Kamis, 23 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Klaten

Banjir Lahir Dingin Merapi Ancam Penambang Kali Woro

24 Januari 2019, 07: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Puncak Gunung Merapi diselimuti awan putih kemarin pagi usai malamnya diguyur hujan deras.

Puncak Gunung Merapi diselimuti awan putih kemarin pagi usai malamnya diguyur hujan deras. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Curah hujan tinggi di Klaten dan sekitarnya menjadi ancaman. Khususnya bagi penambang manual di Kali Woro. Karena berpotensi menimbulkan banjir lahar dingin dari Gunung Merapi. Para penambang diminta segera meninggalkan sungai ketika terjadi hujan deras agar tidak jatuh korban.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten Nur Tjahjono Suharto mengatakan, berdasarkan data yang dirilis oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Geologi (BPPTKG) Jogjakarta, potensi terjadinya lahar dingin memang masih kecil. Namun ketika terjadi hujan deras tetap rawan terjadi banjir.

“Selama ini guguran lava pijar lebih mengarah ke Kali Gendol. Sedangkan untuk material di puncak Merapi pertumbuhan masih kecil jika dibandingkan 2010 dan 2006, sehingga potensi banjir lahar dingin melewati Kali Woro masih kecil juga,” jelas Nur Tjahjono Suharto, Rabu (23/1).

Nur Tjahjanto menambahkan, meski potensi banjir lahar dingin masih kecil, tetapi kesiapsiagaan tetap dibutuhkan karena terakhir kali terjadi pada 2014. Pada saat itu banjir lahar dingin terjadi dari sisa material pada erupsi Merapi 2010 memenuhi Kali Woro hingga terdorong di Desa Barukan, Kecamatan Manisrenggo. Karena itu ini tetap harus diwaspadai.

Pihaknya juga terus berulang kali mengimbau kepada para penambang manual di sepanjang Kali Woro. Terutama saat bekerja untuk lebih mengutamakan keselamatan diri dikarenakan tanah labil pada musim penghujan kali ini.  Maka itu pihaknya meminta para penambang meningkatkan kewaspadaannya.

“Terkait banjir lahar dingin setiap desa telah memiliki SOP tersendiri. Ada relawan siaga mengamati di sekitar sungai. Ketika ada curah hujan tinggi di puncak Merapi dan potensi banjir lahar dingin biasanya langsung memberitahukan kepada para penambang manual,” jelasnya.

Koordinasi antara relawan dengan penambang manual sudah terjalin cukup intens. Terlebih lagi para penambang sudah mengetahui tanda-tanda akan datangnya banjir lahar dingin. Tetapi faktor utama yang membuat banjir lahar dingin terjadi adalah curah hujan yang tinggi.

Berdasarkan data dari BPPTKG Jogja, volume kubah saat ini mencapai 453 ribu meter kubik  dengan pertumbuhan 2.300 meter kubik. Menurut Nur pertumbuhan kubah lava terbilang kecil dibandingkan 2010. Pasalnya, saat itu pertumbuhan bisa mencapai 20 ribu meter kubik.

“Soal ancaman banjir lahar dingin sudah kita tanyakan kepada BPPTKG. Mereka bilang kalau potensinya masih sangat kecil. Tetapi kita tetap meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsigaan,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu relawan asal Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Jack Jenarto mengungkapkan para penambang manual telah dibekali pemahaman tanda-tanda datangnya banjir lahar dingin. Mengingat sebagaian penambang juga merupakan para relawan desa setempat.

“Kalau Kali Woro sendiri belum terjadi banjir lahar dingin. Tetapi sebagaian penambang sudah paham karena rata-rata setiap kelompok penambang tergabung menjadi relawan,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, jika kegiatan penambangan hanya setengah hari sehingga pada saat sore hari tidak melakukan penambangan. Termasuk ketika hujan para penambang manual menghentikan seluruh aktivitasnya.

Kaur Perencanaan Desa Balerante Jainu menambahkan, jika ada relawan yang disiapkan untuk melakukan pengamatan di sepanjang Kali Woro. Apabila ada potensi banjir lahar dingin langsung dikoordinasikan kepada para penambang. “Intensitas hujan masih sedang. Saya kira terkait banjir lahar dingin mereka justru lebih paham terkait apa yang harus dilakukan,” ucapnya. (ren/bun)

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia