Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Petani Klaten Gelar Long March Kecam ”Impor Beras”

21 Januari 2019, 15: 21: 05 WIB | editor : Perdana

TUANGKAN ASPIRASI: Ratusan petani di Klaten menggelar long march, mengecam pernyataan Prabowo Subianto terkait Klaten banjir impor beras di Jalan Pemuda, Minggu (20/1).

TUANGKAN ASPIRASI: Ratusan petani di Klaten menggelar long march, mengecam pernyataan Prabowo Subianto terkait Klaten banjir impor beras di Jalan Pemuda, Minggu (20/1). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Pernyataan Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto dalam Pidato Kebangsaan terkait banjir impor beras di Klaten mendapatkan respon dari kalangan petani. Ratusan petani yang tergabung dalam Gerakan Petani Klaten Bermartabat melakukan aksi long march, Minggu (20/1). Menyusuri Jalan Pemuda saat gelaran car free day (CFD).

Saat aksi kemarin, ratusan petani menggelar long march dari kawasan Taman Lampion hingga simpang empat Plasa Klaten. Mereka juga melakukan orasi yang intinya menolak pernyataan Prabowo.

”Aksi ini kami lakukan buntut dari pernyataan salah satu elit politik yang mengatakan Klaten kekurangan beras sehingga harus impor. Padahal kenyataannya kami surplus hingga 131 ton beras pada 2018. Jangan asal ngomong, karena petani sudah bersusah payah menghasilkan beras,” ketus Ketua Gakpotan Ngupadi Bogo, Desa Belangwetan, Klaten Utara, Suroto.

Suroto menegaskan jika kebutuhan petani saat ini sudah difasilitas pemerintah. Mulai dari pembibitan hingga berbagai peralatan penunjang. Menjadikan petani semakin sejahtera dan mampu mencukupi kebutuhan keluarga.

”Ini pergerakan tanpa adanya rekayasa. Karena petani sudah berjuang hingga meneteskan keringat dari menanam sampai panen beras. Sudah jelas pernyataan itu tidak benar karena Klaten memang surplus. Kami orang Klaten pasti akan mengonsumsi beras hasil keringat sendiri,” imbuh Suroto.

Petani di KLaten dianggap mampu mencukupi kebutuhan beras sendiri. Sehingga surplus didistribusikan ke berbagai daerah. Apalagi selama ini Kecamatan Delanggu dikenal sebagai daerah lumbung pangan lewat beras rojolele yang legendaris.

Melalui pergerakan ini, justru memompa semangat para petani di Klaten untuk menghasilkan beras berkualitas. Sekaligus membuktikan jika Klaten selama ini surplus sehingga tidak perlu beras impor. Secara simbolis para petani membagikan 4 kuintal beras C4 kepada masyarakat di sekitar lokasi orasi.

”Saya serahkan sepenuhnya kepada masyarakat untuk menilai. Tetapi di sini tidak ada unsur politik sama sekali. Saya kira masyarakat lebih cerdas dalam menilai terkait pergerakan petani ini,” paparnya.

Koordinator aksi, Juwandi, petani asal Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk dalam orasinya sempat membacakan deklarasi pernyataan sikap. Pertama, mereka memberikan apresiasi yang tinggi dan penghargaan kepada Bupati Klaten, Sri Mulyani. Atas kesigapanya melakukan kroscek di lapangan terkait beras impor.

”Kami juga memohon dengan hormat kepada elit politik nasional agar hati-hati dalam berbicara. Pernyataan-pernyataannya harus sesuai dengan fakta dan data. Agar memberi kedamaian dan kenyamanan bagi rakyat,” bebernya. (adv/ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia