Rabu, 20 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Olahraga

Cedera di Hidung Paling Sering Terjadi di IBL

13 Januari 2019, 10: 10: 59 WIB | editor : Perdana

KETAT: Pertandingan Pelita Jaya Jakarta (jersey hitam) melawan Bank BPD DIY bima Perkasa Jogja.

KETAT: Pertandingan Pelita Jaya Jakarta (jersey hitam) melawan Bank BPD DIY bima Perkasa Jogja. (IBL FOR RASO)

GELARAN IBL Solo Series begitu ketat berjalan. Untuk mengantisipasi cedera yang terjadi dilapangan, panitia sudah menyiagakan tim medis, untuk menjaga kondisi tubuh pemain tetap fit dan bisa terus melanjutkan pertandingan. 

Tim medis dari Rumah Sakit DR. Oen Solo Baru mengatakan ada beberapa cedera yang sering dialami atlet basket saat bertanding. Kemungkinan terparah yang bakal terjadi adalah patah hidung.

”Hal-hal yang tak terduga tidak bisa dihindari, seperti hidung karena terkena siku pemain lain. Biasanya, tulang hidung akan bengkok. Penanganannya, sebisa mungkin hidung diluruskan terlebih dahulu untuk menghentikan pendarahan mimisannya,” beber dokter tim medis Rumah Sakit DR. Oen Solo Baru, Niko Febrianto Kurniawan kepada Jawa Pos Radar Solo, di sela-sela pertandingan berlangsung.

Niko menambahkan jika atlet mengalami cedera tersebut, maka lebih baik tidak melanjutkan permainan di lapangan untuk menghindari risiko terkena lagi. Sebab jika terus dipaksakan, maka kemungkinan terkena benturan akan terjadi dan pendarahan pun tidak bisa dihindari.

”Kami akan berikan tampon pada hidungnya untuk mengurangi pendarahan,” sambungnya.

Niko mengatakan para atlet wajib melakukan pemanasan sebelum terjun ke lapangan untuk bertanding. Pemanasan sangat penting dilakukan untuk menghindari cedera. Tujuannya, agar otot kaki maupun tangan tidak kaget. Ini untuk menghindari terjadinya kram.

“Atlet juga harus memperhatikan apakah dia punya riwayat cedera sebelumnya. Misalnya, saat latihan ada cedera otot. Itu perlu diwaspadai. Jika demikian, atlet tersebut perlu pakai alat pengaman seperti deker,” jelasnya.

Untuk menghindari cedera muscle strain atau otot ketarik, lanjut Niko, para atlet biasanya melakukan pemanasan. Seperti lari-lari kecil sampai lari sprint. Jika ini tidak dilakukan, atlet akan memaksa otot kakinya untuk berlari dan melompat. Akibatnya, kemungkinan terjadi otot kram semakin besar potensinya.

 Untuk mengawal kesehatan para pemain IBL, Niko mengerahkan tiga personel tim medis dan membawa perlengkapan yang dibutuhkan. Mulai dari oksigen, obatan-obatan ringan, infus, tandu, sampai ambulance untuk menangani cedera yang dialami atlet. (aya/nik)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia