Minggu, 26 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Bus Werkudara Diboikot Sukoharjo

22 Januari 2019, 12: 55: 59 WIB | editor : Perdana

EGOSEKTORAL: Keberadaan bus Werkudara banyak diminati masyarakat Solo dan sekitarnya.

EGOSEKTORAL: Keberadaan bus Werkudara banyak diminati masyarakat Solo dan sekitarnya. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Bus tingkat Werkudara milik Pemkot Surakarta diboikot Pemkab Sukoharjo. Akibatnya sejumlah permintaan paket wisata di Kota Makmur itu ditangguhkan.

Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo menyesalkan kebijakan Pemkab Sukoharjo tersebut. Menurutnya, larangan melintas di selatan Kota Solo itu merupakan sikap yang mengedepankan egosektoral. Seharusnya kerja sama lintas wilayah mutlak dilakukan untuk mengembangkan suatu daerah.

“Padahal rakyatnya yang minta transportasi bisa lewat sana (Sukoharjo), tapi bupatinya tidak boleh. Bus Werkudara akhirnya cuma sampai Tanjunganom. Wong kita (kepala daerah) cuma nunut lima tahun saja kok ngrepoti rakyat,” jelas Rudy di sela-sela acara penandatanganan kesepakatan bersama antara Pemkot Surakarta dengan Pemkot Semarang tentang Penyelenggaraan Kerja Sama Urusan Pemerintah di Daerah di Balai Tawangarum Balai Kota Surakarta, Senin (21/1).

Setelah mendapat larangan, wali kota tak akan ngotot meminta kepada bupati Sukoharjo untuk memberi lampu hijau bus wisata melintas di daerahnya. Kepala Bidang (Kabid) Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Surakarta Taufiq Muhammad mengatakan, permintaan masyarakat dan pelaku usaha di Kabupaten Sukoharjo terhadap bus Werkudara relatif tinggi. Setidaknya ada dua perusahaan yang telah datang ke kantor dishub untuk meminta layanan bus wisata Werkudara.

“Ada The Park dan Fave Hotel Solo Baru. Karena kami dilarang lewat sana, akhirnya kami minta mereka untuk izin atau koordinasi dengan Pemkab Sukoharjo. Tapi sampai sekarang belum ada jawaban,” katanya.

Senada dengan Rudy, Taufik juga enggan menanggapi alasan pelarangan yang dilakukan pemkab Sukoharjo. Dia kini fokus menggarap rute wisata di dalam kota. Beberapa destinasi yang rutin dikunjungi adalah Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), pusat belanja batik dan Keraton Surakarta. “Biasanya kalau carter ke mana-mana bisa, kecuali ke selatan (Sukoharjo),” katanya.

Sementara itu Pemkot Solo kemarin melakukan penandatanganan kerja sama dengan Pemkot Semarang. Terdapat enam bidang kerja sama yang bakal dilakukan, yakni pengembangan kebudayaan, pengembangan pariwisata, pengembangan ekonomi kreatif dan pemberdayaan usaha kecil dan menengah. 

Selain itu kedua kota sepakat mengembangkan sektor transportasi, penyelenggaraan kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang sesuai dengan kepentingan para pihak serta bidang-bidang lain yang dianggap perlu dan disepakati.

“Solo ini unik. Kami akan belajar banyak dari kota ini, bagaimana mendatangkan wisatawan agar datang berkunjung ke Semarang. Kita belajar dari Solo. Kemudian kita kalah satu step dari Solo soal pengelolaan sampah, ini harus kita kejar,” kata Wali Kota Semarang Hendar Prihadi yang hadir langsung dalam prosesi penandatanganan. (irw/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia