Minggu, 21 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Napi High Risk Didampingi Khusus

18 Januari 2019, 16: 35: 29 WIB | editor : Perdana

Napi High Risk Didampingi Khusus

SOLO – Kericuhan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Surakarta pekan lalu mendapat perhatian serius. Mencegah agar kasus ini tidak terjadi lagi, mulai tahun ini Balai Permasyarakatan (Bapas) Kelas I Surakarta akan mendapat tugas baru. Yakni lembaga ini akan menilai apakah napi tersebut riskan atau tidak apabila ditahan di lapas/rutan di wilayah eks Karesidenan Surakarta.

Kepala Bapas Kelas I Surakarta Kristina Hambawani mengakui memang ada napi yang berpotensi memicu konflik ketika ditahan di dalam rutan. Karena itu, mulai tahun ini napi yang akan ditahan di lapas/rutan di wilayah eks Karesidenan Surakarta akan dilakukan assessment. Tujuannya untuk mengetahui apakah napi tersebut masuk kategori high risk atau tidak.

“Apabila dalam proses pendampingan ternyata napi tersebut berbahaya dan bisa memicu konflik, maka akan kami rekomendasikan dipindah di lapas kategori high risk. Kalau di Jateng salah satunya Nusakambangan,” imbuh Kristina.

Untuk menyambut tanggung jawab baru tersebut, lanjut Kristina, pihaknya saat ini sedang menggandeng pihak ketiga untuk mendidik para petugas bapas. Misalnya dengan melibatkan konselor yang mumpuni. Sebab, napi yang baru masuk tentu memiliki karakteristik yang berbeda.

Meski begitu, selama ini bapas sebenarnya juga sudah terbiasa membimbing mantan napi berstatus high risk. Yaitu mantan narapidana teroris (napiter). Sejak tahun lalu pihaknya intens mendampingi 24 eks napiter yang tersebar di kawasan Kota Bengawan. “Sebenarnya kalau yang murni klien kami ada delapan orang, dalam hal ini yang bebas bersyarat,” ujarnya.

Dalam program ini pihaknya  berkoordinasi langsung dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta untuk mendampingi eks napiter yang masuk dalam radar, baik itu bebas murni, maupun bebas bersyarat. “Pihak BNPT menilai mereka masih bisa mengancam ideologi bangsa,” urai Kristina.

Dari hasil pembimbingan, lanjut Kristina, para mantan napiter ini awalnya masuk ke jaringan tersebut karena urusan dengan ekonomi. Karena itu, selain memperbaiki ideologi mereka, para eks napiter ini juga diberi bimbingan kewirausahaan. Setelah berkoordinasi dengan jajaran pusat, ternyata bimbingan tersebut direspons dengan baik.

Akhir tahun lalu, para eks napiter di bawah bimbingan bapas mendapat bantuan uang tunai sebesar Rp 15 juta dari Kementerian Sosial (Kemensos) untuk modal usaha, sedangkan dari BNPT memberikan bantuan berupa pos warung. 

“Ternyata setelah kami bimbing, mereka mau barubah, setidaknya sudah tidak lagi memiliki pikiran untuk kembali ke jaringan mereka,” urai Kristina.

Selain dengan BNPT, pihaknya juga akan berkoodinasi dengan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surakarta. Hal ini terkait rehabilitasi para klien. “Sebab banyak dari klien kami yang latar belakangnya dari narkoba minta direhab. Nantinya kita menjadi perpanjangan dari klien ke BNNK,” katanya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia