Sabtu, 25 May 2019
radarsolo
icon featured
Features

Uniknya Pasar Doplang Haramkan Bungkus Plastik, Bayar Pakai Koin Kayu

23 Januari 2019, 14: 33: 47 WIB | editor : Perdana

PATUT DICONTOH: Pedagang menjajakan dagangannya di Pasar Doplang Wonogiri.

PATUT DICONTOH: Pedagang menjajakan dagangannya di Pasar Doplang Wonogiri. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Pasar Doplang di Desa Pandan, Kecamatan Slogohimo ini memiliki banyak keunikan. Buka setiap Minggu pagi sampai siang, pasar ini menyajikan jajanan makanan tradisional. Cara penyajian dan pembayarannya pun tidak biasa. Seperti apa keunikan pasar ini? 

IWAN KAWUL, Wonogiri

MINGGU pagi yang cerah puluhan pedagang di Pasar Doplang yang berada di Dusun Kembar, Desa Pandan, Kecamatan Slogohimo sudah menggelar dagangannya. Aneka kuliner tradisional seperti tiwul, pepes, grontol, nasi jagung dijajakan oleh para pedagang yang sebagian besar adalah warga dusun setempat. Lokasinya berada di kebun jati dusun setempat.

“Pasar ini berdiri sejak November 2018 lalu. Awalnya hanya di halaman rumah saya, tapi karena tidak muat, lalu pindah ke jalan. Ternyata animo masyarakat makin besar. Akhirnya pindah ke kebun jati ini,” kata penggagas Pasar Doplang, Lilis Endang Hardiyanti.

Awal mula berdirinya pasar ini berangkat dari keinginan masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan, selain dari aktivitas bertani. Kemudian, dibuatlah pasar yang mengusung tema makanan tradisional.

“Bukan hanya makanan yang tradisional. Di pasar ini juga wajib berbahasa Jawa. Alat pembayarannya dengan koin yang terbuat dari kayu,” katanya.

Benar saja, pengunjung harus menukarkan uangnya dahulu ke lurah pasar. Koin tersebut terbuat dari batang jati bulat yang dipotong tipis. Kemudian ditulisi angka-angka seperti angka 2 untuk Rp 2000, angka 5 untuk Rp 5000, angka 10 untuk Rp 10.000 dan seterusnya. Pembeli bisa membeli makanan atau jajanan dengan koin itu, termasuk pedagang pun akan menukarkan koin yang diperolehnya.

“Minggu ini omzetnya Rp 10 juta lebih. Untuk omzet masing-masing pedagang bervariasi sesuai kemampuan. Yang dagangannya sedikit bisa dapat Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu. Tapi kalau dagangan mereka banyak bisa sampai Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu,” terangnya.

Yang unik lagi, di pasar ini tidak ada plastik. Semua makanan dibungkus atau disajikan dengan barang yang bisa di daur ulang. Bahkan untuk wadah makanan atau jajanan, juga tidak memakai wadah plastik, tapi menggunakan aneka anyaman bambu, gerabah dan lainnya.

“Kami berupaya tidak ada plastik. Bungkus ya pakai daun pisang atau daun jati. Penyajian bisa pakai kendi, gerabah, tumbu, bambu dan lainnya. Wadah-wadah yang serba tradisional,” kisahnya.

Saat ini sudah ada 33 pedagang dari beberapa RT di sekitarnya. Namun mereka mengutamakan dari warga Desa Pandan. Para pengunjung setiap pekan semakin meningkat. Bahkan, pekan ini sampai kekurangan koin. Akhirnya pengelola terpaksa meminjam koin dari para pedagang.

“Ke depan bukan hanya kuliner, tapi ada pakaian juga. Tapi tetap tidak ada plastik. Mulai dari hangernya, atau bungkusnya tidak boleh plastik,” katanya. 

Edukasi tanpa plastik ini digagas karena adanya keinginan untuk kembali ke alam. Upaya ini juga sekaligus untuk mengurangi sampah plastik yang tidak bisa diurai dan terus bertambah setiap hari. (*/bun)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia