Jumat, 20 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Peternak Wonogiri Kembangbiakkan Larva sebagai Pengganti Pakan Instan

16 Januari 2019, 17: 23: 04 WIB | editor : Perdana

TETAP BERTAHAN: Agus Tri Haryanto memberikan makanan ke ayam ternaknya.

TETAP BERTAHAN: Agus Tri Haryanto memberikan makanan ke ayam ternaknya. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

Mahalnya harga pakan membuat peternak ayam tercekik. Dampaknya, biaya penyediaan pakan makin tinggi. Menyiasati agar tidak kolaps, peternak asal Ngadirojo, Wonogiri ini memiliki kiat jitu. Yakni dengan budidaya maggot (belatung lalat) sebagai pengganti pakan ternak. 

IWAN KAWUL, Wonogiri

SEORANG pria sedang memberi makan ayam ternaknya. Yang diberikan bukan pakan instans, tapi sejenis belatung lalat. Ayan jawa super (joper) hasil ternakannya sangat lahap menyantap satu persatu belatung-belatung tersebut sampai habis. 

Ini adalah makanan alternatif yang dilakukan Agus Tri Haryanto untuk mencukupi pakan ternaknya sejak harga pakan melambung tinggi. Beternak ayam joper memang merupakan peluang usaha yang cukup menggiurkan. 

Ayam ini merupakan hasil persilangan terbaru yang melibatkan teknologi pemuliabiakan ternak terbaru sehingga didapatkan pertumbuhan yang cepat dan memiliki karakteristik daging dan bentuk ayam kampung. 

Namun, mahalnya harga pakan ayam joper yang merupakan silangan ayam bangkok dan ayam petelur ini membuat peternak pusing tujuh keliling. Akhirnya mereka menemukan cara dengan memberikan pakan alami berupa buah-buahan busuk yang disulap menjadi jutaan maggot (belatung atau larva). “Dengan pemberian maggot akan mendongkrak pertumbuhan ayam joper  dengan cepat. Makanan ini tidak kalah bagus dengan pakan instan,” kata Agus. 

Awalnya, setiap tiga hari sekali dirinya memanfaatkan buah-buahan busuk yang selama ini hanya dibuang begitu saja oleh para pedagang buah baik di Wonogiri maupun Solo. Buah busuk itu lalu dicacah dan ditempatkan pada wadah sebagai tempat pembiakan larva. Tujuh hari kemudian, telur lalat hitam itu akan berubah menjadi larva atau maggot.

“Intinya kita harus punya indukan lalat hitam untuk pembiakan maggot. Indukan lalat itu kita tempatkan di ruang khusus dan dibiarkan mengerumuni tumpukan buah-buahan busuk. Tentunya di lokasi itu kita sudah siapkan wadah khusus untuk pembiakan maggot,” jelasnya. 

Pakan maggot ini justru akan mendongkrak pertumbuhan ayam joper dengan cepat. Joper dengan pakan maggot memiliki beberapa keunggulan. Selain daging joper berkualitas, kandang joper juga tidak menimbulkan polusi udara. Sebab, kotoran ayam yang ditampung di bawah kandang dapat dimanfaatkan kembali sebagai media pembesaran maggot. 

“Saat ini saya beternak dua ribu ekor joper. Setiap satu ekor doc (anak joper) harganya sekitar Rp 5.600. Doc didatangkan dari Blitar, Jatim,” ujarnya. 

Dua bulan lebih lima hari, ayam joper siap panen. Rata-rata beratnya 1-1,4 kilogram per ekornya. Jika bobot joper satu kilogram maka perkilogramnya dipatok Rp 30 ribu, lalu untuk bobot 1,4 kilogram harganya Rp 37 ribu. 

Ayam-ayam joper hasil budidayanya kebanyakan untuk menyuplai kebutuhan rumah makan baik dalam maupun luar Wonogiri. Biasanya para pedagang ayam datang sendiri ke kandang pada saat ayam berumur siap panen.

Meski ada alternatif pakan alam, ia berharap harga pakan ayam kembali stabil agar para peternak tidak semakin kelimpungan. Sebab, keberadaan pakan instans ini bagi sebagian peternak masih menjadi salah satu kebutuhan utama. (*/bun)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia