Rabu, 24 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Features

Mengungkap Ritual Para Caleg yang Bikin Merinding

Tidur di Kuburan hingga Kungkum Tengah Malam 

17 Januari 2019, 18: 45: 05 WIB | editor : Perdana

Mengungkap Ritual Para Caleg yang Bikin Merinding

TINGGAL tiga bulan lagi, pesta demokrasi negeri ini digelar. Iklim persaingan politik makin memanas. Tak luput, sejumlah calon legislatif (caleg) mulai gas pol. Melakukan berbagai cara dan upaya demi merebut takhta. Ada yang masih biasa-biasa saja. Tapi, tak sedikit pula yang nekat melakoni ritual-ritual yang menguji nyali.

Jelang tengah malam, hilir mudik orang keluar masuk di area Makam Yosodhipuro di Pengging, Boyolali. Tidak hanya laki-laki, ada juga beberapa perempuan mengenakan jilbab tampak memasuki kompleks  makam tersebut. Mereka ada yang membawa plastik berisi berupa-rupa bunga dan dupa.  

Makam Raden Ngabehi Yosodhipuro memang menjadi tempat favorit untuk ritual. Apalagi menjelang pemilihan umum (pemilu) seperti saat ini. Ratusan peziarah datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Jawa Barat dan Jakarta 

 “Di sini kan dibuka  tiga pintu masuk. Pintu utama itu yang paling ramai. Baru pintu selatan dan barat. Kalau di pintu barat itu biasanya untuk masuk warga sini. Kalau malam Jumat biasa (selain Pahing) pengunjung hanya berkisar 300 orang, tapi khusus malam Jumat Pahing bisa sampai 1.500 pengunjung,” terang Winanda, 24, penjaga loket bagian selatan ketika di temui Jawa Pos Radar Solo pada Jumat malam lalu.

Jika ingin berziarah, pengunjung cukup membawa kembang setaman yang bisa dibeli di depan makam dengan seharga Rp 5.000. Selanjutnya jika ingin melakukan ritual sanggaran (semacam meramal nasib, Red), cukup mendaftar ke juru kunci makam. Selembar janur kuning sesuai nomor yang dipilih akan menjadi sarana penentu nasib kedepannya.

Di antara peziarah yang datang dari berbagai kalangan tak jarang pula ditemui caleg yang ikut tirakatan di sana. Salah satunya caleg yang ditemui koran ini datang dari Bojonegoro, Jawa Timur. Dia mengaku sudah beberapa kali datang ke makam tersebut. 

“Saya baru kali pertama mencalonkan anggota DPRD. Intinya di sini saya hanya ziarah. Karena kalau kita mendoakan mereka (leluhur), kita juga akan didoakan olehnya (Yosodhipuro). Kita berdoa tetap kepada Allah, tetapi Eyang (Yosodhipuro) itu sebagai sarana meminta restu,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai pengusaha ini.

Demi berziarah ke makam Yosodhipuro, dia rela menempuh perjalanan panjang dari kotanya. Sebelum ada jalan tol,  dia bisa menempuh perjalanan selama 6 jam. Namun, setelah ada tol hanya 2,5 jam. 

Dia tahu keberadaan makam Yosodhipuro dari saudaranya yang tinggal di Banyudono, Boyolali. Ditemani saudaranya itu, dia mampir ke makam Yosodhipuro sekitar pukul 22.00 malam itu. Bersama para peziarah lain yang sudah berada di tempat itu, dia kemudian masuk ke makam utama Yosodhipuro untuk baca tahlil. Selesai sekitar pukul 23.00, dia kemudian duduk-duduk di tempat pendaftaran tamu bersama juru kunci makam sampai pagi.

“Ibaratnya kan ke rumah nenek, ‘Mbah restune aku pingin...’ nah seperti itu. Ya saya cuma cerita keinginan saya sama Eyang. Jadi meminta restu saja. Intinya kita kan mendoakan. Niat saya berdoa, Yang Maha Kuasa sudah tahu,“ imbuhnya.

Caleg yang diusung salah satu partai pendatang baru ini mengaku dengan ziarah tentu akan memiliki pengaruh tersendiri. Dia menganggap ini sebagai salah satu bentuk usahanya untuk menguatkan diri dalam maju di pileg nanti.

“Pagi nanti saya balik ke Jawa Timur. Januari ini kan sudah mulai kampanye. Saya optimistis bisa kepilih. Karena saya ingin mengabdi ke masyarakat dan bisa menyampaikan aspirasi masyarakat,” tandasnya.

Koran ini juga sempat bertemu dengan caleg lain asal Klaten. Dia juga baru kali pertama mencalonkan diri sebagai anggota dewan. Sudah dua kali dia datang ke makam Yosodhipuro. Bersama dengan istrinya, caleg ini datang sekitar pukul 23. 45 WIB. Ia segera meminta juru kunci untuk menyanggarkan. 

“Sebelumnya sudah pernah mencoba nyanggarke, itu dulu pas mencalonkan diri maju kades. Hasilnya ya berhasil. Kalau sekarang mau mencalonkan jadi dewan. Ya mudah-mudahan bisa jadi lagi.” Terangnya.

Caleg ini mengaku jika dirinya sering datang ke Pengging. Bahkan ikut melakukan ritual kungkum (berendam) di Umbul Sungsang. Namun kali ini dirinya tidak lagi melakukan ritual kungkum karena kondisinya sudah tidak sesehat dulu.

“Setelah ini jam 12 malam lanjut tahlilan bersama. Nanti jam 2 pagi kan sudah selesai, bisa diambil janur kuningnya. Nanti muncul huruf Arab. Tinggal dilihat hurufnya apa terus dicocokkan sama artinya yang ditempel di dinding itu,” ujarnya sambil menunjuk dinding yang ditempeli papan berisi huruf Arab beserta artinya.

Juru Kunci Makam Yosodhipuro Mulyo Sismanto membenarkan bahwa makam Yosodhipuro memang menjadi langganan ritual banyak orang, termasuk di antaranya caleg. Menurut Mulyo banyak orang-orang penting yang datang ke makam Yosodhipuro baik hanya berziarah maupun menjalani ritual sanggaran.

“Banyak yang datang ke sini. Selain caleg, ada mantan presiden, mantan gubernur, dan beberapa pejabat penting dan pengusaha di Jakarta,” beber Mulyo.

Mulyo tidak memungkiri jika dari banyaknya pengunjung yang datang merupakan politikus yang meminta restu dari Eyang Yosodhipuro. Pada musim pemilu ini akan banyak pesanan untuk ritual menyanggarkan.

“Tinggal yang mau ziarah itu niatnya bagaimana. Nanti permintaan kepada Tuhan lewat perantara Eyang Yosodhipuro. Sebab, Eyang sendiri kan dipercaya sebagai pujangga pada zaman kerajaan dulu,” Jelas Mulyo. 

Mengenai ritual tersebut, hanya perlu menyiapkan bunga. Setelahnya pengunjung diharuskan mendaftarkan diri dan memberi tahu tujuannya. Hanya ingin berziarah atau menjalani ritual sanggaran. 

“Setelah jam 12 malam ritualnya tahlil bersama. Habis itu kan ada keinginan apa, jadi medianya itu Eyang Yosodhipuro. Jadi kita itu mendoakan arwahnya. Nanti kan dapat barokah. Harapannya arwah Eyang diterima di arsy. Jadi jangan salah paham kita mintanya ke Eyang,” jelas Mulyo. 

Menariknya tidak hanya para caleg dan pejabat yang akan maju sebagai caleg atau kedudukan tertentu, ada juga pejabat yang terjerat kasus korupsi datang ke makam tersebut. Di antara pejabat tersebut ada dari beberapa daerah di eks Karesidenan Surakarta.

Tempat ritual lain yang sering didatangi caleg maupun pejabat penting adalah Pringgondani di Karanganyar. Saksi pengawas tempat tersebut, Alex Wagiman mengakui beberapa tokoh politik nasional maupun lokal sering datang ke tempat itu. Terutama menjelang perhelatan pesta demokrasi. Bahkan ada beberapa mantan pejabat penting negeri ini pernah berkunjung ke lokasi tersebut.

“Banyak dari kalangan pejabat yang sukses dari tempat sakral ini. Tentunya niat datang ke sini berdoa memohon kepada Sang Pencipta dengan perantara Eyang Koco Negoro yang ada di Pringgondani,” ujarnya.

Alex mengatakan, pada dasarnya meminta itu hanya kepada Allah, tapi jalannya berbeda-beda. Pringgondani hanya sebagai jembatan atau perantatara agar permintaan yang dipanjatkan cepat sampai kepada sang pencipta Allah SWT. 

Di lokasi ini ada beberapa tempat sakral, di antaranya kembang gedang, Sendang Temanten atau dikenal dengan pancuran tujuh, Telaga Mulya, Gua Kemundanu, Sendang Penguripan Rajawali, Pertapan, dan Telaga Wali. Umumnya orang-orang yang berkunjung ke Sendang Tematen mandi di tempat tersebut sebelum menjalani ritual berdoa. (mg4/mg7/mg8/bun/ria)

(rs/jpr/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia