Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Cegah Impor, Canangkan Program Surplus Beras

19 Januari 2019, 20: 04: 30 WIB | editor : Perdana

TURUN GUNUNG: Bupati Klaten, Sri Mulyani menjajal penanaman padi dengan mesin transplenter di Desa Pakisan, Kecamatan Cawas, Jumat (18/1).

TURUN GUNUNG: Bupati Klaten, Sri Mulyani menjajal penanaman padi dengan mesin transplenter di Desa Pakisan, Kecamatan Cawas, Jumat (18/1). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Isu beras impor masuk ke Kabupaten Klaten yang digulirkan Calon Presiden (Capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto, beberapa waktu lalu menjadi perhatian Bupati Sri Mulyani. Bupati pasang target tahun ini Kota Bersinar surplus beras. Seperti diutarakannya usai kegiatan menanam padi dengan mesin tranplanter di Desa Pakisan, Kecamatan Cawas, Jumat (18/1).

Sebelumnya, Sri Mulyani meninjau penggilingan padi di Kecamatan Delanggu. Melalui percepatan penanaman padi ini, dia berharap ada peningkatan produk beras. Meski ada keterlambatan jadwal penanaman beberapa bulan.

”Saya harap hasilnya tetap memuaskan. Terlebih lagi Klaten mengalami kondisi yang sama pada 2018, tetapi tetap surplus,” kata Sri Mulyani kepada Jawa Pos Radar Solo.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, pada 2018 luas panen padi mencapai 74.372 ha. Produktivitas mencapai 5,8 ton per ha. Sedangkan produksi gabah mencapai 431.359 ton yang setara dengan beras 259.291 ton. Terkait konsumsi beras tahun lalu, hanya 125.103 ton. Artinya Klaten surplus beras 131.188 ton.

”Saya sampaikan Klaten tidak pernah ada impor beras. Apakah para kelompok petani sudah pernah menemukan beras impor? Saya yakin masyarakat lebih menyukai beras yang pulen dari produk sendiri,” ucapnya.

Klaten harus mampu surplus beras lagi tahun ini. Semakin menegaskan jika Klaten tidak membutuhkan beras impor. Mengingay kebutuhan masyarakat tercukupi. Terlebih lagi sudah mampu swasembada pangan khususnya pada produksi beras.

Sementara itu, harga gabah di tingkat petani tembus Rp 5.600-5.700 per kg. Melebihi pembelian pemerintah yang hanya Rp 4.600 per kg. Sri Mulyani berharap kondisi seperti itu membuat kesejahteraan petani meningkat.

”Saya harapkan lahan pertanian, khususnya padi milik para petani mulai didaftarkan untuk diasuransikan. Jika nanti ada apa-apa, petani tidak mengalami kerugian besar. Apalagi saat ini kita memasuki musim penghujan, sehingga rawan banjir,” ucapnya.

Kepala DPKPP Klaten, Widiyanti mengakui penanaman padi serentak ini mengalami kemunduran. Penanaman seharusnya sudah dimulai sejak November 2018. Tetapi tidak kunjang turun hujan. Sehingga baru dilakukan Januari ini.

”Total luas areal persawahan yang sudah ditanami padi mencapai 25 ribu hektare. Saya harap petani perlu mengantisipasi gangguan pada musin tanam kali ini. Harapannya target swasembada pangan tercapai setiap tahunnya,” papar Widiyanti.

Ketua Gakpoktan Sumber Asih Desa Pakisan, Kecamatan Cawas, Sarino mengakui pengairan menjadi problem petani. ”Total luasan yang melakukan penanaman padi serentak di Cawas 135 hektare. Harapannya berbagai bantuan yang kami terima bisa mempercepat proses penanaman,” ujarnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia