Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Features

Pernah Bangga Bertato, Kini Mereka Takut dan Trauma

Harus Sabar, Proses Hapus Rajah Lebih Susah

22 Januari 2019, 16: 03: 44 WIB | editor : Perdana

Pernah Bangga Bertato, Kini Mereka Takut dan Trauma

TAK sedikit pemilik tato yang menyesal telah memiliki gambar-gambar permanen di tubuh mereka. Rasa menyesal semakin kuat setelah mereka berkeluarga dan memiliki anak. Namun, sebagaimana proses membuatnya yang butuh banyak prosedur, untuk menghapus tato pun diperlukan nyali besar. Tak hanya kadar sakitnya yang konon lebih terasa berkali-kali lipat, tapi biayanya pun jauh lebih besar.

Meski tampak agak pudar, namun tato gambar bumi masih bisa cukup terlihat di kaki kanan Samudra, 27. Tak main-main, dia telah merajah kakinya saat masih SMP. Tato itu dia buat bersama kawan sepermainannya yang rata-rata berusia lebih tua dari Samudra. 

Samudra yang masih belia tak kuasa menolak bujuk rayu teman-temannya agar ikut merajah tubuh. Agar penampilan lebih trendi dan macho, alasannya. “Ya biasa namanya anak nongkrong, temannya pada nato ya ngikut aja,” kata Samudra. 

Kala itu, Samudra tak memerlukan waktu untuk berpikir panjang. Dengan entengnya dia menyerahkan kaki kanan untuk dirajah secara gratis. Sesantai pikiran dia yang tak tahu kalau tato itu tak bisa hilang atau terhapus oleh air. “Dulu saya nggak bayar, orang teman sendiri. Ya bareng-bareng aja gitu biar seragam. Kalau soal gambar itu pilih sendiri,” beber dia.

Dikira Bisa Dihapus dengan Air

Sepekan memiliki tato, Samudra mulai gusar karena gambar bumi itu tak bisa hilang. Ketakutan kalau ketahuan orang tuanya, itu sudah pasti. Jalan satu-satunya adalah menyembunyikan gambar permanen itu. 

“Tapi akhirnya ketahuan juga. Sepandai-pandai menyimpan bangkai pasti tercium juga. Ketahuannya itu waktu kelas 3 SMP,” kata pria yang kini berdomisili di Jakarta Utara tersebut.

Orang tuanya pun marah besar, karena dari keluarganya tak satu pun ada yang bertato. Terlebih lagi dirinya dikenal alim, maka tak heran jika orang tua marah bukan kepalang saat tahu dirinya memiliki tato. 

“Keluarga saya itu alim semua. Saya itu sebenarnya juga tidak ikutan nakal seperti anak-anak. Aku tidak minum (miras) dan merokok, tapi ya kecolongan di tato saja,” ujarnya.

Sejak itu, Samudra dihinggapi rasa takut sekaligus menyesal. Ingin sekali dia menghapus tato di kakinya itu. Tapi, Samudra yang masih ABG tentu masih memiliki banyak keterbatasan. Tak tahu kepada ahli apa untuk menghapus tato, obat apa yang dipakai, maupun tidak punya cukup uang.

Ketahuan saat Malam Pertama

Resep tradisional nan sederhana pun  akhirnya ditempuh. Yakni dengan menempelkan daun Sapu Jagat yang ia dengar ampuh untuk menghapus tato. Tapi cara itu ternyata tak mempan. Bukan kulit bersih dari tato yang ia dapat, melainkan luka-luka. “Efeknya jadi luka koreng. Saya pikir nanti setelah luka kering bisa hilang sendiri. Tapi cara itu sakit sekali. Akhirnya saya hanya kuat seminggu,” kata dia.

Seiring waktu berjalan, Samudra harus berdamai dengan tato di kakinya. Bahkan, hingga jelang menikah dia juga merahasiakan tato itu dari calon istrinya. “Istri saya kaget waktu tahu saya punya tato. Tahunya juga waktu malam pertama. Saya juga takut anak saya akan ikut-ikutan,” beber Samudra.

Saat sang buah hati lahir, keinginan Samudra untuk  menghapus tato semakin kuat.  Ia mulai bertanya-tanya ke sejumlah kerabat soal penghapusan tato. Pernah juga bertanya ke salah satu jasa penghapusan tato, namun lantaran biaya cukup tinggi dirinya menunda rencana tersebut. 

Hingga akhirnya dia bertemu dengan komunitas yang kala itu menyediakan jasa hapus tato secara gratis. “Kalau biaya sendiri mahal. Tato saya ini cuma segede kartu kredit, biaya hapusnya sampai Rp 3 juta. Padahal, sampai bersih butuh dua sampai tiga kali. Bisa dihitung sendiri berapa. Nah, akhirnya ketemulah sama komunitas yang melayani secara gratis, akhirnya saya langsung daftar,” jelas dia.

Ia pun mulai mengumpulkan semua syarat yang dibutuhkan, khususnya untuk memastikan kesehatan dirinya sebelum penghapusan tato di tubuhnya itu. 

“Syaratnya medical check up untuk memastikan tidak ada HIV atau Hepatitis B/C. Terus kalau ada keloid atau bekas luka di lokasi tatonya juga tidak berani ditangani. Jadi syaratnya lumayan banyak,” kata Samudra.

Di hari eksekusi, Samudra harus sabar antre. Sebab, permintaan hapus tato cukup tinggi kala itu. Setengah jam sebelum dilaser, tato harus diolesi dengan krim khusus dan dibungkus dengan plastik. Setelah itu, baru tato dihapus dengan laser. 

“Prosesnya tidak lama. Kalau saya paling sekitar 15 menit. Tapi menurut saya lebih sakit hapus tato dari pada waktu membuat dulu. Terutama kalau berwarna jadi agak susah hapusnya. Terutama warna hijau tisak bisa sekali jalan,” beber Samudra.

Trauma Rumah Tangga Terganggu

Ibu muda bernama Ieta ini juga memiliki tiga tato di tubuhnya. Masing-masing di pundak, kaki, dan tangan kiri. Sebagai remaja ibu kota, dulu dia sangat bangga memiliki tato tersebut. Apalagi, kala itu tren membuat tato tengah marak di lingkungan pergaulan ibu kota Jakarta.  

“Tato pertama di pundak saya, dan akhirnya tambah lagi tato kedua, kemudian menyusul yang ketiga. Tato di lengan saya itu pakai nama anak. Kebetulan semuanya gratis karena kawan sendiri juga,” jelas Ieta.

Namun, Ieta mulai merasakan kegalauan seiring usia anak semata wayangnya yang semakin besar. Ia ingin menghapus semua tatonya. Bercita-cita ingin menjadi ibu yang lebih baik, itulah alasannya. Dirinya kekeuh untuk menghapus seluruh tato yang pernah dibuatnya. 

Terlebih pengalaman pertama dia berumah tangga cukup pahit. Salah satunya lantaran dirinya bertato. “Dulu itu karena bertato saya dicap nakal, istri yang tidak baik. Dan akhirnya pernikahan pertama gagal. Makanya di pernikahan kedua ini saya ingin jadi istri dan ibu yang lebih baik,” beber Ieta.

Beruntung kini suaminya dari pernikahan kedua ini bisa memahami dirinya. Tak mau lagi mengecewakan keluarga, akhirnya Ieta berniat kuat menghapus tato miliknya. Mulai beberapa tahun lalu, Ieta aktif mencari informasi cara menghapus tato. Biaya paling miring untuk penghapusan tato adalah melalui proses laser. Ia pun pernah ditawari salah seorang temannya untuk menghapus itu. Sayangnya, biayanya terlalu tinggi, sehingga dirinya harus sedikit menunda upaya tersebut. 

“Satu kali proses untuk satu tato itu sekitar Rp 1,5 juta. Itu sudah sama teman sendiri, kalau tidak, jelas lebih mahal,” kata Ieta. 

Hingga saat ini, Ieta masih mencari berbagai komunitas yang memberikan layanan hapus tato secara gratis. Ia berharap bisa segera menghapus tato yang dimiliki agar lebih percaya diri dalam mengasuh si buah hati dan lebih mesra dengan sang suami tercinta. \

“Saya mau hapus karena saya ingin jadi ibu yang lebih baik lagi untuk anak saya biar nanti saya tidak bingung kalau ditanya si kecil soal tato,” ujar Ieta. (ves/bun/ria)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia