Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Eko Sriyanto “Galgendu”, Tokoh Keberagaman Nasional Terjun ke Politik

21 Januari 2019, 07: 11: 13 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Eko Sriyanto “Galgendu”.

Eko Sriyanto “Galgendu”. (DOK.PRIBADI)

Share this      

TERBIASA di balik layar, nama Eko Sriyanto "Galgendu" lebih dikenal sebagai tokoh keberagaman nasional. Baru setahun terakhir, karena alasan ingin berbuat lebih luas bagi masyarakat dan bangsa dia mulai merambah ke dunia politik.

Berbadan tegap dan masih terlihat segar meski usia sudah setengah abad lebih. Saat berbicara tegas dengan intonasi yang jelas, sosok inilah yang tergambar pada diri Eko Sriyanto. 

Sikap tegas, ulet dan mudah bergaul tidak lepas dari didikan orang tuanya yang memang pekerja keras. Sang ayah, Soeyarso Suparto merupakan pengusaha transportasi di Solo dan ibunya, Sumarmi merupakan pedagang hasil bumi. Bahkan sejak kecil anak pertama dari tiga bersaudara ini sudah dilatih untuk  gigih dan rajin dalam menunut ilmu. Terbukti  pria yang lebih akrab disapa Eko Galgendu ini dimasukkan ke SD Pangudi Luhur yang jaraknya sekitar 4 kilometer.

“Jadi orangtua saya ingin anaknya mendapat pendidikan yang baik. Maka meski jarak sekolah jauh tidak masalah. Sejak kelas 3 SD  saya berangkat sendiri ke sekolah dengan naik sepeda,” ujar pria yang mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPR RI dari Partai Gerindra Daerah Pemilihan (Dapil) Jateng V (Solo, Sukoharjo, Boyolali, Klaten).

Karena dilahirkan dari keluarga pengusaha, Eko Galgendu  sejak masih kecil pun sudah memiliki cita-cita ingin menjadi pengusaha. Namun keinginan tersebut berubah ketika tengah malam di Tahun 1996, Eko Galgendu didatangi sosok yang mirip Soekarno dengan pakaian putih. Pesan yang terdengar dari sosok tersebut “Tanamkanlah cita citamu setinggi langit”

Pertemuan yang bertempat di halaman rumahnya terebut menjadi bahan perenungan dan mengubah jalan pemikiran Eko Galgendu. Sejak saat itu, dia aktif dalam berbagai kegiatan sosial masyarakat. Kiprahnya selama ini memang lebih banyak di bidang keberagaman, lintas agama, sosial masyarakat.

Diawali pada 1999, saat itu pria kelahiran 18 Juli 1967 ini mendirikan Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) di Solo.

“Forum menjadi media silaturahmi lintas agama. Karena di dalam forum ini terdapat tokoh dari berbagai agama yang berbeda. Kegiatan yang dilakukan lebih banyak di bidang sosial dan kemanusiaan,” ujar Eko Galgendu yang saat itu ditunjuk sebagai Ketua FSHKB Solo.

Kiprah pria yang tinggal di Jalan Sriwijaya Tengah 2, RT 01, RW 03, KampungPrawit, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari dalam forum lintas agama ini terus dijalankan hingga sekarang. Saat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden, Eko Galgendu diminta untuk aktif dalam Indonesia Conference Religius and Peace (ICRP).

Kedekatan Eko Galgendu dengan Gus Dur memang sudah bukan rahasia lagi. Apalagi kedua sosok ini aktif dalam forum lintas agama. Keduanya sering terlibat dalam diskusi untuk membahas kerukukan umat beragama maupun membahas persoalan kemanusiaan yang ada di negeri ini. 

Pada 2003, Eko Galgendu menjadi salah satu pendiri Gerakan Moral Rekosiliasi Indonesia (GMRI) sekaligus ditunjuk sebagai ketua. Dua tahun kemudian, dia menjadi Dewan Pembina Asia AfricaFoundation kemudian pada Tahun 2011 mendirikan Kepemimpian Spiritual Indonesia (KSI). Tahun 2014 Eko Galgendu dipercaya menjadi Ketua Umum Ikatan Kebangsaan dan Bela Negara RI (Ikabanari).

Keaktifan dalam berbagai organisasi mulai tingkat nasional hingga internasional membuat Eko Galgendu sibuk untuk keliling ke penjuru tanah air. Pengabdiannya membuat Eko Galgendu  bisa bertemu sekaligus bersahabat dengan raja nusantara, tokoh agama, tokoh masyarakat, para spiritual, petinggi TNI  dan politisi ternama di negeri ini.

Dari silaturahmi yang dilakukan banyak masukan yang disampaikan kepadanya. Terutama pesan agar Eko Galgendu menjadi orang yang mampu memberikan wadah bagi raja-raja nusantara maupun pemuka agama untuk membahas masalah kebangsaan. Amanah yang diberikan memang tidak ringan, namun sebagai sosok yang bertanggungjawab Eko Galgendu mulai menjalankan pesan tersebut.

“Saya sering menginisiasi pertemuan tokoh lintas agama, memprakarsai pertemuan raja –raja nusantara, menjalin komunikasi dengan petinggi militer. Dari pertemuan tersebut banyak bimbingan dan masukan yang saya terima untuk menyelesaikan persoalan bangsa,” ungkap caleg nomor urut 4 Partai Gerindra ini.

Termasuk pesan dari Pakubuwono XII yang saat itu memanggil dirinya untuk diajak bertemu empat mata. Pesan yang disampaikan kepada Eko  Galgendu masih diingat betul sampai sekarang.

“Cari dan temukan orang orang yang punya niat tulus untuk mengabdi nusa dan bangsa. Pertemukan mereka untuk membahas keadaan bangsa dan negara  Indonesia” ujar Eko Galgendu menirukan ucapan Sri SusuhunanPakubuwana XII saat itu.

Bagi Eko Galgendu pesan tersebut menjadi salah satu motivasi untuk mengabdi dan berbuat yang terbaik untuk negeri ini. Sehingga berbagai upaya dilakukan sejak saat itu, termasuk mendorong Joko Widodo yang saat itu menjadi wali kota Solo untuk terus maju dalam kontes perpolitikan hingga tingkat nasional dan menjadi presiden.

Namun ternyata apa yang diharapkan kepada sosok Jokowi belum sepenuhnya berhasil, hingga akhirnya dia memutuskan untuk terjun langsung ke politik. Tepatnya satu tahun ketika itu Eko Galgendu sedang berdoa, ada petunjuk agar dia maju ke kursi senayan. Akhirnya dia memantabkan diri untuk maju melalui partai besutan Prabowo Subianto ini.

Eko Galgendu sudah menyiapkan berbagai program yang akan dilaksanakan ketika terpilih menjadi wakil rakyat mewakili masyarakat Dapil V Jawa Tengah. Untuk mengetahui kiprah dan program yang sudah disiapkan dapat dibaca dalam tulisan koran ini edisi besok. (oh)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia