri seni jalanan. Tak lama berselang, banyak masyarakat mulai berfoto ria di lokasi tersebut. 

“Awalnya banyak pertimbangan ini itu, tapi warga ya nekat saja. Ehh.. kok ternyata responsnya sangat baik. Sehari setelah semua terpasang langsung ada wisatawan yang foto-foto di sini. Lama-lama setiap wisatawan mampir untuk menengok lorong ini untuk berfoto ria. Akhirnya pas beberapa waktu lalu kami pasangi karpet merah agar ada kesan elegan,” jelas Sigit.

Menurutnya, niat warga merestorasi lorong sempit itu bukanlah didasari rasa untung-untungan yang berujung pada nominal mata uang. Namun lebih pada rasa lega melihat kawasan hunian menjadi lebih indah dari sebelumnya. Warga pun sangat puas bahwa upaya mereka mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat umum yang berkunjung di sana. 

“Di sini pengunjung bisa berfoto ria. Ada juga wisata edukasi dengan berbagai poster tulisan berisi filosofi batik menurut motifnya. Bahkan, hal-hal berbau sejarah dan religi juga kami pasang agar wisatawan  yang berkunjung disini dapat memahami kehidupan sosial masyarakat asli Laweyan,” beber Sigit. (*/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia