Jumat, 15 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Pasca insiden Kericuhan, Rutan Stop Jadwal Besuk

12 Januari 2019, 16: 37: 06 WIB | editor : Perdana

BUTUT RICUH: Pengunjung kecele tidak bisa membesuk kerabatnya di Rutan Surakarta karena ada pengumuman ditutup.

BUTUT RICUH: Pengunjung kecele tidak bisa membesuk kerabatnya di Rutan Surakarta karena ada pengumuman ditutup. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Kasus kericuhan antara pembesuk dan penghuni Rutan Kelas I Surakarta, Kamis (10/1) lalu merupakan gesekan terparah yang pernah terjadi di rutan tersebut. Pasalnya, kejadian itu melibatkan pihak eksternal. Mencegah agar kasus ini tidak meluas, maka jadwal kunjungan ke rutan sementara distop hingga kondisi kembali normal.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo, aktivitas para warga binaan di rumah tahanan tersebut kemarin mulai kembali normal. Menjelang fajar, para warga binaan sibuk melakukan agenda pribadi dan bersih-bersih ruang tahanan. Setelah itu, mereka mulai senam pagi seperti biasanya dan kembali melanjutkan aktivitas normal seperti sedia kala. 

“Situasi saat ini sudah kondusif dan  kegiatan sudah berjalan normal. Bahkan tadi pagi sebelum salat Jumat sempat kataman Alquran,” papar Kepala Rutan Kelas I Surakarta Muhammad Ulin Nuha saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di ruang kerjanya, Jumat (11/1).

Meski sudah kembali normal, kepadatan rumah tahanan memang tidak seperti biasanya. Di ruang tunggu pembesuk, ruangan kaca yang biasanya padat dengan antrean kerabat para tahanan dan napi terlihat lengang. Begitu juga dengan kondisi aula pun lengang dari cengkrama pembesuk dan penghuni rutan. Ternyata, pihak rutan sengaja mennonaktifkan program besukan pada Jumat (11/1) kemarin. 

“Aktivitas di dalam rutan memang sudah kembali normal. Hanya saja kunjungan Jumat (11/1) ini kami liburkan. Namun Sabtu (12/1) ini akan kembali dibuka secara normal,” jelas Ulin Nuha.

Disinggung soal kericuhan yang melibatkan banyak pihak kemarin, Ulin memastikan bahwa kericuhan kemarin terjadi karena ada kesalahpahaman. Mestinya, hal tersebut dapat dicegah jika dapat lebih cepat diantisipasi. 

Kesalahpahaman antara pembesuk dengan salah satu warga binaan terjadi karena berada dalam lokasi yang sama. Awalnya hanya saling pandang sebelum berujung cekcok hingga saling lempar benda. Masalah sepele itu akhirnya berubah makin panas hingga harus dilakukan evakuasi karena jumlah pembesuk cukup banyak pada Kamis (10/1). 

“Kalau kerusakan tidak ada, hanya dua pot tanaman saja yang pecah. Petugas dan warga binaan juga aman, tidak ada yang terluka. Kalaupun ada hanya luka ringan. Namun dari insiden itu ada belasan warga binaan yang dipindahkan,” katanya. 

Akhirnya, sejumlah warga binaan yang terlibat insiden dipindahkan ke beberapa tempat berbeda. Rinciannya, enam orang tahanan di kirim ke Polda Jateng, satu narapidana ke Lapas Sragen, dan tujuh narapidana ke Rutan Wonogiri. Agar tak terjadi masalah serupa, pihaknya juga bakal memperketat bagian pengawasan kunjungan di dalam rutan. 

“Walau warga binaan yang kemarin dikunjungi sudah dipindah dan kemungkinan insiden semacam ini tak terulang kembali, tapi kami tetap akan memperkuat dan menambah personel di bagian pengawasan kunjungan,” ujarnya.

Selain itu juga tenaga administratif akan diperbantukan untuk pengamanan kunjungan. Mereka akan  memeriksa lebih teliti pembesuk yang berkunjung. Rutan juga terus koordinasi dengan Polresta dan Kodim untuk membantu memperketat pengamanan dalam rutan,” tandasnya.

Di sisi lain, pasca kericuhan, Polresta Surakarta terus melakukan patroli secara berkala ke sekitar rutan dan sejumlah kawasan yang dianggap rawan atau sering dijadikan titik kumpul masa yang terlibat dalam kericuhan kemarin. 

“Penghuni rutan yang terlibat kericuhan sudah dipindah. Jadi situasi jauh lebih kondusif. Bahkan sampai Jumat dini hari kemarin kami masih patroli ke sejumlah lokasi. Yang jelas sementara ini akan disiagakan sejumlah personel untuk mengecek kondisi lapangan,” kata Wakapolresta Surakarta AKBP Andi Rifai. 

Pihaknya menyarankan agar pengelola rutan bisa lebih memanajemen pola kunjungan besuk yang selama ini dilakukan. Mengingat kapasitas rutan sudah overload, pihaknya berharap agar pengelola rutan bisa lebih jeli dalam mengatur pola kunjungan di sana. 

“Kapasitas berlebihan secara psikologi juga bisa memengaruhi penghuni rutan. Saya harap pihak rutan bisa menjalankan SOP kunjungan dengan benar,” teranganya.

Terpisah Kepala Keamanan Rutan Kelas II B Wonogiri Agus Susanto membenarkan ada empat tahanan dan lima narapidana dititipkan di sana. Mereka datang dalam dua gelombang. Gelombang pertama Kamis (10/1) pukul 17.00 WIB ada tujuh orang, disusul pukul 19.00 WIB sebanyak dua orang. 

“Mereka langsung kami periksa kelengkapan administrasinya, kemudian kita cek kesehatan mereka, lalu kami berikan pengarahan tentang tata cara di Rutan Wonogiri ini,” kata Agus, Jumat (11/1). 

Menurut Agus, mereka saat ini tengah menjalani masa pengenalan lingkungan. Mereka merupakan tahanan dan narapidana kasus pencurian, narkoba dan money politics. “Kita tempatkan dulu di blok karantina. Nanti kalau sudah bisa beradaptasi barulah mereka kita tempatkan di blok sesuai kasus pidana mereka,” katanya. (ves/kwl/bun)

(rs/ves/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia